
"Mas! Bolehkan buatkan bumbu lutis ini setiap hari untukku!" pekik Zena saat suaminya melamun.
"Emm ... aku sibuk sayang, aku tidak bisa membuatkan makanan seperti ini setiap hari," jawab Steven memasang senyum terpaksanya.
Kecurigaan Rio semakin menjadi saat melihat senyum kaku dari Ayah nya, "Dad! apa ini bukan buatan Daddy?"
"Mengaku saja Dad!" tanya Rio memasukan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Rio! sejak kapan Daddy berbohong hem?"
"Ini buatan Daddy. Sekarang lebih baik kita pulang, hari hampir petang," titah Steven mengulurkan tangan untuk istrinya berdiri.
"Sudah cukup aku di permalukan seperti ini, bagaimana jika ada rekan kerjaku yang melihatku di sini. Bisa-bisa mereka mengatakan jika aku ganti profesi," gumam Steven kesal dalam hati, dia melirik sekilas pada anaknya yang menyebalkan.
"Kita bayar dulu Mas," titah Zena mendapat gelengan dari Steven.
"Aku sudah membayarnya. Dan sekarang kita pulang," ujar Steven.
"Tapi Mas, ini belum habis...,"
"Aku habiskan dulu, Jeff dan sekertaris Nanda tolong bantu aku menghabiskan lutis ini," titah Zena yang mendapat respon cepat dari kedua pria tersebut.
"Baik Nyonya, dengan senang hati kita menghabiskannya," ujar Jeff mengambil piring ditangan Zena.
Setelah menunggu 10 menit, akhirnya Jeff dan juga sekertaris Nanda telah menghabiskan sisa lutis itu.
Di saat semuanya akan beranjak pergi, tiba-tiba pedagang lutis datang dan memberikan sisa kembalian serta satu kantong plastik kecil kepada Steven.
"Pak!" titah pedagang itu membuat semua orang yang melangkah langsung menghentikan langakahnya.
"Ini, saya ingin memberikan kembali dan--" ucapannya terhenti saat Steven menimpalinya dengan cepat.
"Sayang, lebih baik kamu masuk mobil dengan Jeff dan sekertaris Nanda. Aku ada urusan sebentar dengan pedagang ini," ujar Steven saat melihat kantong plastik kecil yang isinya bumbu buatannya.
"Ta-tapi Mas, memangnya urusan apa sih?"
"Biar aku tunggu di sini," jawab Zena berusaha mendudukan dirinya lagi.
__ADS_1
"Eh, jangan!" cegah Steven.
"Jeff, tolong antarkan istriku ke mobil," Sambung Steven lagi.
"Pak, saya hanya ingin memberikan bu--" ucapannya terhenti lagi saat Steven menatapnya dengan tajam.
"Memberikan apa Pak?" tanya Zena penasaran.
"Oh, tidak apa-apa sayang, bapak ini hanya ingin memberikan kembalian uang tadi, iya kan Pak!" tekan Steven saat mengatakan kembalian kepada pedagang itu.
Melihat tatapan tajam dari pembeli, pedagang itu menganggukan kepalanya.
"Iya neng, saya ingin memberikan kembalian kepada suami neng," ujar pedagang kepada Zena.
"Oh gitu Pak," jawab Zena menganggukan kepalanya.
"Ya sudah Mas, aku kembali ke mobil bersama lainnya. Biar aku tunggu di mobil saja," titah Zena beranjak pergi di ikuti sekertaris dan Jeff di belakangnya.
Saat melihat kepergian istrinya, Steven menghembuskan nafasnya lega. Lalu dia menghampiri pedagang itu.
"Ini Pak, saya mau memberikan bumbu buatan Bapak. Kata Bapak, bumbu ini akan di bawa pulang, jadi saya fikir ... bapak lupa," ujar pedagang itu membuat Steven melirik kepada istrinya yang sudah berjalan jauh. Tapi di saat Steven melihat istrinya, dia mencari satu sosok yang sedari tadi merusak moodnya.
"Dad! Daddy mencariku?" tanya Rio mengagetkan Steven, dia mencari sumber suara anaknya.
"Aku di sini Dad!" sambung Rio lagi.
Melihat Rio sedang duduk tak jauh darinya, membuat Steven menghembuskan nafasnya kasar.
"Rio, Daddy minta tolong rahasiakan ini semua pada mommy!" titah Steven yang mengambil bumbu buatannya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Daddy bohong, katanya Daddy tidak pernah berbohong. Tapi kenapa Daddy bohong kepada mommy, kasihan mommy,"
"Pantas, bumbu yang Rio makan halus dan berbeda warnanya dari bumbu buatan Daddy!" ujar Rio beranjak dan menghampiri Ayah nya.
"Jika Rio mau merahasiakan ini dari mommy, Daddy janji, Daddy akan mengabulkan permintaan Rio," tawar Steven
"Rio tidak mau Dad!" tolak Rio dengan senyum mengejeknya.
__ADS_1
"Rio akan beritahu mommy masalah ini," sambungnya lagi yang mulai berjalan menjauhi Steven.
"Rio! tunggu Daddy sayang!" panggil Steven saat anaknya pergi.
"Awas saja kau! karenamu, putraku tahu ...," ujar Steven mendelik kepada pedagang itu dan berlari mengejar anaknya Rio.
"Rio! tunggu Daddy!" pekik Steven lagi.
Di saat Steven sudah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan anaknya, dia berusaha merayu anaknya dengan berbagai cara, "Sayang Rio, Daddy baru saja melihat mainan mobil-mobilan dengan remot. Dan itu sangat bagus, jika Rio mau membungkam mulut Rio, Daddy janji ... Daddy akan memberikan mainan itu untuk Rio," tawar Steven, dia tersenyum lebar saat putranya menghentikan langkah.
"Daddy, Rio tidak mau! Rio sudah besar! tapi Rio bisa jaga rahasia, asalkan--"
"Asalkan apa? Daddy janji akan mengabulkan semua permintaanmu," ujar Steven lagi.
"Asalkan Rio bisa tidur dengan mommy, Rio juga ingin merasakan tidur dengan mommy. Teman-teman Rio banyak yang tidur dengan ibunya, tapi kenapa Rio tidak pernah," ucap Rio membuat Steven menggelengkan kepalanya.
"Rio sudah besar!" ketus Steven, berjalan mendahului anaknya.
"Rio masih kecil!"
"Umur Rio baru 7 tahun!" pekik Rio saat Ayahnya meninggalkannya.
"Ya sudah, Rio akan bicarakan ini pada mommy!" sambungnya lagi membuat Steven menghentikan langkahnya.
"Rio sayang--" ucapanya terhenti saat Zena memanggilnya keras.
"Mas! Rio! ayo masuk, aku lelah!"
"Jangan berdebat terus!" pekik Zena membuat Rio berlari menuju mommy nya.
"Mom, buka pintunya," titah Rio saat sudah di depan mobilnya.
"Mom buka, aku harus bicara dengan mommy," sambungnya lagi membuat Zena membukakan pintu untuknya.
"Ada apa sayang?" tanya Zena saat pintu mobil sudah dibuka.
Bersambungš
__ADS_1