Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 103_Diam-Diam / Terang-Terangan


__ADS_3

Sesampainya di kamar mandi, Vera langsung menumpahkan isi perutnya di wastafel.


"Aku kenapa ya, akhir-akhir ini tubuhku lemas. Dan di mana kamu Put, aku merindukanmu," gumam Vera mengingat kekasihnya yang sudah hampir sebulan tidak ada kabar.


"Ayah, Ibu, Adit, kenapa kalian tidak membawaku pergi bersama kalian hiks... hiks... kenapa kalian pergi bertiga," sambungnya lagi yang menghapus air matanya mengalir di pipi.


Merasa sudah tenang, Vera langsung keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan Zena.


"Kak Zen, aku akan menganggapmu sebagai kakak ku, jika kak Zen mau membawaku pulang ke rumah, aku tidak mau di sini" gumam Vera, dia berjalan mencari keberadaan Zena di ruang tamu yang baru saja Dave gunakan untuk ijab.


"Kenapa sepi seperti tidak ada orang, kemana semua orang, dan kemana kak Zen," sambungnya lagi.


Melihat bibi melintas memasuki dapur, Vera segera berlari mengejar Bibi, "Bi ...," panggil Vera pada ketua pelayan yang bernama Tati.


Bi Tati menoleh ke arah sumber suara, "Iya Nyonya .. ," jawabnya sambil menghentikan langkahnya memasuki dapur.


"Di mana Kak Zena, Bi," tanya Vera saat sudah di dekat Bibi.


"Non Zena bersama suaminya sudah kembali. Mereka bilang hari ini akan melakukan penerbangan ke Indonesia," jawab Bibi tersenyum lalu kembali berjalan menuju dapur.


"Deg!"


"Ke-kembali, mereka kembali ke Indonesia tanpa mengajakku," gumam Vera meremas gaun pernikahannya.


***


Di dalam mobil yang ditumpangi Steven, tak henti-hentinya Steven membersihkan sisa air mata yang mengalir di pipi cantik istrinya.


"Sudah sayang, jangan menangis terus," titah Steven yang membuang tissue kedalam tempat sampah.


"Mas, kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok ibu,"


"Memang aku tidak pernah tahu, tapi aku pernah kehilangan sosok Ayah dan kakaku," ujar Steven mengusap pundak istrinya.


"Rasanya sangat menyakitkan, kehilangan dua orang yang kita sayangi sekaligus,"


"Ta-tapi saat aku melihat Rio dan Ibu, aku seperti mempunyai kekuatan baru untuk melewati hari-hariku," curhat Steven, dia mengingat masa lalunya yang kelam.


Zena menghentikan tangisannya, dia menatap suaminya yang sedang menatap lurus ke depan.


"Kamu punya kakak Mas," tanya Zena tak percaya, dia fikir Steven anak tunggal.

__ADS_1


"Iya, tapi aku dan ibuku menutupi semuanya. Ibuku berbicara pada semua orang jika aku anak tunggal,"


"Kenapa?" tanya Zena semakin penasaran.


"Karena kakaku sudah meninggal, dan Rio tidak boleh mengetahuinya. Aku tidak mau Rio terluka,"


"Apa maksudmu Mas, aku tidak mengerti sama sekali dengan ucapanmu,"


"Sebenarnya Rio anakmu kan?" ujar Zena lagi.


Steven menggelengkan kepala, "Dia bukan anakku, aku baru akan mempunyai anak darimu. Maka dari itu, aku sangat mengharapkan anak yang ada di dalam kandunganmu," jawab Steven membuat Zena tertegun.


"Deg!"


"A-apa, Rio bukan anakmu," ulang Zena tak percaya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Iya, dia anak dari kakakku, yang sudah dibunuh oleh Riski, pria yang telah menculik dan memaksamu menikah," jawab Steven dengan meremas jarinya erat.


Lagi dan lagi, Zena membulatkan matanya. Dia benar-benar shock dengan ucapan suaminya.


"Ka-kamu tidak becanda kan Mas, kamu tidak mengenal Mas Riski, Mas,"


"Jangan becanda, ini tidak lucu Mas," ujar Zena menggelengkan kepalanya.


"Kau, kenapa kau tahu,"


"Sebenarnya ada apa, apa kalian mempunyai dendam atau kalian--" ucapan Zena yang terhenti saat Steven menariknya kedalam pelukan.


"Tidak ada apa-apa, aku pun tidak tahu, mungkin masalalu mereka kurang baik," jawab Steven bohong, dia tidak mau mengungkit masa lalunya lagi. Bagi Steven, melihat Riski koma pun sudah cukup.


Dia tidak menginginkan kematian dari Riski, melainkan menginginkan penderitaan dari Riski sampai ajal menjemputnya.


"Tidak, aku rasa kalian berdua mengetahui sesuatu, cepat katakan,"


"Mas, katakan Mas, aku tahu Mas Steven menyembunyikan sesuatu dari aku," ujar Zena serius, dia menarik tubuhnya dari suaminya.


"Serius, aku tidak menyembunyikan apapun darimu sayang,"


"Bohong Mas, aku tidak percaya denganmu,"


"Ya sudah, aku akan menghubungi Nanda untuk menjemput kita di Bandara jakarta," ujar Steven mengalihkan pembicaraan, dia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Jeff, berceritalah, kita kan teman ...," rayu Zena, dia mengedipkan berulangkali matanya, agar Jeff mau menceritakan semuanya yang terjadi.


Jeff mulai berbicara, tapi setelah melihat tatapan tajam Tuan nya yang terlihat mengerikan, Jeff langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak Nyonya, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya mendengar sekilas cerita dari sekertaris Nanda, jika anda ingin mengetahui lebih lanjut, maka mintalah penjelasan pada sekertaris Nanda," jawab Jeff pada istri Tuan nya.


"Sekertaris Nanda," gumam Zena.


"Baiklah, setelah sampai. Aku akan menginterogasi sekertaris gadungan itu, dan bagaimana kabar selingkuhan Mas Steven, Jeff, dia baik-baik kan?" tanya Zena membuat Steven tersedak air liurnya sendiri.


Uhuk... uhuk...,


"Sayang, kamu berbicara apa. Dia bukan selingkuhanku," ujar Steven meraih tangan istrinya.


"Jeff, bagaimana ...," tanya Zena lagi yang mengabaikan ucapan suaminya.


"Emm, tanyakan sendiri pada Tuan, Nyonya. Saya tidak tahu keadaan Nona Sheila,"


"Pasti Tuan mu itu tidak mau bercerita, kau tahu sendiri kan, Tuan mu hanya ingin menang sendiri!" jawab Zena mengambil air minum dan meminumnya.


"Sayang--" ucapannya terhenti saat Zena menimpali cepat.


"Awas saja ya Mas, aku sudah memberikan kesempatan kedua untukmu, jika setelah ini kamu masih bertemu dengan selebgram gadungan itu, aku akan benar-benar pergi dari hidupmu dan membawa anakmu ini!" gertak Zena, dia menarik tangannya yang di pegang oleh Steven.


Steven tertegun. Dia benar-benar shock dengan ucapan istrinya, "Tidak sayang, aku tidak akan menemui Sheila lagi di belakang mu," rayu Steven yang menarik kembali tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Jeff, kau ingat baik-baik, jika Tuan mu mengingkari janjinya, kita akan bunuh bersama-sama," titah Zena yang diangguki Jeff.


"Siap Nyonya, tapi Nyonya ada yang kurang," ujar Jeff membuat Steven dan Zena mengerutkan keningnya.


"Apa Jeff, apa suamiku mempunyai selingkuhan lagi selain Sheila?" tanya Zena yang mendapat gelengan dari Steven.


"Mana mungkin aku--"


"Hust, diam Mas, aku tidak menyuruhmu bicara," timpal Zena cepat, membuat Steven mau tak mau terdiam.


"Cepat katakan Jeff, siapa saja selingkuhan Mas Steven," tanya Zena penasaran.


"Tuan Steven tidak memiliki kekasih selain Nona Sheila. Tapi Nyonya ... tadi kan Nyonya berbicara. Jika kita akan membunuh Tuan kalau Tuan masih menemui Nona Sheila diam-diam," jawab Jeff yang diangguki Zena.


"Terus, apa kesalahanku Jeff?" tanya Zena penasaran.

__ADS_1


"Jika Tuan menemui Nona Sheila secara diam-diam kita hukum mati. Lalu apa kabar, jika Tuan menemui Nona Sheila secara terang-terangan seperti yang biasa dilakukan Tuan pada Nyonya, apa perlu kita penggal hidup-hidup?" ujar Jeff terkikik dalam hati saat melihat ekspresi Steven.


Bersambung😘


__ADS_2