
"Percaya padaku, aku sangat mencintaimu sayang. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan dirimu di dalam hatiku," rayu Steven mengecup pucuk kepala istrinya.
"Bohong, kamu bohong Mas. Jika tidak ada yang bisa menggantikan diriku di hatimu, kenapa kamu tidak menceritakan pertemuanmu dengannya?"
"Aku hanya ingin menjaga kesehatanmu sayang, jika aku menceritakan padamu, apa kamu bisa menjamin untuk tidak memikirkannya? Tidak kan?" ujar Steven tersenyum.
"Yakin itu alesanmu Mas? Tidak ada udang di balik batu kan Mas?" tuduh Zena melepas pelukan suaminya.
"Yakin sayang, ya sudah ... sekarang kita pulang, dan usir wanita itu. Aku juga sudah muak dengan sikapnya," ajak Steven menancapkan gasnya lagi.
"Jangan diusir Mas, biarkan saja. Jika kalian tidak ada apa-apa, maka biar aku yang mengurusnya."
"Tapi sayang, aku takut kamu--"
"Jangan takut, aku akan menghadapi wanita ular itu dengan caraku sendiri Mas," jawab Zena tersenyum manis, tangannya meninju udara sambil membayangkan wajah mantan istri suaminya.
"Aku bersyukur mempunyai istri sepertimu, walaupun kadang suka nyebelin tapi gemesin kalau lagi marah, sampai-sampai darahku hampir naik," ujar Steven tanpa sadar menyindir istrinya.
"Kamu ngomong apa Mas! Kamu bilang kalau aku menyebalkan!"
"Tidak sayang, aku becanda."
"Bercanda bagaimana Mas? Itu menurutku, ucapanmu tulus dari hati, bukan becanda!"
"Maaf sayang, serius ... aku bercanda sayang."
"Mas ...," panggil Zena, "Mas tampan deh," sambungnya lagi.
"Aku mencium bau-bau aneh saat mendengar ucapanmu, sayang," ujar Steven menatap sekilas istrinya.
"Serius, Mas tampan. Bahkan saat aku pertama kali melihatmu, aku tidak percaya, bahwa kamu seorang duda. Betapa kuatnya pesona ketampananmu Mas," ujar Zena membayangkan hari pertamanya bertemu Steven.
"Aku tidak percaya, istriku memujiku seperti ini."
"Ihh serius Mas, tapi ... ketampananmu hilang, saat--"
"Saat apa? Berarti aku sudah tidak tampan?" timpal Steven langsung mengaca lewat kaca spionnya.
"Iya, kamu sekarang sudah tua Mas, tidak tampan lagi," jawab Zena terkikik saat melihat ekspresi suaminya.
"Mas, jika mau ketampananmu kembali, maka belikan aku makanan yang manis-manis."
__ADS_1
"Mas kan baik, suami idaman, suami perhatian dan selalu peka," ujar Zena cengengesan.
***
"Kak Al, kenapa kemari?" tanya Irma saat melihat Kakaknya masuk ke ruangan prakteknya.
"Tumben panggilnya Kakak, biasanya juga Mas," sindir Al meletakkan bingkisan makanan untuk adiknya, "Kenapa? Kata Ibu, sikapmu menjadi berubah," sambungnya lagi.
"Tidak Mas, sejak kapan Ibu bicara seperti itu?"
"Sikapku tidak berubah, mungkin ... karena aku kecapean Mas," jawab Irma membuka bingkisan makanan yang diberikan Kakaknya.
"Sudahlah Ir, jika terbiasa memanggilku dengan sebutan Mas, kenapa harus berubah menjadi Kakak? Jadinya, Mas bingung," ujar Al , "Oh iya, Mas mau tanya? Kamu kenal dia dari mana?" tanya Al membuat Irma yang mencicipi kue dari Kakaknya tersedak.
Uhhukk ...
"Dia, siapa Mas?" jawab Irma berpura-pura.
"Laki-laki yang menjadi musuhku! Aku tidak mau, kamu dekat dengan laki-laki sepertinya. Dia tidak baik, bahkan ... kemungkinan besar, dia hanya memanfaatkanmu saja," ucap Al.
"Oh ... aku dan dia tidak saling mengenal Mas, hanya kebetulan bertemu saja. Mas tidak perlu khawatir, karena menurutku, dia pria yang baik," jawab Irma.
"Pria baik? Pria baik, tidak akan membunuh Ir!"
"Iya, lebih tepatnya, dia pembunuh bayaran. Kakak tidak mau, kamu menjadi korban selanjutnya, makanya Kakak sangat membencinya," ucap Al mengambil kue yang terjatuh oleh adiknya dan membuangnya di tempat sampah.
"Mas Al juga begitu? Mas Al pembunuh bayaran juga?" tanya Irma.
"Siapa yang memberitahumu? Aku bekerja menjadi sekertaris di perusahaan terkenal, dan kau tahu itu Ir! Pasti dia yang sudah berbicara dan menghasutmu kan? " jawab Al tidak terima.
"Bukan Mas, jangan salahkan dia. Aku yang menebaknya sendiri. Bagaimana Mas Al bisa mengenalnya? Sedangkan profesi kalian berbeda?"
"Itu tidak penting. Mulai sekarang, jauhi dia ... kau mau menjadi korban selanjutnya?" tanya Al yang mendapat gelengan dari Irma.
"Tidak Mas, aku belum mau mati," jawab Irma cepat, 'Tapi, aku juga tidak percaya dengan ucapanmu Mas, aku melihat Mas Jeff tidak seperti itu. Dia pria baik yang selalu menghiburku,' batin Irma.
"Kau tidak percaya dengan Mas, Ir?" tanya Al saat melihat keraguan di raut wajah adiknya, "Jika kamu tidak percaya--"
"Aku percaya Mas, aku percaya. Aku hanya shock saja, aku tidak melihat sisi mengerikan dari dirinya," timpal Irma cepat.
"Hahaha ... memangnya sudah berapa lama kamu mengenalnya, Ir?" tanya Al sambil terkekeh.
__ADS_1
"Emm--"
'Jika aku memberitahukan kedekatanku dengan Mas Jeff selama ini, pasti Mas Al akan marah, lebih baik, aku jangan mengaku,' batin Irma.
"Emm ... belum lama Mas, mungkin karena itu ... aku belum bisa melihat sikap aslinya," jawab Irma tersenyum.
"Sekarang, turuti semua perintah Mas. Jangan pernah dekat dengan pria semacamnya. Atau ... Mas, tidak akan merestui hubungan kalian. Biar saja, Mas egois. Asalkan adik Mas tidak salah memilih jodoh," ujar Al.
"Tapi, jika dia jodohku bagaimana Mas? Apa ... Mas tetap tidak merestuiku? Dan tidak mau menjadi wali untukku?" tanya Irma menghentikan langkah Al.
"Kalian berbeda keyakinan, lebih baik ... lupakan dia!"
"Karena ... sampai kapanpun, kalian tidak berjodoh!"
"Mas, akan carikan jodoh untukmu. Seperti dokter Riyan, Mas menyukainya," ucap Al.
"Tidak Mas, aku tidak mau," ketus Irma, "Lebih baik, Mas pergi."
"Kamu berani mengusir Mas?"
"Tidak Mas, aku tidak mengusirmu. Aku lelah, aku mau beristirahat," jawab Irma mengambil kue dan memakannya.
"Sebelum Mas pergi, Mas ingatkan lagi ... jika Mas masih melihatmu dekat dengan pria semacam itu, maka ... Mas sendiri yang akan menghajar dan menjodohkan mu dengan pria lain," ancam Al berjalan keluar ruangan adiknya.
"Mas tidak bisa mengatur hidupku. Aku berhak bahagia bersama pria yang aku cintai!" pekik Irma yang diabaikan Al, "Mas!"
Brakkk ...
"Aku tidak percaya, adikku mencintai pria sepertinya," gumam Al berjalan menuju parkiran rumah sakit.
"Awas saja, jika aku melihat pria brengsseekk itu masih mendekati adikku. Aku akan menghabisinya," gumam Al merogoh saku celananya dan menghubungi rekan kerja adiknya.
"Hallo Riyan, tolong tenangkan Irma. Aku dan dia sedang bertengkar," ujar Al saat panggilannya sudah terhubung.
"Bertengkar? Baiklah, aku akan menghiburnya setelah aku selesai memeriksa pasienku," jawab Riyan.
"Terimakasih," Al mengakhiri panggilannya dan masuk ke mobilnya.
Di dalam ruangan prakteknya, Irma menggerutu tidak jelas. Dia tidak menyangka, akan mendapatkan sikap posesif dari Kakaknya.
"Aku tidak mau hidupku diatur oleh Mas Al, aku juga berhak bahagia, aku sudah dewasa, dan aku berhak mengambil keputusan untuk hidupku sendiri."
__ADS_1
Bersambungš