
"Aku bisa pulang sendiri. Lagian aku tidak betah, tinggal berlama-lama di sini. Rumahnya saja yang besar, tapi penghuninya tidak mempunyai perasaan semua," ketus Dinda bangkit dari tempat duduknya, "Siapkan aku pakaian ganti, aku tidak mau pulang dengan pakaian yang sama," sambungnya lagi lalu berjalan menuju kamarnya.
"Hei, apa-apa--"
"Sudah Mas, aku sudah menyiapkan pakaian untuknya. Sekarang kamu makan dan antar Rio sekolah. Ngomong-ngomong, Rio di mana Mas? Dari tadi, aku belum melihatnya," tanya Zena.
"Aku di sini Mom, aku kesiangan karena--"
"Karena apa sayang? Bermain game?" tanya Zena melambaikan tangannya pada putra tirinya yang semakin hari tumbuh menjadi sosok yang tampan.
"Tidak Mom."
"Awas kalau Daddy lihat Rio begadang karena game online, Daddy tidak segan-segan menghukum Rio, Daddy akan menyita iPad dan tidak memberikan uang jajan Rio selama seminggu," ancam Steven setelah anaknya duduk di depannya.
"Tidak, Dad, aku tidak bermain game online," jawab Rio gugup.
'Anak ini, semakin hari, semakin pandai berbohong,' batin Zena menggelengkan kepalanya pelan. Semalam Zena yang tidak bisa tertidur karena memikirkan mantan istri suaminya yang akan menggoda suaminya pun mengurungkan dirinya untuk tidak tertidur.
Dan di saat, dia ingin mengambil minum di dapur, Zena tidak sengaja mendengar suara dari dalam kamar anaknya, Rio. Dengan perlahan Zena membuka pintu dan mengintip anaknya sedang bermain game online.
Di saat Zena ingin menegur Rio, tiba-tiba pikiran suaminya akan digoda oleh pelakor itu pun terlintas di otaknya membuatnya tidak jadi menegur Rio dan berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa mata Rio, seperti mata panda? Apa semalam, Rio tidak bisa tidur?" tanya Zena meletakkan roti selai kacang di piring putranya.
"Iya- Eh tidak, Mom. Tidurku nyenyak, memang mataku seperti apa?" tanya Rio mengeluarkan iPad nya.
"Berikan iPad itu pada Daddy," titah Steven, tangannya menengadah meminta benda pipih berukuran standar yang di pegang oleh putranya.
"Untuk apa Dad? Daddy sudah punya, ini punya Rio," ucap Rio menyembunyikan iPad miliknya, 'Aku tidak mau, Daddy melihat iPad ku yang dipenuhi dengan game online ku,' batin Rio kemudian memasukkan iPad nya ke dalam tas.
"Sejak kapan, guru di sekolah memperbolehkan muridnya membawa benda itu?" tanya Steven mulai curiga. Baru beberapa hari tidak mengecek iPad putranya, tapi putranya sudah menampilkan gerak gerik mencurigakan.
"Berikan pada Daddy, atau Daddy akan meminta Om Nanda untuk memblok dan mengubah kata sandi iPad mu."
Mata Zena melotot, dia mengusap punggung suaminya untuk tenang, "Mas, jangan seperti ini. Kamu membuatnya takut," ucap Zena.
"Rio, sekarang Rio makan dan setelah itu, Daddy akan mengantarkan mu ke sekolah," titah Zena menuangkan segelas susu untuk putranya.
"Iya Mom, di mana Om Jack?" tanya Rio memotong roti dan memasukkannya ke dalam mulut, "Rio mau diantar Om Jack saja, Mom," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Om Jack sedang tidur. Dia sedang tidak enak badan. Untuk kali ini, Rio di antar Daddy," jawab Zena menatap gerak gerik Rio yang mencurigakan.
"Oh."
Setelah selesai sarapan pagi, Rio berpamitan pada Zena dan calon adiknya yang berada di dalam perut Zena, tidak lupa Steven mengecup pucuk kepala istrinya sebelum dia benar-benar pergi mengantarkan Rio dan ke Kantor.
"Aku akan membangunkan Jack, aku akan memerintahkannya untuk menjagamu, sampai Dinda pergi dari rumah ini," ujar Steven, tangannya beralih mengusap perut istrinya yang buncit.
"Tidak usah Mas, jangan merepotkan Jack, biarkan dia beristirahat, aku akan kembali ke kamarku."
***
"Ini tidak benar kan! Semalam tidak terjadi sesuatu antara aku dan dia kan?" gumam Jack frustrasi, "Aku-aku ... aku sudah gila, bagaimana bisa aku--"
"Aaaaa ... ," teriak Jack, tubuhnya benar-benar lemas, "Aku harus bicara apa dengan Jeff, aku tidak mungkin merebut dia dari Jeff," sambungnya lagi.
"Ini tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukan hal itu, aku masih waras, semalam aku tidak mabuk, semalam aku hanya meminum 2 botol saja,"
"Iya, aku tidak mabuk, tidak-tidak ...," gumam Jack menggelengkan kepalanya.
"Aku harus mengingat kejadian malam itu, cepatlah otak. Bagaimana mungkin, aku tidak mengingatnya!" pekik Jack memukul kepalanya sendiri.
***
"Ir bangun, atau Mas akan mendobrak pintu kamarmu," teriaknya lagi.
"Siapa sih! pagi-pagi sudah ribut di luar. Apa dia tidak tahu bahwa--" ucapan Irma terhenti, dia mengingat-ingat kejadian semalam. Matanya melebar sempurna.
"Oh Tuhan, ada apa denganku!" gumam Irma saat melihat beberapa botol wine yang tergeletak di atas meja dekat ranjangnya.
"Di mana Mas Jeff? Kenapa--"
"Ir! Buka pintunya!" pekik Al lagi.
"Iya Mas, tunggu sebentar!" jawab Irma turun dari ranjang dan menyimpan beberapa botol yang sudah kosong di bawah ranjangnya.
"Aduh, bagaimana ini, baunya masih terasa," gumam Irma, setelah itu menyemprotkan parfumnya di seluruh kamarnya.
"Ir, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Al lagi.
__ADS_1
"Mas Al lebih baik tunggu aku di meja makan. Aku mau mandi," teriak Irma.
"Mas tunggu di meja makan. Kita makan bersama."
"Iya Mas."
Setelah tidak mendengar jawaban apapun dari luar kamarnya, Irma segera mengambil ponselnya dan menghubungi pria yang berstatus kekasihnya.
"Hallo Ir?" ucap Jack dari sebrang sana.
"Mas Jeff tidak apa-apa kan? Sekarang Mas Jeff di mana?" tanya Irma cemas, dia takut jika kekasihnya masih di sekitar rumahnya.
"Aku sudah sampai di rumah, tapi--"
"Tapi apa Mas?"
"Kita tidak melakukan apapun semalam kan Ir?" tanya Jack ragu. Dia menutup rapat pintu kamarnya.
"Kita? Sebentar aku ingat-ingat dulu Mas, setahuku--" ucapan Irma terhenti, tangannya bergetar hebat, tubuhnya seakan lemas tidak bertenaga.
"Ini semua mimpi kan Mas? Kita--"
"Aku tidak tahu Ir, semalam kita mabuk kan?" tanya Jack, "Aku tidak ingat dengan jelas, yang aku ingat, hanya kepulangan ibumu, lalu aku keluar lewat jendela kamarmu dan meninggalkan mu yang sedang tertidur," ujar Jack frustrasi.
"A-aku, aku mabuk Mas? Aku tidak pernah mabuk Mas, terakhir aku mabuk, itu sewaktu aku berada di--"
"Aku tidak percaya Mas, aku--" bibir Irma bergetar, air matanya menetes.
"Jangan menangis Ir," ucap Jack saat mendengar isakan tangis wanitanya.
"Bagaimana aku tidak menangis Mas, aku- aku ... hikss ... hikss, aku takut Mas, aku takut. Pasti Mas Al akan marah dan membenciku, pasti dia tidak mau menganggapku sebagai adiknya lagi, aku takut Mas," ujar Irma.
"Tenang Ir, kita belum tentu melakukan itu, kita tunggu sampai--"
"Sampai apa Mas! sampai aku--"
Tokk ...
Tokk ...
__ADS_1
Bersambungš