
"Aaaaa ... terimakasih sayang, aku makin cinta sama kamu Mas," ucap Sheila mengecup ponselnya berulangkali.
Glek,
Riski menelan salivanya susah, ucapannya Sheila membuat dirinya jijik. Apalagi saat Sheila mencium ponselnya sendiri.
"Dasar murahan, bagaimana bisa aku menyukai wanita sepertinya, ya Tuhan, aku mohon ... jangan pernah menakdirkan wanita sepertinya untuk menjadi jodohku," gumam Riski mendudukkan bokongnya di sofa.
Setelah panggilannya berakhir, Sheila berjingkrak-jingkrak di atas kasurnya, dia sangat bahagia saat mendapatkan notif transferan dari Leo.
Yes! Yes! Yes!
"Tuhan memang baik, uangku yang baru saja di makan oleh pria jahat sepertinya, akhirnya di kembalikan berpuluh-puluh kali lipat," pekik Sheila bahagia. Dia turun dan berjalan menuju Riski beruntung kakinya yang terkilir sudah sembuh.
"Sekarang belikan aku makanan, aku lapar," titah Sheila dengan gaya angkuhnya.
Mendengar dan melihat ekspresi angkuh dari Sheila, Riski beranjak pergi meninggalkan wanita itu sendiri di ruangannya.
"Hei mau kemana? Aku ikut!" teriak Sheila mengejar Riski.
Riski menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya agar menghadap Sheila.
"Aaaaa .... " teriak Sheila tidak bisa menghentikan langkahnya mendadak. Dia terjatuh di dalam pelukan Riski.
Riski yang mendapat pelukan dadakan pun terkejut, dia tidak membalas pelukan wanita yang sedang memeluknya.
'Istri Steven beruntung, dia bisa menaklukkan dua pria dingin dan kaku sekaligus. Jika aku tidak bisa mendapatkan Steven, maka aku akan mencoba merebut hati Riski, toh dia tidak jauh berbeda dengan Steven. Dari segi kekayaan, wajah, dan sikapnya hampir sama dengan Steven,' batin Sheila tak ingin melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Lepas bodoh! aku tidak suka tubuhku di peluk wanita murahan sepertimu!" ucap Riski membuat Sheila melepaskan pelukannya.
"Memang siapa yang memelukmu, aku hanya ingin melindungi diriku agar tidak terjatuh ke lantai. Seharusnya kamu sadar, wanita sepertiku tidak mungkin jatuh hati pada pria sepertimu!" jawab Sheila merapihkan pakaian.
Riski tersenyum sinis saat mendengar jawaban Sheila, "Aku tahu, kau kan menyukai pria karena uangnya, walaupun paras pria itu tampan atau tidak, yang ada di otakmu hanyalah uang, uang dan uang. Dasar wanita matre, pria tua seperti Leo pun kau pepet. Memangnya tidak ada pria yang lebih muda dan fresh selain Leo?" ucap Riski.
"Memangnya kenapa? Asalkan dia mempunyai banyak uang. Aku akan menghabiskan hartanya sampai tak tersisa," jawab Sheila bangga sambil berkacak pinggang.
"Ck, wanita murahan yang bangga akan statusnya. Rupanya kau juga bangga saat melayani pria hidung belang karena uang," ejek Riski membuat emosi Sheila muncul.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Riski, "Jaga ucapan mu! ucapan mu bisa melukai hati orang!" pekik Sheila, "Asal kau tahu! Hidup di area kemiskinan itu sangat tidak enak dan menyiksaku! tuntutan dari orang tua untuk kesuksesan anaknya membuat mentalku hancur! Aku hanya butuh dukungan dan dorongan dari mereka! tapi apa... tapi apa yang kudapatkan! tidak ada satupun keluargaku yang mau mendukungku. Mereka semua bilang, kalau aku hanya beban hidupnya," sambung Sheila membuat Riski terdiam, apalagi saat melihat Sheila mengeluarkan air matanya.
"Maaf--" ucapan Riski terhenti saat Sheila menempelkan jarinya di bibir Riski.
"Dan sekarang, setelah aku sukses, setelah aku terkenal. Orang tuaku baru menganggapku sebagai anaknya, mereka mau memperkenalkan aku dengan status putrinya pada semua orang,"
"Maafkan aku, aku tidak tahu. Tapi menurutku caramu salah, seharusnya kamu tidak melakukan cara instant seperti ini yang menjual tubuhmu pada pria hidung belang haus belaian, kamu bisa mencari pekerjaan di perusahaan besar atau tempat-tempat lain," ucap Riski memegang pundak wanita di hadapannya.
"Aku sudah mendapatkan semua dengan cepat, dan aku tidak akan menyesali perbuatanku ini. Lagipula aku hidup membutuhkan uang yang banyak," jawab Sheila menepis tangan Riski, "Aku sangat bahagia," sambungnya lagi sambil tertawa renyah.
"Kebahagiaan untuk sesaat, dan aku jamin ... selama ini kamu tidak pernah merasakan arti kebahagiaan. Aku akui uangmu sangat banyak, tapi ingat, sampai mana jiwa dan ragumu akan bertahan. Belajarlah berubah mulai saat ini. Apa kau tidak ingin dicintai dan mencintai lalu hidup bahagia dengan pasangan yang mencintaimu bukan mencintai tubuhmu itu?" ucap Riski.
Sheila tertawa renyah, air matanya sudah tak lagi menetes, "Aku tidak butuh cinta. Kebahagiaan bisa kita dapatkan dari seberapa banyak uang kita. Aku pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencampakkan ku, sejak saat itu ... aku tidak percaya kata cinta," lirih Sheila berjalan melewati tubuh Riski.
"Karena kamu mencintai orang yang salah, coba saja kamu mencintai orang yang tepat, maka cinta itu indah," ucap Riski menghentikan langkah Sheila.
__ADS_1
"Seharusnya sebelum kamu berbicara, cobalah untuk bercermin. Jika dirimu sudah menemukan pasangan hidupmu maka aku bisa terima setiap saran dan pendapatmu, tapi lihatlah sekarang ... nasib percintaanmu tidak jauh berbeda denganku," jawab Sheila melanjutkan langkahnya.
"Tunggu!" teriak Riski, dia berjalan lalu memegang lengan Sheila, "Berikan kunci rumahmu. Mulai hari ini aku mau pulang," ucap Riski menarik tangannya.
"Lalu aku tinggal di mana bodoh! Bukankah kau dengar sendiri, jika aku berbohong pada pria tua itu!" tanya Sheila kesal, dia melanjutkan langkahnya lagi.
"Berhenti, kau bisa bilang pada Leo jika acara membuat konten itu gagal,"
"Aku tidak bisa," ketus Sheila memutar gagang pintu.
"Tungg--"
"Jangan halangi aku! Aku tidak bisa! Lebih baik ... kau cari pertolongan pada orang lain," ketus Sheila menatap tajam teman prianya.
"Aku ikut denganmu. Kita tinggal bersama di rumah mu," ucap Riski tegas membuat Sheila membulatkan matanya.
"Aku tidak pernah menerima tamu di rumahku, apalagi mengizinkan seorang pria tinggal di rumahku," ketus Sheila membuka pintu ruangan.
Tak sengaja, dokter Riyan melihat Sheila dan Riski keluar dari ruangan mereka,
"Hei! Kalian mau kemana?" tanya dokter Riyan menghampiri Sheila dan Riski.
"Aku akan pulang hari ini," ucap Riski.
"Oh, silahkan ... hati-hati di jalan. Dan semoga selamat sampai rumah," ujar dokter Riyan tersenyum manis, 'Akhirnya bebanku berkurang juga,' batin dokter Riyan tersenyum senang, "Aku tunggu kabar baik dan undangan kalian," sambungnya lagi membuat Riski dan Sheila menghentikan langkahnya.
...Setiap orang tua pasti mempunyai cara tersendiri untuk mendidik putra putrinya. Tapi perlu di ingat, terkadang didikan yang terlalu keras membuat mental dan jiwa putra putrinya hancur. ...
__ADS_1
by : gustikha
Bersambungš