
"Jangan membuatku susah, sebenarnya apa yang ibu rencanakan! " Seru Steven dengan wajah frustasinya "Bahkan aku harus mengeluarkan sejumlah uang untuk kabur darinya dan mempertaruhkan Jack" Sambungnya lagi
Tesa tersenyum lalu menepuk pundak putranya "Kenapa? Kenapa kamu tidak membiarkan Sheila kemari saja? "
"Karna aku tidak mau ibu dan Rio terancam, itu alasanku"
"Ya ibu tahu alasanmu Steve, tapi fikirlah dengan jeli, apa kau bisa merahasiakan Zena selamanya? tidak kan? dan ibu juga berharap Zena akan selalu menjadi menantu ibu"
Steven terpaku "Apa maksud ibu? " Tanyanya lagi
"Kau sudah menaruh hati pada istrimu itu kan? "
"Tidak, aku hanya membutuhkan anak darinya" Elak Steven
"Jangan bohong Steve, selama ibu disini memangnya ibu tidak pernah mengawasimu? Sekertarismu itu memberikan semua informasi tentang hubungan kalian berdua"
"Mana ada pria ketua geng mafia mau membelikan pembalut untuk istrinya, padahal sebelumnya saat kau masih bersama Dinda kau enggan melakukan itu, bahkan untuk berhubungan badan kau pun jarang, tapi kenapa dengan istrimu yang sekarang kau melakukannya setiap hari bahkan sampai dikamar mandi"
Deg..
Ucapan Tesa membuat Steven tersipu malu "Apa ibu memasang CCTV dikamarku!" Tuduh Steven yang menaruh curiga penuh, bagaimana ibunya bisa mengetahui semuanya
"Hentikan pertanyaanmu Steve, yang ibu lakukan ini untuk kebaikan kita semua"
"Kebaikan apa! Justru yang dilakukan ibu ini menyakiti hati istriku, "
"Aku heran saja dengan ibu, bagaimana bisa ibu menemukan gadis seperti Sheila yang mata duitan itu," Ejek Steven
"Haha, apa kau tidak menyukainya, dia cantik Steve, bisa kau jadikan istri keduamu" Ucap Tesa tertawa geli, apalagi melihat ekspresi Steven, Tesa semakin terkikik
***
Siang kini telah berganti malam, dan Zena masih memikirkan bagaimana dirinya menyelusup masuk kedalam ruang kerja suaminya
Tak terasa ponsel Zena bergetar, dia langsung mengambil lalu melihat pesan yang dikirim dari suaminya
"Bagaimana? Apa kondisi rumah aman"
Setelah membaca pesan dari Steven, Zena yang tak berniat membalasnya, dia melempar ponselnya keatas ranjang, lalu dia berjalan menuju kaca besar yang memperlihatkan bangunan gedung yang menjulang tinggi beserta lampu yang meneranginya
"Apa aku bisa mengambil surat itu? Atau aku harus bertahan, tapi hati wanita mana yang tidak sakit saat mengetahui suaminya berlibur bersama wanita lain"
"Apa Sheila tidak punya hati, apa dia tidak tahu rasanya disakiti! Dan apa Steven tidak punya sedikit perasaan padaku! "
"Aku benci keadaan ini, aku dikurung dirumah sebesar ini dan suamiku malah asik berlibur dengan kekasihnya,"
"Dasar buaya! " Maki Zena.
Melihat foto pernikahannya yang dipajang di kamarnya, hati Zena semakin sakit
"Aku harus menjadi wanita kuat, aku harus mencari surat itu dan merobeknya, setelah itu, aku bisa mengakhiri pernikahan ini hiks.. hiks.. " Gumam Zena menghapus air matanya
Dia melangkah dan melihat ponselnya,
"Ada apa bedebah itu telfon aku, apa dia mau memamerkan kemesraannya padaku" Ujar Zena yang membiarkan panggilan dari suaminya
__ADS_1
Drt... Drt... Drt..
Bunyi ponsel yang bergetar sangat menganggu telinga Zena, dia langsung mematikan ponselnya lalu melemparnya ke atas nakas
"Huft, daripada aku harus melihat kemesraan mereka seperti kemarin, lebih baik aku tidur," Gumam Zena yang menaiki ranjang king size nya lalu merebahkan tubuhnya
Di negara lain, Steven sangat cemas saat panggilannya tak dijawab oleh Zena, dia memaki dan melempar ponselnya ke atas ranjang, membuat Sheila yang baru saja keluar dari kamar mandi terheran-heran
"Ada apa denganmu sayang" Sheila melangkah menghampiri Steven yang sedang duduk di ujung ranjang
"Aku lelah, bagaimana perjalananmu dengan Jack, " Ucap Steven mengalihkan pembicaraan
"Sangat menyenangkan sayang, kau tahu, aku membeli banyak barang branded yang aku inginkan, dan itu semua berkat uangmu" Jawab Sheila yang semakin mendekat dan duduk di pangkuan Steven, tangannya dia kalungkan ke leher Steven
"Terimakasih, aku sangat senang menjadi kekasihmu"
"Itu sudah tugasku untuk menyenangkan hatimu"
"Lebih baik sekarang kita pergi temui ibu di restoran dekat hotel, ada seseorang yang akan aku kenalkan padamu"
"Tapi sayang" Sheila menyentuh rahang bawah Steven "Kita belum melakukannya, bukankah kau menyuruhku mandi untuk melakukannya" Ucap Sheila menggoda Steven, ikatan jubah mandi yang melekat ditubuhnya pun perlahan di lepas olehnya sendiri
Steven yang melihat pergerakan tangan Sheila pun membiarkannya, dia juga ingin tahu kenapa tubuhnya tidak bereaksi saat berhadapan dengan tubuh Sheila, padahal jika di fikir-fikir tubuh Sheila hampir sama dengan tubuh istrinya
"Ayo kita lakukan" Ujar Steven membuat Sheila tersenyum senang, diraihnya tangan Steven "Bukalah" Ucap Sheila
"Akhirnya, penantianku akan tercapai, aku akan memiliki Steven dan hartanya" Gumam Sheila dalam hati
Steven langsung merebahkan tubuh Sheila ke ranjangnya, dia berusaha mencium wanita dihadapannya ini
"Maaf shei, aku tidak bisa" Steven bangkit dari atas tubuh Sheila membuat Sheila yang sudah terbawa suasana menjadi kesal
"Aku yang akan memulainya" Seru Sheila menarik tubuh Steven agar jatuh ke pelukannya lalu Sheila memutar tubuhnya agar dia berada diatas tubuh Steven
Steven hanya diam saja, dia menerima setiap sentuhan yang diberikan Sheila,
5 menit sudah Sheila berusaha membangkitkan hasrat Steven, tapi Steven masih diam tak bereaksi
"Sayang" Panggil Sheila yang terlihat pasrah
"Apa kau benar-benar tidak nafssu padaku? "
"Maaf shei, aku tidak bisa! Lihatlah! Juniorku tidak mau berdiri" Ucap Steven yang memperlihatkan senjatanya yang tertutupi celana kainnya
"Apa tubuhku kurang seksi? Apa bagian depanku kurang besar sehingga kau tak berselera padaku"
"Aku tidak tahu shei, yang aku tahu juniorku tidak merespon setiap sentuhanmu"
"Ya sudah" Sheila bangkit lalu berjalan mengambil pakaiannya
Melihat Sheila hilang dibalik pintu kamar mandi, Steven langsung menghubungi sekertarisnya untuk memastikan keadaan istrinya dirumah
"Kau dimana! " Seru Steven saat panggilannya sudah terhubung oleh sekertaris Nanda
"Maaf Tuan saya masih di kantor, dan sebentar lagi saya akan pulang, memang ada apa Tuan?
__ADS_1
"Apa ada masalah? " Tanya sekertaris Nanda yang terlihat cemas karna Tuan mudanya menelfon malam-malam begini
"Cepat kau ke rumahku, dan lihat keadaan Zena, aku telfon tapi tidak diangkat, aku takut terjadi sesuatu padanya" Ucap Steven lirih, karna dia tak mau ucapannya terdengar sampai telinga Sheila
"Ta-tapi Tuan ini sudah malam, dan saya sudah menyuruh Jeff untuk menjaga Nyonya,"
"Malas sekali aku kerumah Tuan, bisa-bisa Nyonya menceramahiku tentang penjagaan di depan kamarnya" Gumam sekertaris Nanda dalam hati, dia mendapat kabar dari jeff tentang maki dan umpatan Zena yang diberikan padanya
"Cepat! Aku tidak mau tahu! Kau harus memfoto keadaan istriku sekarang! "
"Baik Tuan, saya akan menyuruh jeff untuk mengecek istri Anda" Jawab sekertaris Nanda cepat
"Bedebah! Aku menyuruhmu bukan jeff! Kau tahu jika jeff itu mudah baperan, aku tidak mau jeff terlalu dekat dengan istriku, bisa-bisa Zena memanfaatkan jeff untuk bertindak bebas"
"Baiklah Tuan, saya akan kerumah Tuan sekarang" Ucap sekertaris Nanda sambil menghembuskan nafasnya kasar
"Cepat bodoh! Bagaimana jika istriku sedang berada dalam bahaya! "
"Aku tunggu 20 menit, jika kau belum mengirimkan foto istriku, aku akan memotong gajimu 100%"
"Tap- Tut... Tut... " Panggilan sudah diputus oleh Steven, membuat sekertaris Nanda marah dan geram
"Beruntung dia bossku" Gumamnya sambil berjalan keluar menuju parkiran mobil
Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya mobil sekertaris Nanda sudah sampai di halaman rumah Steven
Dari dalam mobil, dia bisa melihat beberapa anak buahnya sedang berjaga di dekat pintu utama
Sekertaris Nanda turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama, melihat asisten bossnya datang, para anak buah itu menunduk memberi hormat
"Selamat malam bos" Ucap beberapa anak buah yang berjaga di dekat pintu
"Hem, dimana Nyonya muda? Kenapa ponselnya tidak aktif? Dan dimana Jeff" Tanya sekertaris Nanda yang berjalan masuk kedalam rumah Steven
Salah satu dari anak buahnya pun berjalan di belakang Nanda "Oh Jeff sedang di mengecek semua ruangan, sebentar lagi dia akan kembali"
"Oh" Jawab Sekertaris Nanda sambil berjalan menuju lift, dia memencet tombol lift tersebut lalu menunggu lift itu terbuka dan masuk
Setelah lift itu mengantarkan Nanda sampai lantai atas, Nanda pun menunggu lift itu membuka dan berjalan keluar
Terlihat dua anak buahnya sedang berjaga di depan pintu kamar Zena "Bagaimana? Apa semuanya aman? " Tanya sekertaris Nanda pada kedua anak buahnya yang berjaga di depan pintu
"Aman, dan Nyonya sedari tadi di kamar"
"Baiklah, kau minggir aku mau menemui Nyonya dulu" Ucap Sekertaris Nanda membuat kedua anak buahnya menepi memberi ruang untuk Sekertaris bosnya
Tok.. Tok.. Tok..
"Nyonya, apa Nyonya sudah tidur? " Tanya sekertaris Nanda sambil mengetuk pintunya
"Sudah! Aku sudah tidur!" Teriak Zena dari dalam kamar
"Nyonya buka pintunya, ada sesuatu yang harus saya bicarakan! "
Bersambungš
__ADS_1