Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 166_Pulang


__ADS_3

"Emm ... "


"Bu-bukan Mas, ini dari teman kerja ku," ucap Irma berbohong.


"Awas saja, jika Mas tahu, kamu masih berkomunikasi dengannya, Mas akan menikahkan kalian berdua secepat mungkin. Dan kamu, Riyan. Seharusnya kamu menjaga hati kekasihmu agar tidak berpaling darimu," ucap Al membuat dokter Riyan tersenyum kecut.


"Jangan diam saja. Setidaknya jawab 'Iya'," bisik Irma mencubit lengan teman prianya.


"I-iya Mas," jawab dokter Riyan sambil menahan rasa sakit karena cubitan wanita di sampingnya.


"Ya sudah, sekarang Mas Al pergi. Kita juga akan bekerja," ucap Irma yang diangguki Al.


"Iya, Mas pergi"


Setelah melihat kepergian Kakaknya, Irma langsung melepaskan rangkulannya dari tangan teman prianya, kemudian menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Hallo Mas, ada apa menelfonku?" tanya Irma menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya.


"Setelah jam kerja selesai, aku mau bertemu denganmu," ucap Jack.


Irma melirik sekilas pria yang masih mematung di sampingnya, "Baik Mas. Ya sudah, aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu. Sampai bertemu nanti," jawab Irma kemudian mematikan panggilannya.


"Kenapa masih di sini? Pergilah, aku mau mulai bekerja," titah Irma membuka satu berkasnya sebelum memanggil pasiennya di luar.


"Kau gila! Apa kau sudah gila. Kau menambah masalah yang seharusnya tidak ada," ujar dokter Riyan yang terlihat kesal.


"Apa maksudmu? Bukankah sudah kewajiban seorang teman membantu temannya yang kesusahan?" tanya Irma mendongakkan wajahnya dan menatap wajah teman prianya yang sedang marah, "Aku traktir makan siang, sebagai tanda terimakasih ku, karena kamu mau membantuku," sambung Irma, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Aku tidak membutuhkan makan siang darimu. Aku masih sanggup untuk membeli makananku sendiri!" ketus dokter Riyan berjalan dan menjatuhkan bokongnya di kursi depan dokter Irma.


"Aku akan membicarakan semuanya pada Kakakmu. Aku tidak suka dengan kebohongan," sambung dokter Riyan.


"Jangan, jangan beritahu Kakakku. Biar aku saja yang memberitahu Kakakku, tapi aku mohon ... aku membutuhkan waktu untuk--"


"Waktu? Kau hanya membuang-buang waktu," timpal dokter Riyan.


Irma menggelengkan kepala, dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, "Aku mohon, kali ini saja."


"Tidak, aku tidak mau," jawab dokter Riyan tegas.

__ADS_1


***


Setelah mengantarkan kepergian mantan istri dari suaminya, pun Zena berjalan menuju ruang tamunya.


Di jatuhkan bokongnya di atas sofa empuknya.


"Maaf Nyonya, saya izin malam ini akan menemui dokter Irma," ucap Jack yang baru saja tiba di belakang Zena.


"Di mana remot TV nya, Jack? Aku mau menonton TV," ujar Zena mencari keberadaan remot TV rumahnya.


"Sebentar saya ambilkan dulu. Nyonya tunggu di sini saja," titah Jack mencari remot TV yang tergeletak di bawah meja, "Ini Nyonya," sambung Jack sambil memberikan remot TV pada istri Tuan nya.


"Kalau begitu saya permisi, Nyonya," ucap Jack setelah tidak mendapatkan jawaban dari istri Tuan nya.


"Tunggu, aku belum selesai bicara denganmu Jack," cegah Zena mengambil cemilan ringan yang terdapat di toples.


"Aku rasa, sekarang aku sering melihatmu pergi," ucap Zena sambil memasukkan kacang telor itu ke dalam mulutnya.


"Maafkan saya Nyonya, jika tidak dibolehkan, saya tidak akan pergi," jawab Jack menundukkan kepalanya.


"Siapa yang melarangmu. Selagi Mas Steven sudah pulang, kau boleh pergi. lagi pula, kau kan saudara jauh dari Mas Steven," ucap Zena memasukkan lagi beberapa butir kacang telornya ke dalam mulut.


"Terimakasih Nyonya, kalau begitu saya permisi."


"Maafkan saya Nyonya," jawab Jack.


"Ingat Jack! dokter Irma kekasih Jeff, wanita yang sangat dicintai adikmu. Kau tidak boleh jatuh hati padanya, ingat Jeff. Jangan kecewakan adikmu itu!" ucap Zena melirik sekilas Jack dengan ekor matanya.


Jack terdiam, dia benar-benar mencerna setiap ucapan istri Tuan nya, 'Benar apa yang dikatakan Nyonya, seharusnya aku tidak mengecewakan adikku. Tapi bagaimana? Semuanya sudah terjadi. Aku harap, semua itu hanya mimpi. Cepatlah sadar Jeff, aku tidak ingin terperangkap lebih jauh lagi dalam masalah mu,' batin Jack.


"Jack? Kau melamun?" ucap Zena.


"Tidak Nyonya, apa ada sesuatu lagi yang ingin dibicarakan? jika tidak ada ... saya permisi."


"Pergilah, aku hanya ingin mengatakan itu saja. Jangan tersinggung dengan ucapanku, aku hanya ingin mengingatkan mu saja Jack. Aku tahu dokter Irma, wanita yang cantik dan berhati lembut. Aku takut kau menaruh hati dan mengecewakan adikmu yang sedang berjuang melawan koma nya," ucap Zena.


"Baik Nyonya," jawab Jack yang kemudian pergi menjauh dari istri Tuan nya.


'Semalam aku bermimpi, aku tidak mungkin mengkhianati Jeff. aku tidak mungkin merebut kekasih adikku sendiri. Ya, aku akan melupakan mimpiku semalam,' batin Jack berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Di sebuah ruangan paling atas gedung kantor dengan puluhan tingkat, terlihat Steven yang sedang fokus dengan pekerjaannya.


Tokk ..


"Masuk!"


Mendengar jawaban dari Steven, sekertaris Nanda langsung memutar gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan pemilik perusahaan sekaligus sahabatnya.


"Bagaimana? Apa kau sudah memastikan bahwa dia benar-benar pergi dari rumahku tanpa melukai Zena? tanya Steven menghentikan jarinya yang sedang menari di atas keyboard..


"Sudah Tuan, bahkan saya sudah menyuruh beberapa anak buah untuk berjaga di sekitar rumah mantan istri anda," jawab sekertaris Nanda menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Apa ada masalah lagi?" tanya sekertaris Nanda saat melihat wajah Steven tertekuk.


"Ada, dan kali ini sangat rumit," ucap Steven beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri sekertarisnya.


Nanda membenarkan posisi duduknya dan memberi ruang untuk bossnya duduk.


"Ada apa?" tanya Nanda serius.


"Masalah Jack," jawab Steven menjatuhkan bokongnya di samping sekertarisnya.


"Jack? Apa dia membuat ulah?"


"Nah ini, aku ingin ... kau memantau setiap pergerakan dari Jack. Aku tahu bagaimana sikap Jack, dia sangat berbeda dengan Jeff," ucap Steven.


"Aku tidak mengerti apa yang Tuan katakan?"


"Hei, bersikaplah seperti selayaknya teman. Kita sedang berdua dan tidak membicarakan masalah kantor," ketus Steven menendang kaki sekertarisnya.


"Aww sakit!" ringis Nanda memegang kakinya.


"Memangnya ada apa dengan Jack, apa dia membuat masalah?" tanya Nanda sambil mengusap kakinya yang terasa sakit.


"Akhir-akhir ini, aku beberapa kali melihatnya menemui kekasih Jeff. Dan tadi pagi, aku mencium bau alkohol di tubuhnya," ucap Steven.


"Hahaha ... bukankah hal itu sangat wajar bagi Jack? Biarkan saja, dia mabuk. Asalkan tidak membuat keributan di luar sana," jawab Nanda menyilangkan kedua kakinya.


"Benar, aku membenarkan setiap ucapanmu. Tapi, aku takut ... dia mabuk tidak seorang diri," jawab Steven membayangkan hal yang tidak pernah dibayangkan.

__ADS_1


"Maksudmu apa? Aku tidak mengerti setiap ucapanmu?" tanya Nanda penasaran.


Bersambung😘


__ADS_2