Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 218_Titik Terang


__ADS_3

"Hem, aku tidak akan membahas dia lagi." jawab Dinda menjatuhkan bokongnya di sofa ruang kerja Steven.


'Aku harus memikirkan cara lain untuk mengetahui keberadaan Zena dan Rio. Aku tidak bisa mengikuti permainannya berlama-lama. Aku tidak mau, istri dan anakku kelaparan atau terluka. Tapi, bagaimana caranya,' gumam Steven dalam hati, "Din, tenangkan baby Evan yang benar. Jangan menepuk-nepuk bokongnya terlalu kencang. Dia masih kecil, bisa kesakitan!" ujar Steven saat melihat mantan istrinya memperlakukan putranya kasar.


"Aku sudah benar," jawab Dinda.


"Tenangkan di dalam kamar saja yang berada di ruang kerjamu. Dan letakan semua barangmu di sofa atau di tempat lain. Aku tidak bisa fokus, jika kau ada di sini," titah Steven, matanya menatap gerak gerik mantan istri dan putranya yang sedang menangis.


'Maaf sayang, Daddy harus memakai cara ini, demi keselamatan Mommy dan Kak Rio,' gumam Steven dalam hati.


"Din! Dengar ucapanku, tidak! Aku tidak suka dibantah!" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Santai saja. Memangnya tidak susah menggendong bayi seperti ini. Lagipula, wajar kan kalau bayi menangis." jawab Dinda, 'Lama-kelamaan aku tidak betah mengurus bayi yang super rewel ini. Ingin rasanya, aku buang atau titipkan bayi ini di panti asuhan,' gumam Dinda dalam hati, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar kecil yang tak jauh dari sofa.


Setelah melihat kepergian anak dan mantan istrinya, Steven berjalan menuju sofa, lalu melihat pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Jika, cara kekerasan tidak bisa di lakukan. Maka, aku akan melakukan cara halus. Aku akan mencari tahu keberadaan istri dan anakku, melalui ponsel Dinda. Aku yakin, di dalam ponselnya, pasti ada petunjuk di mana keberadaan Zena dan Rio," gumam Steven, kemudian merogoh tas milik mantan istrinya, 'Beruntung, aku memasang CCTV di kamar itu. Jadi, aku bisa memantau sikap Dinda yang sama sekali tidak tulus menyayangi putraku,' gumam Steven dalam hati.


Setelah menemukan ponsel milik mantan istrinya. Dengan cepat, Steven menyalakan ponsel tersebut.


"Steve, putramu tidak mau diam. Dia menangis terus. Apa yang harus aku lakukan?" teriak Dinda dari dalam kamarnya.


"Tenangkan saja, dulu. Aku masih banyak pekerjaan. Buktikan, kalau kau bisa menjadi Ibu sambung yang terbaik untuk putraku!" jawab Steven, yang memikirkan sandi ponsel mantan istrinya.

__ADS_1


'Ya, aku lupa. Dinda selalu mengunci sandi dengan sandi yang mudah di hafal seperti tanggal lahir dan tanggal pernikahan. Aku akan mencobanya,' gumam Steven dalam hati, kemudian jarinya mengetik tanggal lahir mantan istrinya.


"Gagal! Aku akan mencoba tanggal pernikahannya," ujar Steven lagi.


Setelah beberapa kali salah menebak sandi ponsel mantan istrinya, Steven tetap tidak bisa membuka ponsel itu. Lalu terlintas di dalam benaknya tanggal pernikahan atau perceraian dirinya dengan Dinda.


Dan akhirnya, setelah memasukkan tanggal perceraiannya dan Dinda. Sandi ponsel itu berhasil dan Steven segera mencari aplikasi berwarna hijau, yang digunakan untuk bertukar pesan.


Matanya membulat sempurna saat melihat isi pesan paling atas. Tangannya meremas ponsel itu dan matanya sudah berubah memerah.


'Ternyata benar, apa yang dikatakan wanita itu. Rio sudah mengakhiri dirinya karena ulah Dinda! Aku tidak bisa biarkan. Aku harus mengambil baby Evan sebelum nasibnya sama dengan Rio!' geram Steven, kakinya berjalan menuju kamar yang ditempati Dinda dan putranya.

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2