
"Apa yang perlu aku bantu," ucap Riski tak ada pilihan lain.
"Pisahkan Steven dengan istrinya. Aku ingin melihat kehancuran Steven," jawab Sheila mengangkat satu kakinya ke kaki satunya memperlihatkan paha mulusnya terekspos.
Glek, Riski menelan salivanya susah saat melihat pemandangan yang begitu memanjakan matanya.
"Hei! Kau berusaha menggodaku!" seru Riski memalingkan pandangannya.
"Cepat katakan! Mau atau tidak?" desak Sheila.
Senyuman Sheila semakin terukir indah saat melihat ekspresi Riski yang tengah berfikir keras.
"Hitungan ke tiga, tidak memberi jawaban. maka, artinya ... kau menolak kerjasama kita," ucap Sheila lagi.
"Aku menolak,"
"Aku menolak kerjasama kita, bukan berarti aku tidak menginginkan hartaku kembali," jawab Riski membuat senyuman Sheila memudar.
"Kau- kau! Kenapa kau selalu membuat ku kesal!" pekik Sheila berdiri dari duduknya. Dia menghentakkan kedua kakinya bergantian, "Mungkin otakmu sudah gesrek. Aku akan memerintahkan doker Riyan untuk mengecek keadaan otakmu itu!" ujar Sheila berjalan.
Sewaktu Sheila berjalan, tak sengaja kakinya tersandung kaki kursi dan jatuh tepat di atas tubuh Riski.
Mata mereka saling bertemu tidak ada jarak di antara mereka. Bahkan hidung mereka saling bersentuhan dan Riski dapat mendengar hembusan nafas wanita yang berada di atas tubuhnya.
'Tampan dan manis juga, tapi sayang .. otaknya sudah tidak waras. Bisa-bisanya dia membela pengkhianat seperti Steven,' batin Sheila.
Setelah tersadar dari lamunannya, Sheila berusaha bangkit dan menyadarkan pria yang melingkarkan tangan di pinggangnya.
"His! Jangan sentuh tubuhku dengan tangan kotormu itu!" pekik Sheila menyadarkan lamunan Steven.
__ADS_1
'Wajahnya cantik tapi mulutnya sangat pedas. Aku tarik lagi ucapanku yang memujinya,' batin Riski yang reflek melepas tangannya dari pinggang Sheila.
"Tanganku memang kotor, tapi setidaknya mulutku jika berbicara tidak pedas seperti mulutmu itu," ucap Riski mendorong tubuh Sheila dari atas tubuhnya.
Sheila kehilangan keseimbangan saat tubuhnya didorong paksa oleh Riski, dia tersungkur ke lantai yang baru saja di pel.
"Awww ... benar-benar tidak mempunyai hati nurani!" ringis Sheila saat tangannya tergores lantai.
"Siapa yang tidak mempunyai hati nurani?" tanya Riski sambil berdiri dan membenarkan pakaiannya, "Aku hanya mengikuti ucapanmu saja. Kau bilang tanganku kotor. Jadi, lebih baik aku dorong tubuhmu. Agar tubuhmu tidak kotor karena tubuhku," lanjut Riski tersenyum puas.
"Sakit! Dasar pria bodoh!" pekik Sheila membuat emosi Riski muncul.
"Kau bilang apa? Bodoh?" tanya Riski membungkukkan tubuhnya agar wajahnya bisa menatap wajah Sheila.
"Iya, kau bodoh! sangat bodoh!" pekik Sheila kesal, "Sekarang bantu aku berdiri!" ucap Sheila mengulurkan tangannya meminta pertolongan.
"Jangan pernah meminta bantuan kepada orang bodoh. Nanti kau tertular bodohnya," ejek Riski.
"Terimakasih Nona Sheila, karenamu aku sembuh. Tapi, kau harus ingat juga, bahwa ada dokter Riyan yang selalu mengecek kondisiku. Tanpanya aku mungkin akan mati," jawab Riski mengulurkan tangannya membantu Sheila.
Sheila menerima uluran tangan dari pria yang baru saja mengejeknya, "Tapi kau harus tahu. Akulah yang meminta dokter Riyan memanjangkan waktu penggunaan alat bantu yang pernah melekat di tubuhmu sewaktu koma," ketus Sheila, "Aww .. aww kakiku, kakiku sakit. Kakiku tidak bisa digerakan," keluh Sheila memegang kaki sebelah kirinya.
"Aktingmu sangat bagus. Bilang saja, kau ingin di gendong olehku kan?" ucap Riski membuat Sheila menggeram kesal. Dia memukul pundak Riski berulang kali.
"Hei! Asal kau tahu, tipe pria idamanku tidak sepertimu! Kau jauh dari seleraku!" ucap Sheila melingkarkan tangannya di leher Riski.
"Memangnya siapa yang tertarik dengan wanita seperti mu? Suka berbohong, jika bicara sudah seperti memakan ratusan cabai rawit, berhati busuk dan--" ucapan Riski terhenti saat Sheila membungkam mulutnya.
"Cukup! Apa kau tidak memiliki cermin hah! Lihat dirimu ... apa dirimu sudah benar? Apa dirimu tidak pernah melakukan kesalahan?" ucap Sheila membuat Riski diam, "Sekarang gendong aku dan letakkan aku di sofa, sepertinya kakiku terkilir karena terjatuh tadi," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Riski menarik nafas dalam-dalam dan menggendong tubuh Sheila, "Hei! Apa tubuhku terlalu berat sampai-sampai kau menarik nafas terlalu dalam!" gerutu Sheila.
Riski meletakkan tubuh Sheila di sofa, "Diam! seharusnya bukan kakimu yang terkilir melainkan mulutmu itu. Memang tidak cape marah-marah sepanjang hari. Pantas Steven meninggalkanmu, aku saja jika mempunyai pasangan sepertimu pasti akan muak mendengar ocehanmu setiap hari!" kesal Riski berjalan menjauh dan mengambil ponsel yang tempo lalu diberikan oleh Sheila.
"Aku akan menginap di rumahmu," ucap Riski tiba-tiba, membuat Sheila menganga.
"Apa kau gila hah!" pekik Sheila, "Aku tidak mengizinkan siapapun untuk menginap di rumahku, apalagi ini musuhku," tolak Sheila memijit kakinya yang terkilir.
"Hei! Bukankah kau tinggal dengan pria tua itu di rumahku. Sekarang giliranku, aku mau tinggal di rumahmu!" tegas Riski.
"Tidak bisa! Tidak bisa!"
"Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa! Aku tidak mau rumahku di tinggali oleh pria sepertimu," ujar Sheila, "Lebih baik, panggilkan dokter. Kakiku semakin sakit, aku takut ada urat yang terkilir atau patah tulang," titah Sheila pada Riski.
"Aku tidak bisa keluar masuk sembarangan di rumah sakit ini. Semua orang mengiraku sudah mati," jawab Riski mendudukan bokongnya di sofa.
"Terus? Apa kau ingin selamanya terkurung di dalam rumah sakit ini?" tanya Sheila kesal, "Cepat! Jangan banyak alasan! Memangnya aku tidak tahu kalau ini rencanamu! Bilang saja, kau malas gerak!" ucap Sheila lagi.
"Jika sudah tahu, maka mengertilah. Di mana pria tua itu mengirim adikku? Aku akan menyusul dan memastikan keadaan adikku. Jika ada sehelai rambut yang kurang, maka bersiap-siaplah untuk mati!" ancam Riski pada Sheila
Memiliki sikap dan sifat yang keras kepala membuat Sheila tidak takut dengan ancaman yang diberikan Riski, "Silahkan saja bunuh aku, aku tidak pernah menyentuh atau melihat adikmu, bahkan wajahnya pun aku tidak tahu!" gerutu Sheila dengan pandangan fokus pada ponsel.
"Cepat datang dan obati kakiku yang terkilir. Aku akan memberikan kejutan untuk musuhku!" titah Sheila saat panggilannya sudah terhubung dengan dokter Riyan.
"Aku sedang mengadakan rapat mingguan. Tunggulah beberapa menit lagi. Jika rasa sakit itu semakin bertambah, mintalah bantuan pada dokter lainnya," jawab dokter Riyan, langsung mematikan telfonnya.
"Ahh siall!" Sheila melempar ponselnya ke sofa, "Kenapa di saat aku membutuhkan bantuan, tidak ada yang mau membantuku ha!" teriak Sheila membuat Riski menutup telinganya.
"Dasar toa! Mulutmu seperti speaker yang menggelegar di seluruh sudut rumah sakit!" ucap Riski.
__ADS_1
Bersambungš