
"Cepat, cari keberadaan istri dan anakku. Atau kalian, aku bunuh! Aku tidak bisa membawa putraku keluar rumah!" titah Steven, kemudian menepuk-nepuk bokong putranya yang tertidur.
"Tapi Tuan, jika tidak ada CCTV atau barang bukti lainnya, kami susah untuk mencari keberadaan Nyonya dan Tuan kecil Rio. Sebaiknya, Tuan tenang. Jangan gegabah, saya akan mencari cara, agar dapat menemukan keberadaan Nyonya," ujar Nanda.
"Fakhri, kerahkan semua teman-temanmu, untuk mencari jejak Nyonya. Dan satu lagi, ambilkan semua rekaman CCTV yang menyorot rumah Tuan," titah Nanda kepada anak buahnya.
"Baik bos. Saya akan melaksanakan semua tugas yang perintah bos Nanda," jawab fakhri kemudian berjalan pergi.
"Dan yang lain, tolong kalian berpencar ke sekeliling rumah Tuan. Cari sesuatu yang menurut kalian barang bukti. Aku yakin, mereka meninggalkan jejak," ujar Nanda pada anak buah lainnya.
"Baik bos," jawabnya serompak, kemudian pergi berpencar.
"Tuan, sekarang Tuan aman. Saya mohon, letakkan baby Evan ke dalam box bayi. Kasihan dia," ujar Nanda.
"Aku tidak mau meletakkan putraku semenit saja. Kau tahu, mereka bisa dengan mudah menculik anak dan istriku. Dan sekarang, kau menginginkanku meletakkan putraku sendiri di kamar! Jangan harap, Nanda. Aku akan membawa putraku kemana pun aku pergi,"
"Tapi Tuan, kasihan baby Evan," jawab Nanda.
__ADS_1
"Aku akan melindungi putraku. Tolong kamu ambilkan ponselku. Aku mau menelfon Ibu. Aku akan memintanya pulang, baru aku bisa tenang," titah Steven yang diangguki Nanda.
"Iya Tuan, sebentar ...," jawab Nanda, kemudian mengambil ponsel Steven yang berada di atas meja, "Ini Tuan," sambungnya lagi.
"Tolong carikan nomer Ibu, dan sekalian telfon. Setelah tersambung, baru aku yang bicara," titah Steven, 'Aku harus sabar, aku harus bersikap seolah-olah aku tidak kehilangan istriku. Aku tahu, ada musuh di sini. Sayang, sabar ya ... Daddy, akan mencari mommy sampai ketemu,' gumam Steven dalam hati.
"Baik Tuan," jawab Nanda, lalu mencari kontak Tesa dan mengklik tombol telfon.
Tut ...
Tut ....
"Belum Tuan. Nomernya aktif, tapi tidak diangkat," ujar Nanda.
"Coba lagi," titah Steven, 'Kemarilah. Ikut aku ke ruang kerjaku. Dan ambilkan botol susu baby Evan di kamar," ujar Steven.
"Aku akan menunggumu di ruang kerja," sambungnya lagi, kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Di tengah-tengah hutan yang letaknya jauh dari pemukiman warga. Terdengar suara tangis anak kecil yang berada dalam pelukan seorang wanita. Tangisan ketakutan dari mereka yang melihat mayat seorang wanita paruh baya yang dipenuhi darah di sekujur tubuhnya, mampu membuat anak kecil itu ketakutan. Berulang kali, dia mengadu ketakutan pada mommynya yang sedang memeluknya.
"Mommy, aku takut. Aku takut mom, ayo kita pergi dari sini, Mom. Please, Rio takut, hiks ... hiks ...," ucap Rio menangis.
"Sabar sayang. Kita akan cari cara untuk keluar dari sini. Rio jangan menangis, ya sayang. Rio anak laki-laki, Rio harus kuat," titah Zena, tangannya berulangkali mengusap punggung putranya.
"Mom, tapi wajah mommy. Wajah mommy banyak luka. Tangan mommy berdarah, punggung mommy juga,"
"Mommy harus kuat. Mommy meminta Rio kuat, tapi wajah mommy pucat, jangan tinggalkan Rio sendiri di sini Mom, mommy bertahanlah," titah Rio semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang, berjanji. Jika mommy pergi, jaga adik-adik Rio dengan baik. Mommy akan berusaha bertahan, demi kalian,"
"Aw ... sakit sayang, tangan Rio mengenai luka di punggung mommy," ujar Zena tersenyum pada putranya.
"Maafkan Rio, Mom. Karena membela Rio, mommy jadi terluka."
'Ya Tuhan, jika hari kematianku sudah dekat. Aku harap, Rio bisa terbebas dari tempat terkutuk ini, dan Mas Steven bisa melanjutkan hidupnya tanpa aku. Aku sayang kalian,' gumam Zena dalam hati, darah ditangannya semakin mengalir deras.
__ADS_1
Bersambung 😘