
"Cepat kau pergi dari ruanganku sekarang juga!" titah Riski pada Sheila.
"Bagaimana aku bisa pergi, jika kakiku terkilir seperti ini!" ketus Sheila, "Lebih baik, kau saja yang pergi dari sini. Agar semua orang tidak menganggap kita aneh-aneh di sini." ucap Sheila meluruskan kakinya di ranjang Riski.
Riski bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Sheila, tangannya menengadah meminta kunci mobil Sheila, "Kunci mobil! Aku akan pergi, jika kamu memberikan kunci mobil mu padaku!" ujar Riski menelisik tubuh wanita di depannya.
'Menikah dengannya? Hidupku akan hancur sesaat!' gumam Riski dalam hati.
Tak sengaja Sheila melihat Riski yang sedang menatap mengintimidasi nya, "Hei! Apa yang kau lihat!" seru Sheila menatap tubuhnya serta wajah Riski bergantian.
"Menurut mu? Cepat berikan kunci mobil mu!" titah Riski.
"Sabar, ambil tasku. Kunci mobilku berada di tasku. Ambilkan saja tasku, jangan pernah menggeledah tasku di depan mataku!" ujar Sheila menujuk tas yang berada di kursi.
"Aku akan menggeledah tasmu di belakangmu," kesal Riski berjalan mengambil tas milik Sheila dan memberikannya pada Sheila, "Ini, cepat ambil kunci mobilmu! Dan aku pinjam kacamata mu,"
"Kacamata? Tidak-tidak, enak saja mau meminjam barang-barangku. Asal kau tahu, semua barangku itu mahal dan branded," ucap Sheila dengan gaya angkuhnya.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" Aku tidak menginginkan semua barang mu. Yang aku inginkan hanya kacamata mu," ucap Riski mengambil kacamata di tas Sheila lalu memakainya, "Cocok bukan?" ujarnya lagi.
"Kembalikan! Itu kacamataku!" pelik Sheila tak terima jika kacamatanya di pakai oleh pria menyebalkan.
***
Membayangkan kemesraan dokter Irma dengan pria yang terkena lemparan kerikilnya membuat Jeff tidak berkonsentrasi dalam menyetir mobilnya.
"Om, Om Jeff, yang benar membawa mobilnya, Rio takut!" pekik Rio saat tak sengaja melihat mobil dari arah berlawanan hampir menabrak mobilnya, "Hampir saja kita ditabrak mobil itu!" lanjutnya lagi.
"Maafkan saya Tuan kecil Rio, saya tidak fokus," ujar Jeff meminta maaf.
Setelah sampai di depan loby kantor Steven, Jeff mematikan mesin mobil dan membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Tuan kecilnya keluar.
"Silahkan Tuan Rio," ucap Jeff tersenyum manis.
"Hemm ...," jawab Rio cuek. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor Ayah nya diikuti oleh Jeff di belakangnya.
Melihat kehadiran Jeff, semua karyawan yang tengah bergosip atau merilekskan tubuhnya pun langsung berpura-pura bekerja. Mereka tidak mau kejadian tadi pagi terulang kembali.
__ADS_1
"Om Jeff, cepat!" ucap Rio saat melihat Jeff berjalan lambat.
"Iya Tuan," jawab Jeff berlari lalu mensejajarkan langkahnya dengan Rio.
Tingg ....
Pintu lift terbuka, Jeff dan Rio masuk lalu menekan tombol naik agar cepat sampai di ruangan Tuan nya.
"Mommy ada di sini Om?" tanya Rio saat pintu lift tertutup.
"Ada Tuan, mommy dan Daddy Rio ada di sini. Memangnya ada apa?" tanya Jeff asal bicara, bahkan berbicaranya tidak menggunakan embel-embel Tuan.
Tingg ...
Pintu lift terbuka, Rio keluar dari lift diikuti oleh Jeff dibelakangnya, "Hati-hati Tuan," ucap Jeff saat melihat Rio berlari.
"Dad-Daddy!" pekik Rio membuka pintu ruangan Steven.
Steven yang sedang fokus dengan pekerjaannya pun melirik sekilas pada putranya lalu beranjak dan berjalan menuju putranya, "Di mana Om Jeff?" tanya Steven saat tidak melihat batang hidung Jeff.
"Ta-tapi tidak terjadi sesuatu pada Rio kan? Rio baik-baik saja kan sayang?" ucap Steven mengecek seluruh tubuh anaknya.
Krek,
Pintu terbuka, terlihat Jeff masuk dengan wajah lesunya.
"Jeff!" pekik Steven, "Apa-apaan ini! Rio bilang ... mobilnya hampir tertabrak karena kecerobohan mu! Aku tahu kau sedang patah hati, tapi jangan seperti ini. Kau membahayakan nyawa anakku!" ujar Steven.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," jawab Jeff pasrah. Dia pasrah akan di pukul atau dibunuh Tuan nya.
"Aku tidak suka sikapmu yang seperti ini Jeff. Kau itu pria, tidak seharusnya pria itu lemah Jeff!" ujar Steven, "Sayang, temani mommy di dalam kamar. Daddy mau bicara penting dengan Om Jeff," titah Steven mengusap kepala Rio.
"Baik Dad!" jawab Rio berjalan dan masuk ke dalam kamar pribadi Steven.
"Duduk!" titah Steven pada anak buahnya, "Duduk!" ulangnya lagi saat Jeff melamun, "Duduk, atau aku pecat kamu sekarang juga!" pekik Steven menyadarkan lamunan Jeff.
"Ba-baik Tuan," jawab Jeff mendudukkan bokongnya di samping Steven.
__ADS_1
"Ada masalah apa? coba jelaskan padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu," tanya Steven beranjak dari duduknya dan mengambil dua kaleng softdrink, "Minumlah," ucap Steven menyodorkan minumannya pada Jeff.
Jeff menerima dan meminum minuman itu, "Saya bingung Tuan," ucap Jeff memulai pembicaraannya.
"Ceritakan semuanya, jika tidak ... aku akan menghukummu!" ancam Steven meneguk minumannya.
"Kata Nyonya, dokter Irma belum mempunyai kekasih Tuan, tapi tadi aku melihatnya menggandeng mesra seorang pria muda dan tampan," curhat Jeff membayangkan kejadian pagi tadi.
"Lalu? Apa kau yakin, jika dia kekasih dokter Irma?" tanya Steven, "Menurutku kau pantau dulu. Siapa tahu, dia bukan kekasihnya melainkan Kakak atau Adik atau saudaranya?" sambung Steven lagi.
Mata Jeff berbinar, "Apa benar Tuan? Jadi, saya masih mempunyai kesempatan untuk mendekati dokter Irma?" tanya Jeff menarik kedua sudut bibirnya tersenyum.
"Aku tidak tahu Jeff, kan aku bilang pantau dulu. Siapa tahu mereka saudara, Jika benar mereka sepasang kekasih ya ... kamu harus terima Jeff, dia bukan jodohmu," jawab Steven bijak.
"Ahh Tuan, jangan mematahkan semangat saya! Saya sangat serius dengan dokter Irma," kesal Jeff.
"Jika serius, ajaklah menikah. Jangan diam tak jelas," sindir Steven.
"Sudah Tuan, saya sudah mengajaknya berpacaran. Tapi dia tidak mau," ucap Jeff dengan wajah kusutnya.
Steven menggelengkan kepalanya, "Kau bilang apa? Berpacaran?" ucap Steven tak percaya,
Jeff menganggukan kepalanya, "Iya Tuan, berpacaran," ucap Jeff sekali lagi.
"Aku memerintahkan mu untuk menikahinya bukan memacarinya Jeff, kau aneh ... kalian sudah sama-sama berumur, seharusnya tidak ada kata pacaran di kamus kalian," ucap Steven meneguk minumannya lagi.
"Belum siap Tuan, saya harus bicarakan ini pada Jack. Karena mau bagaimanapun, Jack keluarga saya dan Jack Kakak saya," jawab Jeff tersenyum kaku.
"Terserah kau saja. Mulai sekarang jangan pernah melamun memikirkan hal yang tidak penting. Atau aku akan kembalikan kamu pada Jack," ancam Steven membuat Jeff menggelengkan kepalanya.
"Jangan Tuan, jangan ... Tuan tega memisahkan saya dengan dokter Irma," ketus Jeff.
"Pergilah, aku mau family time dulu," usir Steven membuat Jeff mendengus kesal.
Bersambungš
"
__ADS_1