
Ke esokkan harinya, sesuai dengan janji Steven kepada putranya, kini mereka sudah sampai di depan ruang baby Esya.
Melihat bayi mungil yang sedang tertidur di box membuat keduanya larut dalam lamunannya masing-masing.
"Dad, pasti enak ya, kalo kita semua kumpul di rumah, ada baby Evan dan Esya juga? Kapan adik Rio boleh di bawa pulang?" tanya Rio saat menatap adiknya yang tertidur pulas, "Kalau bisa, kita ajak babygirl pulang sekarang. Rio ingin bermain dengannya, dan Rio janji, Rio janji akan menjaga dan memberikan semua kasih sayang Rio pada adik perempuan Rio. Dia sangat berharga untuk Rio, Dad! Rio benar-benar menginginkan adik perempuan." ujar Rio,
Mendengar ucapan putranya, tanpa sadar air mata Steven menetes, hatinya terasa tersentuh dengan setiap ucapan yang di lontarkan oleh putranya.
"Secepatnya, Daddy akan membicarakan ini pada dokter." jawab Steven sebelumnya dia sudah menghapus air matanya agar tak terlihat rapuh di depan putranya.
"Dad, apa Daddy menangis? Rio lihat sisa air mata di pipi Daddy?" tanya Rio yang mendapat gelengan dari Steven.
"Siapa yang menangis? Daddy hanya kelilipan," ucap Steven tersenyum, "Ya sudah, daddy pergi dulu. Daddy ingin mengetahui kondisi Bab Esya." jawab Steven, "Rio duduk disitu, jangan pergi kemana-mana. Daddy hanya sebentar," ujar Steven yang mendapatkan anggukan dari Rio.
"Iya Dad!" jawab Rio.
Setelah kepergian Steven, Rio menjatuhkan bokongnya di tempat duduk yang sudah disediakan.
"Hei, anak kecil yang tampan, boleh tante duduk di samping kamu?"
__ADS_1
"Tante, bukannya tante yang pernah ada di rumah Rio? yang pernah membuat keributan dengan seorang pria?" tanya Rio polos.
"Iya sayang, bolehkan tante duduk?"
"Namanya siapa? Rio?"
"Iya namaku, Rio. Silahkan duduk," jawab Rio, ekor matanya melirik pada ruangan dokter yang tengah tertutup.
"Em, tante boleh bertanya?"
"Tanya apa tante?"
"Rio kesini sama siapa?" tanya Irma basa basi.
"Oh, Rio mau tahu keadaan babygirl tidak?" tanya Irma tersenyum manis.
"Mau tante. Bagaimana kabar adik Rio?" tanya Rio antusias.
"Tapi, Rio jawab dulu pertanyaan tante, dimana Om Jeff? tante memiliki urusan dengan Om Jeff," ujar Irma.
__ADS_1
"Em, tante untuk apa bertanya tentang Om Jeff, bukannya kemarin tante membawa seseorang untuk memukuli Om Jeff dan Om Jack, sampai-sampai Om Jack masuk rumah sakit," jawab Rio tersenyum sinis.
'Benar-benar pintar, daya ingatnya sangat kuat,' gumam Irma dalam hati.
"Orang itu bukan suruhan tante. Tante juga tidak tahu, tiba-tiba orang itu datang ke rumah Rio,"
"Sekarang, beritahu dimana keberadaan Om Jeff. Tante mempunyai keperluan yang mendadak dengan Om Jeff," titah Irma.
"Rio tidak tahu keberadaan Om Jeff," ketus Rio.
"Rio sangat tampan. Dan tante janji, tante tidak akan memberitahu siapapun, kalau Rio mengatakan keberadaan Om Jeff," rayu Irma.
"Sudah Rio bilang, Rio tidak tahu keberadaan Om Jeff! Daddy dan Rio sudah mencarinya di bandara, dan petugas bandara bilang, kalo Om Jeff sedang hilang di lautan!" ketus Rio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kaca pembatas dirinya dengan adiknya.
'Hi-hilang? di lautan? a-apa maksudnya?" gumam Irma, kemudian berjalan menyusul Rio.
"Rio, tante masih kurang mengerti. Bisa dijelaskan lagi?" pinta Irma.
"Ekhem ... ada apa ini?" tanya Steven yang baru saja tiba.
__ADS_1
"Em ... Tuan Steven," gumam Irma setelah melihat Steven.
Bersambungš