
"Kau tahu, kamar ini terlalu banyak kenangan mistis" Ujar Steven yang berbisik ditelinga Zena
"Oh ya, aku juga pernah lihat di dekat lampu ada sosok perempuan yang memakai baju putih sama sepertimu, aku fikir kau itu dia yang sedang menampakan diri" Sambungnya lagi.
Glek, tiba-tiba tubuh Zena merinding, dia mencium aroma melati yang sangat menyengat saat Steven berbicara hal mistis, ditambah lagi rintikan hujan yang mulai membasahi kota besar ini
Melihat Zena mengusap lehernya pelan, Steven terkikik, dia menarik tangannya yang sedang melingkar dipinggang Zena, dan dia menyenderkan kepalanya di tempat tidurnya sambil menatap istrinya yang pura-pura tidur
"Hahaha senjata makan Tuan Nona," Gumam Steven dalam hati sambil terkikik
"Oh ya, rupanya dia datang, Zen lihatlah dia, dia ada di depan pintu kamar mandi sedang melayang, mungkin karna kau menggunakan aroma kesukaannya" Ujar Steven mengibaskan selimut Zena yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya tapi Zena berusaha kuat mempertahankan selimut itu agar tetap menutupi tubuhnya
"A-aku mau tidur mas! Jangan ganggu aku, dan aku tidak berniat mengganggu wanita melayang atau hantu, atau-ah terserah apalah yang penting aku mau tidur mas" Gumam Zena dengan tubuh terbungkus selimut
Steven semakin terkikik saat istrinya berusaha menahan selimut yang dia kibaskan, lalu dia bangkit dari tidurnya, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering,
"Ah tenggorokanku haus, aku akan mengambil minum dulu, lebih baik sekarang kau tidur" Titah Steven sambil turun dari ranjangnya
"Mas jangan pergi" Panggil Zena yang masih terbungkus selimut, dirinya merasakan getaran di ranjangnya, lalu dia memutar tubuhnya agar menghadap suaminya, perlahan dia menyembulkan sedikit kepalanya agar dapat melihat suaminya
"Shittt! " Umpat Zena saat melihat Steven sudah pergi menjauh dan membuka pintu kamarnya,
"Mas jangan tinggalin aku, aku takut! ' Pekik Zena berharap suaminya bisa mendengar jeritannya,
"Mas! " Sambungnya lagi, tapi Steven sudah pergi dan tak mendengar teriakannya
Tiba-tiba hawa dingin yang bercampur hujan di malam hari membuat tubuh Zena merinding, bahkan bulu kuduknya sudah berdiri, ruangan yang gelap membuatnya memikirkan ucapan suaminya tentang wanita yang melayang.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Terdengar ketukan dari luar jendelanya, membuat Zena enggan menoleh, tubuhnya semakin bergetar, matanya dia pejamkan, dia tak berani menatap jendela dan pintu kamar mandi
"Kenapa jadi salah sasaran seperti ini sih? seharusnya dia yang takut bukan aku? tapi kenapa malah aku yang di datangi penunggu kamar ini" Gumam Zena dalam hati, dia benar-benar merutuki kebodohannya
Ditariknya selimut itu agar kepalanya dapat masuk kembali, dia berusaha menunggu Steven, bahkan matanya tak merasakan kantuk,
"Tenang Zena, Steven sebentar lagi kembali, sabar Zen, sabar, jangan takut, tidak ada yang perlu kau takutkan " Gumamnya lagi
"Steve cepatlah datang, aku takut "
Tok.. Tok.. Sekarang Zena mendengar bunyi ketukan dari luar pintu kamarnya, dia berfikir sekali lagi, jika yang mengetuk pintu adalah suaminya itu tidak mungkin, karena Steven tidak akan mengetuk pintu kamarnya sendiri, tapi jika bibi atau pelayan itu lebih lebih tidak mungkin, ini sudah sangat malam dan semua pelayan pasti sudah tidur, dengan keberanian penuh dan bibir yang bergetar akhirnya Zena mencoba berteriak "Siapa! " Teriak Zena dari dalam selimutnya
1 menit
2 menit
3 menit
"Steven datanglah aku mohon, aku takut" Ujar Zena dalam hati,
"Steven jika kau datang sekarang aku akan mengakui kau suamiku dan aku tidak akan menyumpahi atau mengumpatmu lagi"
"Steve cepat datang,
" Woy! Suamiku datang woy! aku janji aku tidak akan mengumpatmu diam-diam lagi "
"Please" Gumam Zena dengan bibir bergetar
__ADS_1
Steven yang baru memasuki kamarnya pun terheran saat mendengar istrinya bergumam tak jelas, dia fikir istrinya sudah tertidur karna sebelumnya dia sudah memintanya untuk tidur dulu
"Astaga aku fikir kau sudah tidur tapi ternyata belum, kau benar-benar membuatku gemas Nyonya dengan mempercayai ucapanku itu" Gumam Steven lalu dia tersenyum, tiba-tiba terbesit didalam fikirannya untuk membuat istrinya semakin ketakutan,
Dia berjalan pelan menghampiri Zena, lebih tepatnya dia berjalan menghampiri punggung Zena yang sedang bergetar.
Pelan tapi pasti, Steven berjongkok, dia mengusap punggung Zena dengan tubuh yang mengumpat di samping ranjangnya dan tak lupa rambutnya dibuat acak-acakan
Melihat respon tubuh Zena yang semakin bergetar, Steven semakin tertantang, dia menjatuhkan benda plastik yang berada di dekat lampu
Prangg..
Vas bunga yang terbuat dari plastik pun jatuh ke lantai
Deg!
Zena membuka matanya lebar saat mendengar barang dibelakangnya terjatuh
"A-aku minta maaf, a-aku janji, aku tidak akan mengganggu kamu lagi....percayalah aku hanya ingin mengerjai suamiku yang tidak tahu diri itu, jadi pergilah, aku mohon pergilah.
" Pergilah, jangan ganggu a-aku,"
Mendengar Zena mengatai dirinya, Steven langsung berdiri, dia mengibaskan selimut yang dipakai Zena membuat Zena terperanjat kaget
"Aaaaaaaaaaa ampun! ampun! ampun" Teriak Zena sambil menutup wajahnya
Klek, lampu kamar utama menyala membuat Zena mematung, dia perlahan membuka matanya
__ADS_1
"Kau! kau bilang aku apa! suami tak tahu diri? " Suara Steven menyadarkan Zena
Bersambungš