Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 125_Mencari


__ADS_3

"Jeff cepatlah!" titah Steven melihat anak buahnya berjalan lambat.


"Baik Tuan,"


Setelah mereka sampai di teras rumahnya. Steven dan Jeff mendudukan bokongnya di salah satu kursi yang tak terlihat dari dalam rumah.


"Tuan, sedang apa Tuan malam-malam di sini," tanya sekertaris Nanda yang baru tiba karena ingin mengambil barang yang tertinggal.


"Kau! bukankah aku sudah menyuruhmu pulang hem?"


"Kenapa kau masih di sini?" tanya Steven kepada sekertaris Nanda.


"Ada barang yang tertinggal, dan saya kembali kemari karena ingin mengambil barang itu," ujar sekertaris Nanda memohon pamit lalu memasuki rumah besar milik majikannya.


Setelah melihat kepergian sekertarisnya, Steven dan Jeff meminum teh hangat beserta cemilannya sesekali bercerita masalah pekerjaan dan anaknya, Rio. Keinginan Steven untuk menceritakan isi hati tentang perubahan istrinya pun di urungkan.


"Mas Steven!" pekik Zena kelelahan. Dia duduk di sofa dan menyalakan TV nya.


Melihat pintu utama terbuka, Zena langsung melirik dan melihat sekertaris Nanda yang sedang berjalan menujunya.


"Maaf Nyonya, jika kehadiran saya menganggu Nyonya." Ujar sekertaris Nanda membungkukkan badannya memberi hormat.


"Hemm,"


"Oh ya sekertaris Nanda, apa kamu melihat suamiku?" tanya Zena yang meluruskan kakinya di sofa panjang dengan pandangan melihat sinetron di TV.


"Oh iya saya melihat Tuan, memangnya--" ucapan Nanda terhenti di saat melihat ekspresi istri Tuan nya yang menatap tajam dan kaki yang baru saja diluruskan sudah di turunkan kelantai.


"Hati-hati Nyonya, ingat Nyonya sedang hamil besar!" sambung sekertaris Nanda menghampiri istri Tuan nya.


"Aku bisa sendiri. Di mana suamiku, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada," titah Zena yang sudah berdiri dari duduknya.


Sekertaris Nanda mengerutkan keningnya, "Sebenarnya mereka sedang bermain petak umpet atau sedang berantem?" gumamnya dalam hati.


"Di mana suamiku Nanda!" pekik Zena membuat Steven dan Jeff yang di luar rumah mendengar teriakan Zena dari dalam.


"Jeff, kita mengumpat di dalam mobil. Kau masih memegang kunci mobil kan?" ujar Steven yang di angguki Jeff.


"Masih Tuan, kunci mobil ada di Saya," jawab Jeff merogoh saku celananya dan mengambil kunci mobil yang berada di garasi rumah Steven.

__ADS_1


"Ayo, cepat Jeff!" bisik Steven.


"Sebenarnya mereka mempunyai masalah apa? kenapa Tuan menghindari Nyonya terus," gumam Jeff dalam hati. Dia mengikuti langkah Tuan mudanya yang berlari membuka garasi.


"Cepat berikan kunci mobil itu!"


"Dan kau ... kau bawakan teh hangat juga cemilanku?" tanya Steven membuat Jeff menggelengkan kepalanya.


"Tidak Tuan, teh beserta cemilannya masih di meja depan. Biar saya ambilkan dulu," ujar Jeff membuat Steven menarik pergelangan tangan anak buahnya.


"Jangan Jeff, kita bisa ketahuan istriku! lebih baik kita bersembunyi, jika istriku sudah tidur baru kita keluar," titah Steven masuk ke mobilnya diikuti oleh Jeff.


Di dalam rumah, Zena dan sekertaris Nanda sedang berjalan menuju pintu utamanya. Mendengar sekertaris Nanda, bahwa suaminya ada di teras rumah membuat emosi Zena berkurang.


"Kau benarkan, melihat suamiku di depan teras?" tanya Zena sekali lagi sambil mengusap perutnya yang besar.


"Menurut Nyonya, apa muka seperti saya suka berbohong?"


"Baiklah, aku percaya. Dan cepat! buka pintunya!" ujar Zena saat sekertaris Nanda berdiam diri di depan pintu utama.


"Baik Nyonya," jawab sekertaris Nanda membuka pintu lalu mempersilahkan istri Tuan nya untuk keluar rumah.


Zena mengerutkan keningnya saat tidak melihat siapapun di teras rumahnya. Kemudian pandangannya beralih menatap tajam sekertaris suaminya yang telah membohonginya.


"Tapi mana buktinya hah!"


"Dia tidak ada di sini!"


"Aku tidak suka dibohongi seperti ini, sebagai gantinya ... kau harus menemukan suamiku sekarang juga!" pekik Zena kesal, dia mendudukan bokongnya lagi di kursi bekas Steven duduk.


"Tapi Nyonya, ini sudah di luar jam kerja saya. Dan Nyonya bisa lihat sendiri di atas meja itu terdapat teh beserta cemilan,"


"Dan saya pastikan itu milik Tuan, Nyonya,"


"Sekarang carikan suamiku! bisa saja minuman ini milik Pak satpam atau lainnya,"


"Cepat Nanda! aku sudah mengantuk!" titah Zena sesekali menguap.


"Baik Nyonya," jawab sekertaris Nanda, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan boss gilanya itu.

__ADS_1


"Tidak ada Nyonya," sambungnya lagi.


"Bagaimana kau bisa menemukan suamiku, jika kau hanya melirik setiap sudut rumah saja!"


"Intinya aku tidak mau tahu! dalam waktu 10 menit kamu tidak berhasil menemukan suamiku, maka aku akan minta suamiku untuk memotong gajimu!" ancam Zena beranjak masuk ke rumahnya.


"Sebenarnya Mas Steven kemana sih! aku ingin sekali dipijat. Kakiku rasanya semakin hari semakin pegal," gumam Zena masuk kedalam rumahnya.


"Di mana aku harus mencari keberadaan Tuan! lagipula ini sudah malam. Pasti Tuan bersembunyi di sekitar sini," gerutu sekertaris Nanda, tatapannya mengarah pada garasi mobil yang terbuka sedikit.


"Akhirnya ketemu juga, aku harus memberitahukan Nyonya diam-daim," sambung sekertaris Nanda yang berjalan masuk menghampiri Zena yang sedang duduk di sofa.


"Bagaimana? apa kau sudah menemukan keberadaan suamiku?" tanya Zena saat melihat sekertaris suaminya berjalan ke arahnya.


"Sudah Nyonya, lebih baik Nyonya ikut saya,"


"Kenapa aku harus ikut denganmu? kau kan bisa menyuruh mas Steven masuk lalu menemuiku?" ujar Zena heran, dia mengganti chanel TV nya karena tidak ada acara yang menarik.


"Jika Nyonya ingin bertemu dengan Tuan, maka Nyonya harus ikut saya. Kita menemui Tuan secara diam-diam, agar Tuan tidak kabur lagi," kesal sekertaris Nanda,


"Baiklah, aku akan menuruti semua arahanmu,"


***


Di dalam rumah sakit tepatnya di ruang VIP tempat Riski terbaring kaku. Sudah hampir 8 bulan Riski dinyatakan koma oleh dokter Riyan, dan keajaiban tiba-tiba muncul saat suster sedang mengecek kondisi Riski.


"Dok, tangannya bergerak. Pasien telah sadar dari komanya!" ujar suster kepada dokter Riyan.


"Lihat, bulu matanya bergerak," sambungnya lagi.


Riski yang melihat pergerakan dari pasiennya pun tersenyum, dia memerintahkan suster untuk mengecoh bodyguard yang sedang berjaga di depan ruangan Riski.


"Suster, tolong simpan rahasia ini. Jangan sampai ada yang tahu jika pasien sudah sadar termasuk bodyguard yang berada di luar," titah dokter Riyan yang di angguki suster tersebut.


"Baik dok!"


"Sekarang, tolong suster halangi bodyguard di depan agar tidak melihat kesadaran dari pasien," titah dokter Riyan.


"Baik dok," jawab suster yang langsung pergi ke luar ruangan.

__ADS_1


Setelah melihat suster menutup rapat pintu ruangan Riski, dokter Riyan pun tersenyum dia menunggu Riski membuka matanya.


Bersambung😘


__ADS_2