Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 130_Mood Labil


__ADS_3

Pagi hari yang begitu cerah, membuat sinar matahari berusaha menerobos masuk dan membelai wajah wanita yang sedang tertidur membelakangi teman tidurnya.


Perlahan, kelopak mata wanita yang sedang hamil besar ini terbuka, dan dia menggeliatkan tubuhnya, merenggangkan otot-ototnya yang sempat kaku karena faktor tidur yang akhir-akhir ini tidak nyaman.


"Selamat pagi sayang," ucap Steven mendaratkan kecupan di kening sang istri.


Tanpa ingin membalas sapaan dari suaminya, Zena beranjak turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Sudah 2 hari ini Zena menahan kesal karena Steven selalu menghindar darinya setiap malam.


"Sayang, bukankah hari ini jadwalmu memeriksakan kandunganmu ke dokter Irma?" teriak Steven diabaikan oleh Zena.


"Masih marah juga," gumamnya mendesaah malas.


Di dalam kamar mandi, Zena membasuh wajahnya. Dia melihat penampilannya yang menurutnya tidak menarik.


"Pantas Mas Steven selalu menghindar dariku, lihat saja penampilanku. Tubuhku yang sudah melebar, perutku yang sudah besar seperti bola dan lihatlah ... sudah ada beberapa kerutan diwajahku," gumam Zena menatap dirinya di depan cermin.


"Mungkin aku sudah tidak menarik di depan Mas Steven, lagipula kenapa akhir-akhir ini aku selalu malas untuk merawat tubuhku, apa karena hormon kehamilan?"


"Tapi jika seperti itu, seharusnya Mas Steven harus memakluminya bukan malah menghindariku,"


"Aku juga seperti ini kan karena aku mengandung anaknya," kesal Zena menyalakan kran nya lagi lalu membasuh wajahnya berulangkali.


Tok ...


Tok ...


"Sayang, kau tidak apa-apakan?" tanya Steven dari luar kamar mandi.


"Giliran pagi aja, dia perhatian banget," ujar Zena mendengar ucapan suaminya, "Tapi giliran malam aja, dia menghilang entah kemana. Padahal setiap malam aku membutuhkannya untuk memijat kakinya yang terasa pegal," sambungnya lagi.


Tidak mendapat respon dari istrinya, Steven yang sudah siap dengan pakaian kerjanya pun menunggu istrinya selesai besiap-siap, dia mendudukkan bokongnya di sofa sambil melirik ipadnya untuk mengecek sahamnya yang berada di perusahaan lain.


Drtt ...


Drtt ....


Dering ponsel Steven membuyarkan konsentrasi Steven. Dia mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau.


"Iya ada apa dok?" tanya Steven saat panggilannya sudah terhubung.

__ADS_1


"Pasien bernama Riski sudah sadar," jawab dokter Riyan.


Mendengar ucapan dokter Riyan, senyum Steven terbit. Dia melirik sekilas pada pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Steven menaruh ipadnya dan fokus pada ucapan dokter Riyan.


"Keadaannya jauh lebih baik, tapi seperti biasa wanita itu selalu menemui Riski, dan wanita itu sudah mengetahui jika Riski sudah sadar," ucap dokter Riyan lagi.


"Lalu ... bagaimana dengan Ayah tirinya?" tanya Steven, "Apa dia juga tahu jika Riski sudah sadar?" sambungnya kembali.


"Hahaha kau santai saja Tuan, dia tidak tahu tentang kesadaran Riski. Justru dia tahu jika Riski telah meninggal dunia," ujar dokter Riyan membuat Steven menarik kedua sudut bibirnya.


"Hahaha bagus, kerjamu sangat bagus,"


"Biarkan wanita itu menjaga Riski sampai sembuh, dia tidak mungkin mencelakai Riski karena menurutnya, Riski adalah korban dari aku," ujar Steven tersenyum.


Zena yang baru saja keluar dari kamar mandi pun merasa heran saat melihat suaminya sedang bertelfonan lalu tersenyum sendiri.


"Ahh benarkan, penyakitnya kumat. Pasti Mas Steven sedang menelfon kekasihnya," batin Zena berjalan menuju meja riasnya dan mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.


Melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan tatapan yang aneh, membuat Steven beranjak dari duduknya dan berjalan menuju balkonnya.


Zena melihat punggung suaminya bergetar karena tertawa, dan samar-samar dia mendengar bahwa suaminya akan mentransfer uang untuk seseorang yang sedang bertelfonan.


"Awas saja! jika benar, Mas Steven menyimpan wanita lain di belakangku, aku akan pergi dari kehidupannya. Sudah cukup aku memberikan kesempatan dua kali padanya,"


"Memang susah untuk mengobati penyakit seperti itu, dia sudah kebiasaannya dan hanya kematian saja yang mampu mengubah kebiasaan buruknya," gerutu Zena meletakkan hairdryer nya lalu mengambil tas dan pergi dari kamarnya.


Brak!


Pintu tertutup keras membuat Jeff yang sedang berjalan mengusap dadanya berulang kali.


"Nyonya, kenapa Nyonya menutup pintu keras-keras seperti tadi! Bagaimana jika Tuan kecil Rio kaget, bisa kena serangan jantung dia!" gerutu Jeff.


"Sudahlah Jeff, aku sedang tidak mood. Sekarang antarkan aku dan Rio," ujar Zena berjalan mendahului anak buah suaminya.


"Ta-tapi Nyonya, bukankah Rio selalu diantar oleh Tuan?"


"Atau Tuan sedang ada urusan mendadak?" tanya Jeff berjalan mengikuti langkah istri Tuan nya.

__ADS_1


"Dia sedang sibuk, maka dari itu ... tolong antarkan aku dan Rio. Aku ingin memeriksa kandunganku," gerutu Zena menekan tombol lift dan masuk lift saat pintu lift sudah terbuka.


"Oh baiklah, jika bertemu dengan dokter Irma saya siap Nyonya," ujar Jeff menekan tombol turun, "Oh iya Nyonya, apa Nyonya sudah bertanya tentang status dokter Irma?" sambung Jeff lagi,


"Emm sudah, dia sudah bersuami," ujar Zena bohong.


Mendengar kata bersuami, tubuh Jeff seakan melemas, tubuhnya langsung bersandar di lift, "Nyonya, dia sudah bersuami?" tanya Jeff tak percaya, "Jadi, selama ini penantian saya tidak membuahkan hasil," sambung Jeff dengan lesu.


"Hahaha, Jeff aku becanda. Dia belum bersuami dan dia masih single," ujar Zena membuat mata Jeff berbinar.


"Benar Nyonya?"


"Nyonya tidak berbohong kan?" tanya Jeff memastikan.


"Memangnya mukaku, muka suka berbohong," kesal Zena. Ingatannya tiba-tiba mengarah pada suaminya yang sedang bertelfonan sambil tertawa.


Ting ...


Pintu lift terbuka, Zena berjalan keluar dengan hati-hati, "Kenapa akhir-akhir ini aku sangat membenci Mas Steven ya? siapa tahu orang yang sedang bertelfonan dengan Mas Steven itu klien pentingnya," gumam Zena.


"Pagi Mommy, Pagi adik Rio sayang," ucap Rio saat melihat mommynya mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.


"Mom, tumben hari ini sudah rapih, mau kemana?" tanya Rio lagi sambil memakan sandwichnya, "Dan di mana daddy?" sambung Rio.


"Rio, Rio mau diantar mommy atau daddy?" tanya Zena meminum susu ibu hamilnya.


"Memangnya mommy mau kemana?"


"Apa tidak apa-apa, jika Rio diantar mommy. Perut mommy sudah besar, Rio takut di dalam perjalanan mommy sakit perut," ujar Rio cemas.


"Daddy akan mengantar Rio dan mommy!" seru Steven yang tengah berjalan menujunya.


"Kalau daddy ikut, Rio baru mau Mom, jadi jika terjadi sesuatu di jalan, sudah ada daddy yang akan menanganinya," ucap Rio.


Melihat wajah Steven, tiba-tiba Zena teringat dengan pembicaraan suaminya yang tertawa renyah.


"Mommy sudah meminta om Jeff untuk mengantarkan kita, jika Rio ingin diantar oleh daddy, biar mommy diantar om Jeff. Kasihan daddy banyak pekerjaan di kantor," ucap Zena beranjak dari duduknya.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2