
Zena tersenyum tipis "Silahkan, silahkan hancurkan perusahaan itu, toh lagipula mereka tidak memikirkan nasibku, kenapa aku harus memikirkan kebahagiaan mereka, kali ini aku akan egois" Jawab Zena yang langsung keluar dari kamarnya
Brak!! Zena membanting pintu kamar dengan keras membuat Steven semakin marah
"Kau! Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan pada keluargamu! kau ingin egois, aku juga ingin egois" Geram Steven yang berlari mencari dokumen pemindahan aset keluarga Rey menjadi milik Steven
"Shiittt! " Saat mencari dokumen dia sempat melihat pil kecil yang terjatuh di dekat bantal istrinya
"Apa ini? Apa Zena sakit? Tapi kenapa dia tidak memberitahuku? " Gumam Steven yang melihat pil berukuran kecil lalu menyimpannya di dalam plastik
"Aku harus menghubungi Riyan, karna dia dokter pribadi Zena" Sambungnya lagi
Di raihnya ponselnya lalu mencari kontak nama sekertarisnya lalu dia menekan tombol telfon dan benda pipih itu sudah di dekat telinga Steven
"Nanda, cepat bereskan keluarga Rey, aku ingin keluarga mereka hancur dan mengemis padaku untuk mengembalikan asetnya, agar wanita itu tahu bagaimana keseriusanku dalam berbicara"
"Dan satu lagi, panggilkan dokter Riyan kerumah, karna ada sesuatu yang harus aku bahas dengan dia! " Titah Steven
"Baik Tuan, oh iya apa Nyonya muda sakit lagi? "
"Jangan banyak bertanya! Cepat lakukan apa yang aku perintahkan!"
"Ba-tut..tut..tut.. " Panggilan telah berakhir.
***
"Mommy, mommy sebenarnya kita mau kemana? " Tanya Rio saat sudah di dalam mobil
"Dan kenapa kita perginya terburu-buru mom," Sambungnya lagi sambil menatap wajah Zena yang sedang menyetir
Zena ya sedang kesal pun berusaha mengontrol emosinya untuk meladeni putra dari suaminya
"Sayang, mommy mau minta tolong boleh? "
"Boleh, asalkan Rio bisa bantu, pasti Rio akan bantu" Jawab Rio sambil memamerkan gigi putih dan rapihnya
"Jika kita sudah sampai, jangan pernah bicara sedikitpun tentang Daddy ya, karna mommy bilang ke teman mommy, kalau mommy belum menikah sama Daddy"
"Kenapa mom? Apa Daddy kurang tampan? Atau karna Daddy sudah tua? Makannya mommy tidak mau mengakui Daddy sebagai suami mommy" Jawab Rio kecewa, dia fikir mommy barunya akan sayang padanya dan Daddynya
"Apa mommy tidak menyayangi Daddy" Lirih Rio lagi
"Bukan begitu sayang, ini karna tuntutan pekerjaan, anak kecil seperti Rio tidak akan mengerti dengan apa yang mommy bicarakan"
__ADS_1
"Dan mommy sangat menyayangi Daddy, maka dari itu mommy mau menjaga Daddy" Jawab Zena sambil fokus menyetir
"Baik mom, tapi aku bolehkan memanggil mommy di depan teman mommy"
"Please,"
"Boleh sayang, Rio anak mommy, jadi Rio boleh panggil mommy"
"Ayo kita turun, kita sudah sampai"
"Ingat sayang, jangan bahas Daddy pada siapapun, okeh? " Ucap Zena sambil menyatukan jari telunjuk dengan jempolnya menggambarkan huruf O
"Okeh mom"
Setelah sampai di parkiran kantor Riski, Zena mengirim pesan singkat yang mengatakan bahwa dirinya sudah berada di parkiran kantornya,
Tak lama pesan singkat itupun dibalas oleh Riski, Riski yang memang sudah siap dan gagah menunggu kehadiran calon kekasihnya
"Bagaimana al? Apa aku sudah tampan? " Tanya Riski pada sekertarisnya membuat al menggelengkan kepalanya heran, karna sudah 3 kali bahkan lebih Riski selalu bercermin dan meminta pendapatnya tentang ketampanan dan pakaian yang dikenakannya
"Aku harus tampil tampan saat bertemu dengan pujaan hatiku" Ucapnya lagi sambil tersenyum
"Bagaimana Al? " Tanyanya lagi
"Itu harus Al, oh iya bagaimana dengan rambutku? aku harus mengganti gaya rambutku atau tidak? "
"Tidak usah Tuan, Tuan sudah -" Ucapan sekertaris Al terhenti saat Riski memotong ucapannya
"Sudah perfect kan,?" Timpal Riski lalu melihat jam di pergelangan tangannya "Ayo kita turun, aku tidak mau Zena menunggu terlalu lama di loby" Sambungnya lagi yang berjalan keluar ruangan dengan memasang wajah ceria berseri-seri
"Akhirnya kita bertemu lagi Zen, kali ini aku tidak akan melepaskanmu, aku akan memelukmu saat melihatmu di lobby" Gumam Riski dalam hati, dia berjalan begitu cepat karna sudah tak tahan dengan rasa rindunya
Zena memasuki kantor Riski dengan menggandeng tangan Rio, tak henti-hentinya Rio bertanya tentang benda yang dia jumpai
"Mom, komputer itu apa? " Tanya Rio saat Zena menjelaskan benda yang ditatap karyawan SC Group
"Komputer itu-, mas Riski" Gumam Zena saat melihat Riski keluar dari lift
"Hah? Komputer itu mas Riski? " Jawab Rio dengan polosnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Mas Riski itu apa mom? " Tanyanya kembali
"Eh salah sayang, mas Riski itu teman mommy"
__ADS_1
"Dan komputer itu benda yang sangat canggih dan genius, Rio bisa lihat punya Daddy diruang kerjanya"
"Wahh, ayo mom kita pulang, Rio harus melihat bagaimana isi dari komputer itu" Ucap Rio sambil menarik tangan Zena untuk keluar kantor
"Zen" Panggil Riski lalu menatap anak kecil yang merengek pulang
"Siapa dia? " Tanyanya lagi
"Mommy ayo pulang" Rengek Rio membuat jantung Riski terasa terhenti
Degg!
"Mommy" Ulang Riski dengan nafas yang sesak
"Sayang, mommy mau bicara dulu dengan om Riski, habis itu kita pulang"
"Tapi, aku ingin melihat komputer mom" Rengek Rio yang kini sedang menarik gaun milik Zena
Riski berjongkok lalu mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil yang dibawa wanita idamannya
"Siapa namamu" Tanya Riski yang tidak dijawab Rio
"Sayang," Ucap Zena mengusap kepala Rio dengan lembut, "Jawab ucapan om" Sambungnya lagi membuat Rio bersuara
"Aku tidak mau mommy, aku mau pulang lalu melihat komputer" Ucap Rio tegas, dia memalingkan wajahnya dan menyimpannya di himpitan gaun Zena
Mendengar kata komputer Riski langsung berbicara "Di ruangan om ada komputer, ayo kita keruangan om, ada banyak mainan juga" Ujar Riski membuat Rio menatapnya berbinar
"Beneran om? " Tanya Rio yang diangguki Riski
"Beneran, kalau boleh tahu siapa namamu anak tampan"
"Perkenalkan nama aku Rio, aku anak mommy, dan om" Tunjuk Rio pada Riski "Jangan pernah dekati mommy Rio" Sambungnya lagi membuat Zena menggelengkan kepalanya
Tak ingin berdebat akhirnya Riski membawa Rio dan Zena kedalam ruangannya,
"Ini komputer milik om, dan Rio bisa langsung bermain, ada beberapa game online kesukaan om di komputer itu"
"Baik om" Rio langsung duduk di kursi kebesaran Riski, dan Riski berjalan menghampiri Zena yang sudah duduk di sofa
"Zen, siapa dia? Apa benar dia anakmu? Tapi bukankah kamu belum menikah? Apa ini alasannya kamu menolak lamaranku? " Tanya Riski dengan beberapa pertanyaan
Yuk jangan lupa tinggalkan jejak kalian seperti like, komen, vote dan hadiah🎁
__ADS_1
Bersambung😘