
"Keraskan volumenya, sayang," titah Steven saat melihat remot televisi dipegang istrinya.
"Memangnya, ada apa Mas?"
"A-apa, Jeff berada di pesawat itu?" tanya Zena ragu, dia menatap wajah suaminya yang sudah berubah cemas.
"A-aku tidak tahu sayang. Aku tidak mendengar jelas pesawat yang ditumpangi Jeff. Tapi, sampai sekarang .. Jeff belum ada kabar," ucap Steven beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Zena saat melihat suaminya bersiap-siap pergi.
"Aku mau memastikan ke bandara. Nama orang yang berada di dalam pesawat itu. Aku harap, nama Jeff tidak terdaftar di penumpang pesawat itu!" jawab Steven kemudian mengecup kening istri dan anaknya.
"Aku ikut Mas, aku mau memastikan juga," titah Zena yang mendapat gelengan dari Steven.
"Jangan sayang. Lebih baik, kamu di rumah dan jaga baby Evan dengan baik. Aku akan kembali secepatnya," ucap Steven mengecup sekilas bibir istrinya yang berwarna merah.
"Mas, bisa tidak sih, kalau cium itu yang wajar aja. Cium bibir di depan anak kita, memang Mas Steven mau, anak kita melihat--"
"Tidak akan, baby Evan sedang tidur dan dia masih bayi. Aku akan pergi sekarang. Kamu jaga anak kita dan Rio, jangan pergi kemanapun sebelum aku kembali!" ujar Steven yang mendapat anggukan kepala dari Zena.
"Dad! Daddy mau kemana? Rio ikut!" teriak Rio saat melihat Steven terburu-buru.
Steven menghentikan langkanya dan menoleh pada putranya yang sudah besar.
__ADS_1
"Daddy ada urusan sebentar! Rio jaga mommy di sini. Jangan nakal! jangan main game terus!" titah Steven mengecup pucuk kepala putra tirinya.
"Rio ikut, Rio mau menjaga Daddy, ini sudah malam. Rio tidak mau Daddy pergi sediri. Pokoknya Rio ikut!" rengek Rio melingkarkan tangannya di kaki Steven.
"Biarkan saja Rio ikut Mas, dia bisa menemani atau menjadi teman ceritamu di mobil. Kalian hati-hati, lagipula di sini ada Bibi dan lainnya," timpal Zena mendapat anggukan dari Rio.
"Mommy saja mengizinkan aku ikut, masa Daddy enggak! Ayo Daddy! Rio ikut!" rengek Rio menarik ujung pakaian Steven.
"Huh! ayo, janji ... Rio jangan membuat ulah atau kegaduhan di sana?"
"Memangnya kenapa? Ada apa Dad?"
"Tergantung Rio, kalau Rio--"
"Rio hati-hati. Jangan lari!" teriak Zena saat melihat putranya menyusul kepergian suaminya.
"Iya Mom, I love you, Mom!" teriak Rio.
"Love you more," jawab Zena yang tak sengaja membuat baby Evan menangis.
Oek ...
Oek ....
__ADS_1
"Mas! kamu udah buat anakku bangun!" teriak Zena mengambil putranya yang berada di stroller.
***
Setelah sampai di bandara, Steven dan Rio bisa melihat banyak sekali orang yang sedang berbondong-bondong masuk ke bandara, membuat anak kecil yang berada di samping Steven terheran.
"Dad! kita mau ngapain di sini? kita mau pergi?" tanya Rio melepas sabuk pengamannya, "Tapi, kita pergi berdua? mommy dan babby Evan, gimana? Daddy benar-benar tega. Mommy baru saja melahirkan adik Rio, dan sekarang ... Daddy malah pergi!"
"Rio, jangan banyak bicara. Ikut Daddy atau tunggu di mobil!" titah Steven setelah membuka pintu mobilnya.
"Rio mau pulang aja, Dad! Rio besok sekolah, dan Rio gak mau pergi berdua dengan Daddy. Rio kasihan sama mommy yang menjaga adik Rio," ketus Rio.
"Kalau begitu, tunggu Daddy di sini. Jangan kemana-mana, kunci mobilnya dari dalam."
"Memang Daddy mau kemana? Daddy mau menjemput siapa? atau Daddy mau pergi ya?" teriak Rio yang diabaikan oleh Steven.
Steven berjalan cepat agar sampai di dalam bandara. Menerobos kerumunan orang-orang yang diyakini keluarga dari penumpang pesawat jatuh membuat emosi Steven perlahan naik
"Tolong cek, apa ada nama penumpang yang bernama Jeffrey Louis di daftar penumpang kecelakaan pesawat yang baru saja terjadi" titah Steven setelah berhadapan dengan seseorang yang sedang menenangkan semua orang-orang.
"Silahkan, anda bisa baca sendiri di layar. Beberapa nama penumpang pesawat tertera di sana," titah petugas, kemudian Steven membaca dengan teliti.
'Semoga saja, namamu tidak ada di dalam daftar kecelakaan pesawat itu, Jeff. Aku benar-benar bersalah, karena mengizinkanmu pergi,' gumam Steven dalam hati.
__ADS_1
Bersambungš