Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 133_Kehadiran Sheila


__ADS_3

"Untuk dokter," ucap Jeff tersenyum kaku.


"Untukku? dalam rangka acara apa?" tanya dokter Irma mengambil coklat pemberian Jeff.


"Tidak dalam rangka acara apa-apa. Oh idenganku malam ini?" tanya Jeff menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh Jeff sedang dilanda rasa malu akan penolakan dokter Irma.


"Dinner?"


"Emm, tapi maaf--" ucapan dokter Irma terhenti.


"Baik, saya bisa memaklumi kesibukan dokter Irma. Kalau begitu saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggu pekerjaan dokter," ucap Jeff dengan perasaan malunya.


Melihat pria yang memberikan coklat untuknya pergi, dokter Irma pun tersenyum. Dia berusaha menghentikan langka Jeff.


"Tunggu, aku belum selesai bicara," ucap dokter Irma menghentikan langkah Jeff.


Jeff memutar tubuhnya agar menghadap dokter Irma, "Apa maksud dokter?" tanya Jeff, "Jika dokter tidak bisa, saya tidak memaksa dok," sambung Jeff.


"Memangnya sejak kapan aku bilang tidak bisa hem? Bukankah ucapanku tadi sudah dipotong olehmu dulu?" ujar dokter Irma tersenyum.


"Ja-jadi dokter mau berkencan dengan saya?" tanya Jeff dengan mata berbinar.


Dokter Irma menganggukkan kepalanya, "Iya, aku mau ... tap--"


"Yes! Yes! Yes! Terimkasih dokter ... Terimakasih!" pekik Jeff menarik tubuh dokter Irma kedalam pelukannya.


"Lepasin dulu!" pekik dokter Irma, "Aku belum selesai bicara," gerutunya sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Cepat bicara, saya siap mendengarkannya dok!" ucap Jeff tersenyum manis.


"Jangan malam ini, kita akan atur lain waktu saja. Karena hari ini jadwalku sangat padat," ujar dokter Irma.


"Dan kau Jeff! Memangnya kau sudah meminta izin padaku hah! Seenaknya saja mengajak wanita kencan tanpa memberitahuku dulu!" ucap Steven tiba-tiba yang muncul dari balik pintu.


"Tuan ... Tuan menguping pembicaraan saya?" kesal Jeff saat Steven tiba-tiba berbicara dan pintu sudah terbuka lebar memperlihatkan beberapa Ibu-ibu hamil yang sedang mengantri.


"Tanpa aku menguping, aku juga bisa mendengar suaramu yang keras itu. Iya kan sayang?" ucap Steven yang disetujui Zena.

__ADS_1


"Benar, semua Ibu-ibu hamil di sini sangat penasaran saat mendengar jeritanmu itu. Mereka semua berfikiran jika kalian berdua sedang--" ucapan Zena terhenti saat melihat wajah malu dokter Irma.


"Nyonya, Tuan dan semuanya. Maaf jika ucapan saya mengganggu kalian, tapi ... bolehkan saya menutup pintu ruangan sebentar saja, ada sesuatu penting yang harus saya bicarakan dengan dokter Irma," ucap Jeff tersenyum lalu menutup pintu ruangan dokter Irma.


"Dok, ini kartu nama saya--"


"Ahh jangan-jangan, jika saya memberikan kartu nama ini pada dokter, bisa- bisa dokter tidak menghubungiku. Biar saya yang menyimpan nomor dokter, agar mempermudah saya," titah Jeff merogoh saku celana dan mengambil ponselnya.


"Ini ... dokter catat nomor ponsel dokter di ponsel saya," sambung Jeff memberikan ponselnya.


"Lain kali, jika ingin berteriak jangan di sini. Aku malu dengan semua pasienku," gerutu dokter Irma mengambil dan mencatat nomornya di ponsel Jeff.


Melihat ekspresi marah yang menggemaskan, membuat Jeff ingin mencubit pipi wanitanya ini.


'Eh tunggu dulu, wanita?' pikir Jeff, 'Aku belum memperjelas statusku dengan dokter Irma,' batin Jeff lagi.


"Dok, mulai sekarang dokter mau kan menjadi pacar saya?" tanya Jeff mengambil ponselnya.


"Pacar?" ulang dokter Irma, "Maaf aku tidak bisa menerimanya, ini terlalu cepat bagiku. Karena mau bagaimanapun kita belum saling mengenal," jawab dokter Irma.


"Tapi saya orang baik dok, saya mempunyai hati yang tulus. Dan kita sudah saling mengenal saat usia kehamilan Nyonya Zena menginjak 4 bulan," ucap Jeff tak pantang menyerah.


"Ya sudah, saya tidak bisa memaksakan kehendak dokter. Dokter mau menerima ajakan kencan saya, itu juga sudah membuat saya bahagia," ucap Jeff, "Kalau begitu saya permisi, kabari saya ... jika dokter mempunyai waktu luang, dan semangat kerjanya dokter Irma yang cantik," goda Jeff mengedipkan salah satu matanya.


Dokter Irma tersenyum, dia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pria tampan dewasa tetapi sikapnya belum dewasa seperti umurnya.


"Hati-hati," ucap dokter Irma lirih membuat hati Jeff semakin berbunga-bunga.


"Pasti dok," jawab Jeff membuka pintu ruangan dokter Irma.


"Sudah selesai perbucinannya?" sindir Steven, "Aku baru tahu ... ada anak buah yang berani memerintahkan bossnya demi kebucinannya," sambung Steven lagi.


"Maaf Tuan, maafkan saya ... saya kelewat bahagia karena dokter Irma menerima ajakan kencan saya," ucap Jeff tersenyum.


"Jeff apa cintamu diterima oleh dokter Irma?" tanya Zena membuat Jeff menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Dia melihat semua pasien yang sedang menatapnya.


"Nyonya, Tuan ... mari saya antar pulang. Hari sudah siang," ucap Jeff mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Senangnya bisa mendapatkan cinta dokter Irma yang cantik itu," ucap salah satu ibu hamil yang melihat ekspresi bahagia Jeff.


"Iya Bu, sudah cantik, baik, ramah juga," timpal Ibu-ibu lainnya, "Calon istri idaman," sambungnya lagi.


Jeff hanya tersenyum saat mendengar semua ucapan Ibu-ibu hamil yang memuji kebaikan dokter Irma.


"Ayo Jeff, antarkan aku dan istriku ke kantor," titah Steven menggandeng lengan istrinya.


"Mas, kita kan lagi berantem. Kenapa tiba-tiba kita menjadi akur?" tanya Zena melepas tangan suaminya.


"Bukankah kita sudah berbaikan dari tadi sayang?" ucap Steven tersenyum puas.


"Tidak Mas, aku--" ucapan Zena terhenti saat melihat wanita cantik yang berjalan menujunya.


"Mas, kamu benar-benar selingkuh di belakangku?" tanya Zena menghentikan langkahnya.


"Sudah beberapa kali aku bilang. Aku tidak pernah--" ucapannya terhenti saat melihat Sheila berjalan menujunya.


"Sayang, ini bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak mempunyai hubungan lagi dengan Sheila. Sungguh!" bela Steven meraih tangan istrinya.


"Mas, lalu untuk apa dia ada di sini, jika bukan untuk menemuimu?" ucap Zena tak percaya.


"Aku tidak tahu sayang, percayalah padaku." jawab Steven.


Sheila yang sedang berjalan pun tak sengaja melihat Steven dan istrinya yang sedang menatapnya. Segera Sheila menghampiri mantan kekasihnya yang sudah menghancurkan karirnya.


"Hai Steve, akhirnya kita bertemu juga," ucap Sheila tersenyum sinis. Pandangannya beralih pada wanita di samping Steven, "Hei, sudah besar juga kehamilanmu," ujarnya lagi.


"Ayo kita pergi Mas," titah Zena menggandeng lengan suaminya.


"Kenapa buru-buru Nyonya Steven, kita baru saja bertemu. Lebih baik kita mengobrol manja sebentar. Akan ku ceritakan hubunganku dengan Steven yang sangat romantis," ucap Sheila.


"Jangan percaya padanya, aku tidak punya hubungan apapun dengannya," elak Steven.


"Dan kau! Jangan racuni pikiran istriku dengan mulutmu yang busuk itu!" ujar Steven menunjuk tubuh Sheila.


"Aku percaya padamu Mas, wanita ular ini memang harus dimusnahkan," ucap Zena.

__ADS_1


'Walaupun aku masih menaruh curiga padamu Mas,' batin Zena menatap suami dan Sheila bergantian.


__ADS_2