Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 108_Rumah Sakit


__ADS_3

" Pergilah, dan sampai kapan istriku tertidur?" tanya Steven kepada dokter Riyan yang baru saja melangkahkan kakinya.


"Sampai Tuan tidak membangunkan, dan sampai Zena membuka matanya," jawab dokter Riyan berlari menutup keluar ruangan dan menutup pintu dengan keras membuat Zena terbangun dari tidurnya.


Brak!"


Pintu tertutup kencang, Steven yang mendengar suara pintu itu segera mengusap dadanya.


"Mas, kamu bisa tidak ... kalau melakukan hal apapun dengan lembut, kamu membuatku terbangun dari mimpi indahku," gerutu Zena sambil mengucek kedua matanya, dia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk.


"Bukan aku sayang, tapi dokter gila itu. Bagaimana keadaanmu, apa masih ada yang sakit?" tanya Steven yang mendapat gelengan dari Zena.


"Aku sudah baik-baik saja mas, ayo kita pulang. Tapi sebelum kita pulang, aku mau membeli es krim dulu," ujar Zena yang turun dari tempat tidurnya. Dia sudah tidak sabar memakan es krim rasa coklat lagi.


"Sayang, kamu belum sembuh ... dan mulai sekarang, aku melarang keras kamu memakan es krim,"


Zena tertegun. Dia benar-benar shock dengan ucapan suaminya, "Itu makanan favoritku, kamu tidak bisa melarangku Mas,"


"Aku berhak melarang mu demi kebaikanmu sayang,"


"Kamu tidak mau kan, jika terjadi sesuatu pada anak kita?" tanya Steven yang mendapat pukulan keras di pundaknya.


"Mas, kamu nyumpahin akan terjadi hal buruk dengan anakku!" seru Zena, dia memukul dada kekar suaminya.


"Sabar Steve, dia istrimu. Istri yang kamu cintai, terkadang mood orang hamil memang suka berubah, sabar ... ingat, ada anakmu di dalam rahimnya," gumam Steven dalam hati, dia membiarkan istrinya memukul tubuhnya sampai puas.


"Mas, kamu jahat ... baru saja kita sampai, tapi kenapa kamu melarangku membeli es krim, dan lebih parahnya kamu menyumpahi anak aku," racau Zena.


Pukulan yang diberikan Zena perlahan menghilang digantikan dengan isak tangis istrinya.


Mendengar istrinya menangis, Steven mengusap punggung istrinya agar tenang.

__ADS_1


"Beginikah yang dinamakan perubahan mood wanita, aku benar-benar dibuat pusing," gumam Steven dalam hati yang nengecup pucuk kepala istrinya.


"Mas, kamu jahat ... aku lebih menyukai Dave, dia memperbolehkanku memakan es krim hiks ... hiks ...," ujar Zena.


Mendengar nama Dave, emosi Steven benar-benar tidak bisa di bendung lagi, dia melepaskan pelukannya secara paksa.


"Jangan sebut nama itu lagi, telingaku terasa sakit. Di sini aku suamimu bukan dia, dan aku berhak menentukan makanan apa saja yang boleh di konsumsi oleh istriku. Aku tidak melarangmu memakan semua makanan yang kamu suka, tapi jika sudah menyangkut kesehatan kamu dan calon anak kita, aku tidak bisa tinggal diam!" pekik Steven keras, membuat Jeff dan sekertaris Nanda yang sedang berjaga di luar ruangan terkejut.


"Jeff, apa Tuan sedang marah?" tanya sekertaris Nanda yang di angguki Jeff.


"Mungkin saja, kita harus mengintipnya. Aku tidak mau Nyonya terluka karena Tuan, dia sedang hamil," ujar Jeff berjalan lalu menajamkan matanya ke kaca jendela ruangan Nyonya mudanya.


"Bodoh, masuklah dan jangan mengintip. Jika Tuan tahu kita mengintip pasti dia akan semakin marah,"


"Hei sekertaris Nanda, otakmu sudah geser yah, jika kita masuk ... Tuan akan semakin marah,"


"Otakmu yang geser, kamu hampir mempermainkan nyawa aku di dalam mobil," gerutu sekertaris Nanda, dia menghampiri Jeff lalu memukul pundaknya, "Geser, aku mau melihatnya," ujar sekertaris Nanda membuat Jeff menoleh dan menggeserkan tubuhnya beberapa langkah.


"Lihat, Tuan marah besar ... Kira-kira apa ya penyebab Tuan marah seperti itu," ujar Jeff kepada sekertaris Nanda.


"Lihat, Nyonya kasihan ... dia pasti ketakutan,"


"Benar Jeff, Tuan selalu seperti itu bersikap keras kepada siapapun tanpa pandang orang," ujar sekertaris Nanda yang mendapat gelengan dari Jeff.


"Tidak, tidak ... aku kurang setuju dengan ucapanmu itu,"


"Memangnya ucapanku salah?" tanya sekertaris Nanda yang diangguki Jeff.


"Iya salah, perlu diralat ucapanmu itu. Tuan bersikap lembut hanya pada Nona Sheila," jawab Jeff membuat sekertaris Nanda berfikir lalu menyetujui ucapannya.


"Benar Jeff, aku setuju dengan ucapanmu," jawab sekertaris Nanda lalu mereka tersenyum bersama dan menonton drama pertengkaran Tuan serta Nyonya nya.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sini, hah!" seru dokter Riyan mengejutkan Jeff dan sekertaris Nanda.


"Eh dokter, dokter sedang apa di sini?" tanya Jeff pada dokter Riyan.


Sekertaris Nanda menyenggol lengan Jeff, "Kau ... kau ini selain bodoh ternyata kau juga lemot. Dia dokter di rumah sakit ini, memangnya apa yang dilakukan dokter jika di rumah sakit," gerutu sekertaris Nanda kesal dengan sikap Jeff.


"Aku tahu bodoh, aku tahu dia dokter ... bukankah aku bertanya, sedang apa dokter di sini, tugas dokter itu memeriksa pasien, bukan menguping pembicaraan kita di sini," ujar Jeff kesal.


"Apa yang kalian lakukan di sini," tanya dokter Riyan sekali lagi. Dia melirik sekilas kaca jendela yang tidak tertutup tirai korden.


"Minggir, apa yang terjadi pada mereka," sambungnya yang mengusir Jeff serta sekertaris Nanda yang menghalangi pemandangannya.


"Huh, dia benar-benar membuat Zena ketakutan. Kenapa kalian membawa Zena, biarkan dia bersama Dave sampai anaknya terlahir,"


"Aku tidak tahu ...," ujar Jeff polos. Lalu pandangan beralih pada wanita cantik yang sedang berjalan kearahnya.


"Shittt ... pelakor datang, aku tidak mau bertemu dengan pelakor semacam dia, lebih baik aku menghindar," gumam Jeff dalam hati.


"Sekertaris Nanda, dokter Riyan," panggil Jeff membuat mereka berdua menatapnya.


"Aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku ambil di dalam mobil," ujar Jeff yang beranjak lalu berlari meninggalkan kedua pria yang sedang menatapnya bingung.


"Saya akan masuk kedalam ruangan untuk memisahkan mereka," ujar dokter Riyan yang langsung membuka pintu ruangan Zena.


Terakhir tinggalah sekertaris Nanda yang baru saja mendudukan bokongnya di kursi depan ruangan Nyonya mudanya.


"Waktunya beristirahat," gumamnya sambil tersenyum, dia mengeluarkan ponselnya dan menscroll sosial medianya.


"Sekertaris Nanda," panggil seorang wanita yang sudah berdiri dihadapannya.


Yuk gaes, jangan lupa like, favorite, komen, vote dan hadiahnya 😆😆

__ADS_1


Sehat-sehat semuanya,


Bersambung😘


__ADS_2