Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 138_Kamar Mandi


__ADS_3

Sheila semakin kesal saat Riski menyamakan mulutnya dengan speaker musik, "Apa kau bilang! Mulutku seperti toa!" teriak Sheila lagi.


Tak sengaja Riski melihat buah yang tergeletak di atas meja. Di raihnya buah apel yang sudah di potong-potong, "Lebih baik, makan! Memangnya tidak cape berteriak keras seperti tadi hah! Aku saja yang mendengarnya sudah cape," ucap Riski memasukan satu potong buah apel berukuran besar kedalam mulut Sheila.


Mulut Sheila menerima potongan buah yang diberikan paksa oleh Riski, "Kau--" ucapannya terpotong saat Sheila tersedak buah apelnya.


Uhuukk ...


"Kau--" Sheila menunjuk gelas air putih milik Riski.


"Ini punyaku. Lebih baik, kau beli minuman mu sendiri. Jangan meminum milik orang lain!" ucap Riski meraih dan meminum airnya sampai setengah gelas.


Merasa tidak ada pilihan lain, dan buah yang berhenti di tengah tenggorokannya, Sheila merebut gelas yang di pegang oleh Riski. Dia meminum air putih itu sampai tandas tak tersisa.


Glek ....


Glek ....


"Kau benar-benar keterlaluan! Kau ingin membuatku mati mengenaskan di sini hah!" pekik Sheila setelah meminum air putih milik Riski.


"Kau tidak jijik? Itu bekasku?" ucap Riski melihat gelasnya sudah kosong.


"Untuk keadaan darurat tidak ada kata jijik. Lebih baik jijik sesaat daripada nyawaku yang hilang!" jawab Sheila, "Sekarang aku mau pergi. Aku akan menemui kekasihku, Steven," lanjutnya lagi beranjak dari duduknya, "Aww .. aww kenapa kakiku masih sakit?" ujar Sheila heran, "Padahal aku sudah mengoleskan minyak urut yang selalu aku bawa kemana-mana," gumamnya lagi membuat Riski yang mendengar tertawa lebar.


"Kenapa tertawa hah!" tanya Sheila melihat pria di hadapannya tertawa lebar, "Tidak ada yang lucu, hentikan tawamu itu!" sambungnya lagi.


"Wajah ... oke, penampilan ... oke, tapi tidak disangka kemana-mana selalu membawa minyak urut, hahaha ... kenapa tidak sekalian membawa koyo agar sewaktu-waktu mulutmu terkilir, sudah ada obatnya, hahaha ...," ucap Riski dengan tawanya yang renyah.


Mata Sheila membulat sempurna, dia mengambil minyak urut itu dan mengoleskan pada bibir Riski, menahan rasa sakit untuk berjalan beberapa langkah dia lakukan demi membuat pria di hadapannya diam.


"Ishhh, Kau--" tunjuk Riski saat Sheila tertawa mengejek, "Aww panas, mulutku panas!" teriak Riski berlari menuju kamar mandi.


"Rasakan! untung aku membeli minyak ini yang hot, jadi aku bisa sumpel mulutnya agar tidak menertawakanku lagi!" ucap Sheila tertawa mengejek. Dia menyimpan minyak urutnya lagi ke dalam tas, agar Riski tidak bisa membalaskan perbuatannya.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi, sudah beberapa kali Riski membasuh bibirnya dengan air kran, "Kenapa panasnya tidak mau hilang!" gerutu Riski melihat bibirnya yang merah, "Awas saja! Aku akan membalas perbuatanmu!" geram Riski membasuh bibirnya kembali dengan air kran.


"Jangan dibasuh dengan air dingin, basuhlah dengan air hangat. Kau tahukan, minyak dan air tidak akan pernah menyatu. Sama saja seperti cintamu dengan Zena yang tidak akan pernah menyatu!" ejek Sheila saat mendengar gemercik air semakin deras.


"Siaal!" umpat Riski.


"Jika mau berbicara, lebih baik introspeksi diri dulu. Kau mengatakan cintaku dan Zena yang tidak akan pernah menyatu, lalu apa kabar dengan cintamu dengan Steven? Hahaha hanya berujung dengan kata 'Musuh'," ejek Riski kemudian membasuh bibirnya yang terasa panas.


"Siaall! Pintar juga bicaranya. Aku kira setelah mengoleskan minyak urut itu, dia akan diam ternyata sama saja!" kesal Sheila beranjak dari duduknya.


Dengan perlahan tapi pasti, Sheila menyeret kakinya yang terkilir agar sampai di kamar mandi tempat Riski berada, "Jaga ucapanmu itu!" pekik Sheila menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kau juga! Seharusnya yang dioleskan minyak itu mulutmu, bukan mulutku!" jawab Riski tak suka.


"Kau! Kau berani-beraninya bicara seperti itu padaku!" pekik Sheila berjalan masuk kamar mandi.


Karena kakinya kirinya terasa sakit, Sheila berpegangan pada dinding kokoh kamar mandi. Tak sengaja, Sheila melihat kecoa yang berada di dekat tempat sampah kamar mandi, "Aaaaaa .... kecoa!" jerit Sheila menabrak tubuh Riski dan mereka terjatuh di lantai dengan posisi Sheila di bawah tubuh Riski.


"Astaga!" pekik dokter Riyan saat melihat Riski dan Sheila tidur di lantai kamar mandi.


"Memangnya tidak ada tempat lain selain di kamar mandi hah! Kalian bisa menggunakan kasur dan kunci rapat ruangan ini!" sambungnya lagi.


Mendengar suara dokter Riyan, Riski langsung bangkit dan membenarkan pakaiannya, "Kami tidak melakukan apa-apa dok!" ketus Riski berjalan keluar kamar mandi meninggalkan Sheila dan dokter Riyan.


"Dok! Tolong aku, kakiku sedang terkilir dan tidak bisa berjalan," rengek Sheila saat kakinya bertambah sakit.


"Jika kamu tidak bisa berjalan, lalu bagaimana bisa kamu dan dia berada dalam satu kamar mandi?" tanya dokter Riyan mengulurkan tangannya menolong Sheila.


"Aku ingin menyumpal mulut nya yang berbau busuk dok!" ucap Sheila menerima uluran tangan dokter Riyan, "Sakit dok, aku tidak bisa berjalan. Aku harus digendong," ujar Sheila mengusap kaki kirinya.


"Huh!" Dokter Riyan menghembuskan nafasnya kasar lalu menggendong tubuh Sheila keluar kamar mandi.


Setelah meletakkan dan mengecek tubuh Sheila di ranjang milik Riski, Dokter Riyan berjalan dan duduk di sofa dengan Riski.

__ADS_1


"Lebih baik kalian menikah!" ucap dokter Riyan yang mengejutkan Sheila dan Riski.


"Menikah?" ulang Riski dan Sheila bersamaan.


"Aku tidak mau menikah dengan pria bodoh seperti dia!" ucap Sheila menggelengkan kepalanya.


"Memang, siapa yang sudi menikah dengan wanita ular sepertimu! Lebih baik, aku tidak menikah daripada harus menikah dengan wanita berhati iblis, bermulut pedas," ucap Riski memainkan ponselnya.


"Ishh, siapa juga yang mau menikah denganmu!" ketus Sheila.


"Kalian sangat cocok! Dan saya yakin, jika kalian berjodoh!" ucap dokter Riyan tersenyum saat melihat tingkah sepasang manusia yang menurutnya aneh dan lucu.


"Tidak mungkin, tidak mungkin ... aku berjodoh dengan mulut pedas seperti dia, bisa mati berdiri, jika setiap hari mendengar ocehannya!" ujar Riski menatap sinis Sheila.


"Dan aku juga tidak akan sudi, jika menikah dengan pria gila seperti dia, bisa gila aku!" ucap Sheila.


"Fix! Kalian berjodoh!" ucap dokter Riyan berdiri dari duduknya.


"Tidak mungkin!!!" jawab Sheila dan Riski bersamaan.


"Ya kan! untuk kali ini kalian sangat kompak. Lebih baik, kalian lupakan masalalu masing-masing dan mulai membuka lembaran baru. Agar kata 'Kamu dan Aku bisa tergantikan dengan Kita'," ucap dokter Riyan tertawa.


"Dokter!!" pekik Sheila dan Riski bersamaan.


"Kalian cocok!" ujar dokter Riyan berlari keluar ruangan.


"Issshhhhh ...,"


"Kenapa ikut-ikutan aku hah!" ucap Sheila kesal.


"Siapa yang ikut-ikutan hah!" jawab Riski kesal.


Bersambung 😘

__ADS_1


__ADS_2