Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 184_Merasa Bersalah


__ADS_3

"Maafkan aku, tapi ... katakan semua! selama ini, kau sudah tahu kan?" ucap Irma dengan suara lirih tapi penuh penekanan.


"Maafkan aku, Ir!" ujar dokter Riyan membuat Irma kecewa.


"Kau jahat! katamu kita teman! tapi kenapa hal sepenting ini, tidak ada yang memberitahuku!" gumam Irma memukul ringan dada dokter Riyan.


"Maafkan aku, dengarkan penjelasanku dulu," titah dokter Riyan meraih tangan teman wanitanya yang sedang memukul dadanya, "Tuan Steven menginginkan keadaan Jeff yang koma di rahasiakan. Dia bahkan memindahkan Jeff ke rumah sakit negara J, agar Jeff bisa mendapatkan perawatan yang terbaik. Dan untuk gantinya, Jack, kembaran dari Jeff menggantikan posisi Jeff untuk sementara waktu," jelas dokter Riyan.


"Tapi kau tega membohongiku, dok!" ucap Irma kecewa.


"Siapa yang membohongimu, Ir! aku sudah peringatkan berulangkali untuk menjauh dari Jeff sementara waktu, tapi apa? kau dengarkan perkataan ku atau tidak? tidak kan! jadi, jangan salahkan aku. Aku sudah memberimu kode, dan apa kau tidak menyadari perbedaan sikap Jeff dan kembarannya? mereka sangat berbeda!" ucap Riyan panjang lebar.


"Kau sudah pernah bertemu dengan kembaran Mas Jeff?" tanya Irma tak percaya.


"Iya, aku sudah pernah. Bahkan aku pernah dipukul karena tidak bejus menangani Jeff, aku adalah dokter yang menangani Jeff, sebelum Jeff dipindahkan ke luar negeri," ujar dokter Riyan membuat Irma menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak percaya dengan semua ini! Kenapa, kenapa tidak ada yang memberitahukan ku? apa salahku!" gumam Irma, tubuhnya merosot kebawah, hatinya benar-benar sakit.


"Ir?" dokter Riyan menekuk lututnya agar sejajar dengan tubuh Irma yang terjatuh di lantai.


"Jangan pegang aku! kau pembohong! kau bukan temanku!" ujar Irma menepis tangan temannya.


"Mengertilah, Tuan Steven ingin yang terbaik, setelah pertemuannya denganmu, tiba-tiba Jeff tergeletak di dalam kamar dengan darah yang mengalir. Bahkan dia kehabisan darah, dan di saat stok darah di rumah sakit ini habis. Kita bahkan mencari donor darah untuk Jeff, tapi Jack yang datang dan menyumbangkan darahnya," jelas dokter Riyan.


Irma mengingat-ingat kembali, pertemuan terakhir kali dengan Jeff asli, di mana dia menolak cinta Jeff dan melindungi kakaknya yang sedang bertengkar dengan Jeff.


"Jadi, waktu itu ... aku menemui Jack kembaran dari Mas Jeff?" gumam Irma saat mengingat pertemuannya di taman. Pertemuannya yang membuatnya terjebak dalam masalah yang begitu rumit.


"Kapan?"


"Tidak-tidak! Aku harus bertemu Mas Jeff sekarang juga, aku harus menceritakan semuanya tentang kelakuan kembarannya yang begitu breenggseeekk!" ujar Irma bangkit dari duduknya.


"Tunggu! Aku dengar-dengar, keadaan Jeff baru saja pulih. Apa kau yakin ingin memberitahukan semuanya? dia bukan tipe pria yang kuat, buktinya setelah pertemuannya denganmu. Tuan Steven menemukan Jeff hampir mati. Kau yakin ingin mengatakan semuanya? Lebih baik, pikirkan dulu sebelum bertindak!" ucap dokter Riyan membantu temannya bangkit.

__ADS_1


"Tapi aku tidak terima di permainkan seperti ini, dok! setidaknya, dia harus tahu kelakuan bejaatnya kembarannya," ujar Irma tangannya gatal ingin memukul dan mencabik-cabik wajah Jeff palsu di depan Jeff asli.


"Aku hanya mengingatkan saja, tapi pikirkan ucapanku," ucap dokter Riyan.


Seakan tuli, Irma mulai melangkahkan kakinya menuju kamar pasiennya, dia tak berniat membalas ucapan dari teman prianya.


Pikiran dan logika berjalan berlawanan. Satu sisi, Irma menginginkan kehancuran Jeff palsu, tapi satu sisi dia mencemaskan kesehatan pria yang dicintainya.


'Aku harus bersikap seperti apa?' batin Irma, langkahnya terhenti setelah sampai di depan ruangan Zena.


Berat rasanya untuk memutar gagang pintu ruangan Zena, pikirannya kembali lagi pada Jeff palsu yang telah menyakiti perasaannya.


'Apa aku bisa menghadapi mereka dalam satu ruangan? pasti rasanya sangat canggung,' batin Irma tak jadi meraih gagang pintu ruangan Zena.


"Tapi, aku merindukan Mas Jeff, aku ingin melihat keadaannya," gumam Irma, pikirannya bimbang.


Belum sempat Irma membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan munculah sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah Tesa, Ibu dari Steven dan mertua dari Zena.


"Eh, iya Nyonya ...," jawab Irma sambil menampilkan senyum kakunya, kemudian masuk ke dalam ruangan Zena.


Setelah masuk ke dalam ruangan, tatapan matanya langsung tertuju pada dua sosok pria yang sedang duduk di sofa.


'Wajahnya benar-benar mirip, pantas saja aku tidak bisa membedakan,' batin Irma berjalan menuju Zena yang tengah menidurkan putranya.


"Bagaimana dengan keadaan Nyonya? apa ada keluhan lain?" tanya Irma bersikap profesional walaupun hati dan pikirannya tertuju pada seseorang yang sedang menatapnya.


"Baik dok, sejauh ini ... tidak ada keluhan yang saya rasakan. Terimakasih, sudah menyelamatkan anak dan nyawa saya," ucap Zena sambil menepuk bayinya.


"Syukurlah," jawab Irma menganggukkan kepalanya, dia melihat bayi mungil berwarna merah yang tertidur lelap di samping pasiennya.


"Dok, kenapa putri saya tidak boleh di bawa kemari?" tanya Zena dengan pandangan fokus pada bayinya.


"Bukan tidak boleh, tapi putri Nyonya sedang menjalani perawatan intensif, jika kondisinya sudah stabil, anda boleh bertemu dengannya," jawab Irma.

__ADS_1


"Memangnya putri saya, kenapa dok? dia baik-baik saja kan?" tanya Zena, tiba-tiba raut wajahnya menjadi cemas.


"Baik-baik saja, sayang. Putri kita sedang membutuhkan perawatan yang terbaik, jangan dipikirkan lagi," timpal Steven menenangkan sambil mengusap pundak istrinya.


"Benar yang dikatakan suami saya, dok? putri saya baik-baik saja?" tanya Zena memastikan.


Irma menatap sekilas Steven lalu menganggukkan kepalanya, "Putri Nyonya, baik-baik saja. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Irma kemudian berjalan keluar ruangan.


Melihat wanita idamannya pergi, Jeff buru-buru mengejar Irma tanpa berpamitan dengan semua orang yang berada di ruangan.


"Kau lihat sendiri, Jack! intinya aku tidak mau tahu, semuanya harus cepat berakhir!" ujar Steven membuat Jack yang sedang mengompres wajahnya mengangguk patuh.


"Sebenarnya, ada apa Mas?" tanya Zena saat mendengar nada suara suaminya yang tidak bersahabat.


"Tidak ada apa-apa, hanya kesalahpahaman saja," jawab Steven.


Di luar ruangan, terlihat Jeff sedang meraih tangan wanita yang selama ini di rindukannya.


"Dokter Irma, lama kita tidak berjumpa. Bagaimana, keadaan dokter? baik-baik saja, kan?" tanya Jeff sambil tersenyum.


"Maaf, aku sibuk!" Irma menepis tangan Jeff kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


"Tunggu, ir!" cegah Jeff, "Apa kau marah?" tanyanya lagi.


'Aku marah? aku justru merasa bersalah kepadamu, Mas. Ternyata aku belum siap bertemu denganmu, maafkan aku Mas,' batin Irma.


"Irma?"


"Kamu marah karena aku tiba-tiba menghilang?" tanya Jeff, tangannya masih memegang tangan Irma.


"A-aku sibuk!" ketus Irma, air matanya perlahan menetes tetapi langsung dia hapus.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2