Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 179_Melahirkan


__ADS_3

"Tidak, aku tidak membutuhkan suamiku! Aku butuh rumah sakit!"


"Tapi Nyonya, tubuh saya sakit!" ucap sekertaris Nanda penuh kesakitan saat tangannya dicakar oleh istri Tuan nya.


"Cepat Mas! Aw ...."


"Cepat Tuan! Tubuh saya sakit semua!" teriak Nanda.


"Hei, kau berani memerintahkan ku?" teriak Steven cemas.


"Ah baiklah, saya nyerah. Tolong hentikan mobilnya, dan saya akan turun di pinggir jalan!" teriak Nanda.


"Aww ... Mas sakit Mas!"


"Nyonya, kuku anda menancap di kulit saya, hentikan Nyonya, saya bisa mati!" teriak Nanda.


"Nanda! Kau berani membentak istriku!" pekik Steven menghentikan mobilnya, "Turunlah!" sambungnya lagi.


"Mas cepat! Jangan bertengkar! perutku sakit!" teriak Zena menghalangi Nanda turun dari mobilnya.


"Nyonya, lepaskan tangan saya."


"Mas ... hikss ... sakit Mas!" rengek Zena membuat Steven menancapkan gas nya lagi.


"Tuan, saya belum turun!" ujar Nanda menyembunyikan lengannya dari cakaran istri Tuan nya.


"Jaga istriku!"


'Enak saja! Giliran seperti ini, harus aku yang menjaga,' batin Nanda kesal.


Setelah beberapa menit mobilnya membelah jalanan Ibukota yang cukup padat, akhirnya mobil Steven berhasil terparkir dengan mulus di depan rumah sakit, segera Steven keluar dan menggendong istrinya masuk ke dalam rumah sakit.


"Cepat bantu istri saya, sepertinya istri saya mau melahirkan!" titah Steven pada dokter Riyan.


"Baik ...."


"Sus, tolong bawa Nyonya Zena ke dalam ruang persalinan, aku ingin memberitahukan kabar ini pada dokter Irma, karena ... mau bagaimana pun, Irma dokter pribadi, Nyonya ...," titah dokter Riyan.


"Baik dok," jawab kedua suster.

__ADS_1


"Mas, aku takut Mas, kamu jangan pernah meninggalkanku sendiri, Mas!" ucap Zena memegang perutnya yang terasa sakit, "Aaw ... sakit Mas, hiks ... hiks ...."


"Sabar sayang, bertahanlah. Kau pasti kuat, sebentar lagi ... kita akan bertemu dengan anak-anak kita, sayang ...," ucap Steven memegang tangan istrinya.


"Akhirnya, aku terbebas juga dari Nyonya dan Tuan," ucap sekertaris Nanda bahagia, di rentangkan kedua tangannya ke udara, "Aku bersyukur ... aku masih hidup setelah terkena cakaran maut dari Nyonya, hahaha ...," kekeh Nanda sambil melihat lengannya yang merah lebam, "Bahkan, kulitku sampai terkelupas dan berdarah."


***


"Irma! Nyonya Zena mau melahirkan, air ketubannya sudah pecah, dan aku takut terjadi sesuatu pada calon anaknya," seru dokter Riyan setelah berada di ruang praktek temannya, "Irma! di mana kamu!" teriaknya lagi.


"Aku berada di kamar mandi, tunggu sebentar!" titah Irma mematikan kran air nya dan berjalan menghampiri teman prianya yang tengah menunggunya, "Ada apa?" tanya Irma setelah berada di dekat dokter Riyan.


"Nyonya Zena mau melahirkan, dia membutuhkanmu, Ir!" titah dokter Riyan mengejutkan Irma.


"Apa! Melahirkan? Bukankah ... HPL nya masih beberapa hari lagi?" ujar Irma, "Apa ada Mas Jeff di sana?" tanya Irma lagi.


"Untuk apa kau memikirkan pria brenggseeek sepertinya, ingat ... dia sudah mencampakkan mu. Buktinya, dia sama sekali tidak memberimu kabar, padahal sudah hampir satu bulan dia pergi meninggalkanmu! Sekarang, lebih baik ... kita bantu Nyonya Zena, kasihan dia ...," ujar doker Riyan menarik paksa tubuh Irma agar tidak memikirkan pria yang sudah meninggalkannya.


"Jangan tarik aku! Aku bisa jalan sendiri!" ucap Irma berusaha menepis tangan temannya.


"Jangan berisik, jika kau telat sedikit saja, dan nyawa istri serta anak-anak Tuan Steven dalam bahaya, maka orang yang pertama dia incar adalah kau, Irma!" jawab dokter Riyan, "Kau mau menjadi incaran orang seperti Tuan Steven?"


"Kau! bersikaplah profesional selayaknya dokter, dia pasien mu, Ir!"


"Iya, aku lepaskan. Aku akan ke sana," ujar Irma berjalan menuju ruang persalinan.


Di saat Irma sampai di dalam ruang persalinan, tiba-tiba tubuhnya bergetar, keringat dingin bercucuran, melihat keluarga Steven mengingatkan dirinya tentang kekasihnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


"Dok ... sakit, dok ...," ujar Zena saat melihat dokter Irma berjalan ragu ke arahnya.


Steven yang melihat langkah kaki dokter pribadi istrinya yang seperti siput pun merasa kesal.Tak henti-hentinya dia mengumpat dan memaki di dalam hatinya.


'Apa yang dia lakukan di saat darurat seperti ini!' batin Steven.


"Cepat tangani istriku!" teriak Steven, "Apa kau bodoh atau--"


"Baik Tuan," ucap Irma berjalan cepat dan mengecek keadaan pasiennya, "Air ketubannya sudah pecah, kita harus menindaklanjuti dengan operasi, Nyonya Zena tidak bisa melahirkan secara normal karena prekdisi kelahirannya masih sedikit lama," titah Irma kemudian memerintahkan suster untuk memindahkan Zena ke ruang operasi.


"Aku tidak mau di operasi Mas, aku takut. Pasti rasanya sangat sakit, aku tidak mau Mas!" ujar Zena membuat Steven menatap dokter Irma, dan dokter Irma hanya memberikan gelengan sebagai tanda isyarat tatapan Steven.

__ADS_1


"Sayang, bertahanlah. Siapa bilang, operasi sakit? Kan kita dibius?" ucap Steven mengusap kening istrinya yang bercucuran keringat.


"Mas, aku tidak mau! Aku tidak mau Mas!"


"Maafkan aku, sayang. Aku terpaksa, demi kamu dan anak-anak kita," ucap Steven kemudian menyetujui saran dokter Irma.


"Selamatkan istri dan anak-anak saya," ucap Steven pada dokter Irma.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin, tapi Tuan harus menandatangani persetujuan operasi ini, dan Tuan harus mengurus administrasi perawatan Nyonya," ucap Irma lagi.


***


Di negara J, tepatnya di kediaman Steven yang telah di huni oleh Jeff, Jack serta Tesa.


Mendapat kabar dari sekertaris putranya, jika menantunya akan melahirkan cucunya, Tesa sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju negara Indonesia.


"Nyonya, saya ikut?" rengek Jeff.


"Kau belum pulih total, lebih baik ... kau beristirahat sampai keadaanmu benar-benar pulih," jawab Tesa.


"Tapi saya merindukan seseorang. Dia pasti mencemaskan saya, karena sudah satu bulan lebih saya tidak mengabarinya," ucap Jeff mengatupkan kedua tangannya.


"Tidak Jeff!" tegas Tesa.


"Baiklah, Jack ikut juga, biar Jack yang menjaga saya. Agar Nyonya dan Tuan tidak terbebani, lagi pula ... saya sudah sembuh," rayu Jeff.


"Aku tidak bisa ikut, Jeff. Lebih baik, kita di sini, menjaga rumah ini," timpal Jack.


Jeff menoleh, dia melototkan matanya pada kembarannya, "Aku merindukan wanitaku, Jack. Aku hanya ingin--"


"Dia baik-baik saja," timpal Tesa.


"Nyonya, please! Aku mohon, izinkan saya ikut dengan Nyonya. Saya janji, saya tidak akan merepotkan Nyonya. Bila perlu, saya pergi sendiri menggunakan pesawat lain," pintar Jeff, lututnya mulai tertekuk dengan tangan mengatup di depan dada, "Saya mohon, Nyonya ...," sambungnya lagi.


"Bangkit Jeff, jangan bersikap seperti ini! Memangnya, kau sangat mencintai gadis itu?" ucap Tesa membuat Jeff menganggukkan kepalanya.


'Aku harap, kau baik-baik saja di sana. Dan aku harap, tidak ada yang berubah, entah sikap atau statusmu di sana, Ir ....' batin Jack.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2