Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 150_Gamis & Hijab


__ADS_3

"A-aku ... aku ... beri aku waktu untuk menjawab Mas, bagaimanapun aku harus menghubungi keluargaku dulu," jawab Sheila cengengesan sambil menampilkan deretan giginya putihnya.


"Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Lebih baik, sekarang kita pergi menemui keluargamu. Dan aku pastikan, keluargamu akan menyukaiku," ucap Leo percaya diri.


'Bagaimana ini ... jika ibu dan Ayah ku tahu, aku simpanan pria tua bangka, pasti aku akan di coret dari kartu keluarga dan tetangga akan mengiraku wanita tidak benar,' batin Sheila memikirkan cara agar terlepas dari pria di depannya.


"Mas, bagaimana kalau kita mengunjungi keluarga besok-besok saja. Maksudku, aku harus menghubunginya dulu. Aku tidak mungkin tiba-tiba membawa Mas, pasti keluarga ku shock," jawab Sheila menarik tangannya dari Leo.


"Emm benar juga. Ya sudah, sekarang hubungi keluarga mu. Lalu setelah makan siang ini, kita langsung pergi," ucap Leo.


"Emm ... kalau siang-siang begini, orang tuaku sibuk Mas, mereka tidak sempat memegang ponselnya," bohong Sheila meneguk minumannya.


"Ya sudah, beritahu orang tuamu saat kita berada dalam perjalanan saja. Lebih baik kita makan," jawab Leo membuat mata Sheila membulat sempurna,


Uhhukk ...


Sheila tersedak minumannya, "Emm iya Mas. Aku ke toilet sebentar," ujar Sheila berlari menuju toilet tanpa menunggu persetujuan Leo.


Di dalam toilet, Sheila berjalan mondar mandir, dia sedang memikirkan cara untuk mengatasi kekacauan ini.


"Jangan sampai keluargaku tahu aku simpanan pria tua, bisa habis aku," gumam Sheila mengigit ujung jarinya sambil mondar mandir, "Aku harus meminta tolong pada siapa? Aku tidak mau tahu, seluruh dunia tahu jika aku simpanan pria tua," lanjutnya lagi.


"Pergi bersamaku, dan pakai ini. Setidaknya bisa mengelabui anak buah Leo sesaat," titah seseorang yang mengagetkan Sheila.


"Ishh kau! Kenapa setiap hari hobimu mengagetkanku!" gerutu Sheila mengambil pakaian yang diberikan Riski, "Ini pakaian apa? Kamu memintaku memakan gamis dan hijab ini?" tanya Sheila tidak percaya.


"Jika kau ingin keluar dari sini, maka kau harus memakainya," ujar Riski mendudukkan bokongnya di ujung wastafel yang kering.


"Tapi bagaimana kalau ada yang mengenaliku?"


"Tidak akan ada, sekarang ganti pakaianmu. Aku tunggu di sini," titah Riski membuat mata Sheila melotot.


"Hei! Apa kau sudah gila! Ini toilet perempuan, kamu tidak bisa senak jidat masuk ke toilet perempuan," ujar Sheila kesal.


"Masuklah, dan cepat ganti pakaianmu. Pintu depan sudah aku kunci, tidak ada yang bisa masuk," jawab Riski kesal.

__ADS_1


"Tapi--"


"Jika masih ada 'tapi' sekali lagi, aku akan pergi meninggalkanmu di sini sendiri," ancam Riski membuat Sheila diam. Dia berjalan memasuki salah satu toilet dan mengganti pakaiannya dengan cepat.


Setelah menunggu 5 menit, akhirnya Sheila keluar dengan gamis yang melekat di tubuhnya, "Bagaimana? Aku seperti Ibu-ibu yang mau pergi pengajian kah?" tanya Sheila saat menatap dirinya di pantulan cermin.


Riski terpaku saat melihat penampilan yang berbeda dari Sheila, wanita ini terkesan lebih anggun dan manis saat memakai pakaian yang syar'i.


"Okeh juga," ucap Riski mengeluarkan masker dan memberikan pada Sheila.


"Aku harus memakai masker juga?" tanya Sheila,


"Iya," jawab Riski singkat.


"Tapi bagaimana dengan hijabku, kenapa kamu tidak membelikannya yang langsung pakai, kenapa harus pashmina seperti ini. Aku jadi susahkan untuk memakainya," gerutu Sheila membenarkan hijab belakangnya.


"Biar aku bantu," ucap Riski berjalan membenarkan bagian belakang hijab Sheila, "Sudahkan, kau terlihat lebih cantik jika memakai pakaian seperti ini. Ayo kita pulang," ajak Riski meletakkan tangan Sheila di pergelangan tangannya.


"Kita harus pegangan tangan juga?" tanya Sheila shock.


"Oh iya benar, sebentar aku ganti tasku dulu," ucap Sheila tersenyum. kedekatannya kali ini dengan Riski membuatnya canggung dan gerogi.


"Biar aku bantu," ucap Riski.


'Kenapa saat melihat penampilan Sheila yang seperti ini, hatiku terasa tenang. Bahkan pandangan mataku rasanya tidak mau lepas dari wajahnya,' batin Riski membantu memasukkan dompet dan alat make up milik Sheila.


'Kenapa jantungku berdebar kencang saat Riski memberikan ku perhatian seperti ini. Apa mungkin aku menyukainya? Ahh tidak tidak, jangan sampai aku menyukai pria yang tidak menyukaiku. Aku takut seperti dulu lagi, cintaku tidak terbalas dan hatiku hancur,' batin Sheila mengeluarkan isi tasnya.


"Sudah, ayo kita pergi. Sebelum pria tua itu mengetahui kita," titah Riski menyadarkan lamunan Sheila.


"Ayo," jawab Sheila kaku.


Mereka berjalan keluar toilet dengan Sheila menggandeng mesra lengan Riski.


"Di depan sana, ada anak buah dari Leo," bisik Sheila pada Riski. Dia semakin erat menggandeng lengan Riski.

__ADS_1


"Santai saja, kita tidak akan ketahuan dengan penampilanmu seperti ini," jawab Riski mengusap tangan Sheila yang melingkar di lengannya.


'Aduh kenapa tiba-tiba jiwa baperku datang. Padahal keseharian kita di rumah hanya bertengkar tidak jelas,' batin Sheila menatap rahang bawah Riski,


"Tunggu!" ucap salah satu anak buah Leo pada Sheila dan Riski yang baru saja melewatinya.


"Kita ketahuan, kita ketahuan. Tamatlah aku, tamat," bisik Sheila membuat Riski kesal.


"Diam, jangan tampilkan ekspresi mu yang seperti itu. Kamu bisa membuat mereka curiga!" jawab Riski sambil berbisik.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Riski setelah memutar tubuhnya menghadapi Viz.


"Kalian pasangan baru? atau pengantin baru?" tanya Viz membuat Sheila dan Riski bingung.


"Memangnya ada apa? Apa kehadiran kami mengganggu anda?" tanya Riski dengan sikap santainya.


"Emm, apa kalian lihat wanita ini? Dia tiba-tiba menghilang. Mungkin saja kalian melihatnya? Dan masalah saya menanyakan pasangan baru atau pengantin baru, tolong lupakan," jawab Viz semakin membuat Sheila dan Riski bingung.


"Kami tidak melihatnya," jawab Riski.


"Bagaimana dengan anda Nona, apa anda melihatnya?" tanya Viz pada Sheila.


'Jika aku bersuara, maka ... aku akan ketahuan,' batin Sheila lalu menggelengkan kepalanya.


"Maaf, istri saya tidak bisa bicara. Dia bisu sejak lahir," ucap Riski membuat Sheila melototkan matanya.


'Berani-beraninya dia mengataiku bisu di depan umum. Awas saja jika sudah sampai di rumah, akan ku buat perhitungan!' batin Sheila menahan kesal.


"Terimakasih, jika kalian melihat wanita ini, tolong hubungi kami. Ini kartu nama boss saya, kalian akan mendapatkan imbalan besar," jawab Viz mempersilahkan sepasang kekasih itu pergi.


Hay gaes, ramaikan novel baru ku yuk. Tinggalkan jejak kalian juga seperti like, favorite, komen, vote dan hadiah🎁


Judul karya baruku : Istri Diatas Ranjang.


__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2