
"Ir, aku benar-benar merindukanmu. Maafkan aku," ucap Jeff menarik tubuh wanitanya ke dalam pelukan. Seketika tangis Irma pecah, dia membalas pelukan pria yang sangat dicintainya.
Mendengar isak tangis dari wanitanya, Jeff semakin merasa bersalah, dia mengusap punggung wanitanya dan tidak berhenti mengucapkan kata 'Maaf'.
"Maafkan aku Ir, maafkan aku," ujar Jeff melepas pelukannya.
"Maaf Mas, aku sibuk. Ada beberapa pasien yang harus aku periksa," ucap Irma berlari meninggalkan Jeff sendiri di depan ruangan.
Irma berlari menuju toilet terdekat, dia menutup dan mengunci rapat toilet tersebut, tubuhnya merosot, tangisnya pecah.
"Bodoh! aku memang bodoh! kenapa aku bisa ceroboh seperti ini!" maki Irma memukul kepalanya berulang kali.
"Aku memang bodoh! apa gunanya aku menjadi dokter, hah! dasar wanita bodoh!" teriaknya lagi, tangannya meremas jas dokternya yang melekat.
Tok ...
Tok ....
"Buka pintunya!" titah seorang pria di luar toilet, "Aku mohon buka!" sambungnya lagi.
"Aku sedang tidak ingin di ganggu! lebih baik, pergilah!" teriak Irma, air matanya semakin deras, tangannya sudah memeluk kedua lututnya.
"Buka Ir, kita bisa bicarakan ini baik-baik!" ujar Jack mengetuk pintu toilet berulang kali, "Tolong, buka Ir!" sambungnya lagi.
"Pergi! aku tidak mau bicara denganmu, lagi!" teriak Irma.
"Buka, atau aku buka paksa pintu toilet ini!" ancam Jack.
Hiks ...
Hiks ....
"Aku benci kalian! kalian sudah membohongiku! aku benci kalian!!!" teriak Irma menendang tempat sampah yang berada di sampingnya.
"Ir! please! buka!"
"Jangan buat aku cemas!" ucap Jack lirih, tangannya sudah berhenti mengetuk pintu toilet, "Ir, buka! kita bicara baik-baik, ya?" titah Jack, lalu tak berselang lama, pintu toilet itu terbuka. Dengan segera Jack masuk dan mengunci rapat pintu toilet.
"Apa yang perlu dibicarakan! semuanya sudah selesai!" ketus Irma memalingkan wajahnya menatap jendela kecil.
__ADS_1
"Belum selesai, kita tidak bisa mengakhiri semua ini," jawab Jack berusaha meraih tangan wanitanya.
"Jangan sentuh aku! aku tidak sudi disentuh oleh pembohong sepertimu!" ucap Irma menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya.
"Okeh-okeh, tapi kita harus bicara dan meluruskan semuanya. Aku tidak mau, kamu larut dalam kesedihan. Aku tidak tega, jujur aku sudah menaruh rasa padamu, tapi aku sadar. Kau bukan milikku, dan kau ... diciptakan untuk adikku, Jeff!" ucap Jack, "Maafkan aku," sambungnya lagi.
"Aku tidak butuh maaf darimu, dan aku sangat membencimu!"
"Tinggalkan aku di sini. Semuanya sudah berakhir, dan aku tidak mempunyai sedikit rasa untukmu, aku hanya mencintai adikmu, Jeff! ingat itu, aku mencintai Mas Jeff, bukan kau atau lainnya!"
"Aku bisa mengerti, Ir. Tapi, bagaimana dengan semua yang sudah terjadi?" ucap Jack, "Kita tidak bisa mengabaikan semuanya, Ir!"
"Siapa bilang tidak bisa! aku bisa, aku akan melupakanmu, dan berusaha bersikap seperti biasa saat di dekat Mas Jeff,"
"Pergi!" teriak Irma, tangannya menunjuk pintu keluar yang tertutup rapat.
"Ir, aku mohon ... tenangkan dirimu, ingat--"
"Pergi!" potong Irma, air matanya mengalir deras membuat Jack tak bimbang.
"Aku tidak bisa meninggalkan mu sendiri di sini, Ir. Mengertilah!"
"Pergi!"
"Tapi, Ir!
"Pergi! aku bilang pergi, ya ... pergi! apa kau tuli, ha!" bentak Irma membuat Jack menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan pergi. Jaga dirimu dengan baik, aku janji ... aku tidak akan menemui atau menampakkan diriku di depanmu lagi, terimakasih atas semuanya," jawab Jack kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu toilet sambil menghapus air matanya yang hampir saja menetes.
Krek ....
Pintu terbuka, tubuh Jack seketika mematung saat melihat adiknya berdiri di depan pintu dengan mata yang memerah dan tangannya terkepal erat.
"Je-jeef, sedang apa di sini?" tanya Jack gugup.
Mendengar Jack memanggil nama 'Jeff' seketika jantung Irma berhenti berdetak, dia berlari menuju Jack yang sedang mematung.
"Ma-mas Jeff," ucap Irma gugup, segera mungkin dia membersihkan sisa air matanya yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan semuanya, Jeff!" titah Jack menggapai pundak adiknya.
"Tidak perlu di jelaskan, semuanya sudah jelas. Aku benar-benar kecewa dengan kalian. Tega-teganya, kalian mengkhianati ku!" jawab Jeff kecewa.
"Ir, aku pikir ... kamu wanita yang baik dan tidak mudah tergoda oleh pria lain, tapi ternyata semua yang ada dipikirkanku salah, kau pembohong besar! kau bilang, tidak ingin berpacaran denganku, tapi ... kau malah menjalin hubungan dengan Kakakku sendiri!" ujar Jeff kemudian berjalan menjauh dari dua manusia yang sedang mematung.
"Jeff, kau salah! ini bukan kesalahannya, tapi salahku!" ucap Jack mencegah adiknya pergi.
"Mau siapa saja yang salah, kalian tetep salah! dan aku tidak mau melihat wajah kalian lagi," jawab Jeff menepis tangan kakaknya dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Aku salah, aku yang menyamar jadi kau. Jadi, jangan salahkan dia," ucap Jack, "Dia sangat mencintaimu, Jeff!" sambungnya lagi sambil mengikuti langkah kaki adiknya dari belakang.
"Hahaha ... cinta! aku tidak percaya dengan kata cinta!"
"Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu, wajah sang pengkhianat!" gumam Jeff.
"Aku akan terus mengikuti mu sampai kau mau memaafkannya, Jeff. Dia bisa gila!"
"Apa peduliku? aku sudah membencinya. Jika gila, sudah ada kau yang mengurusnya,"
"Pergi! jangan ikuti aku lagi!"
"Jeff, pukul aku ... Jeff! pukul! tapi jangan diamkan Irma. Kasihan dia, aku tidak tega melihatnya menangis, apa kau tega melihat wanita yang kau cintai bersedih?" rayu Jack.
"Jika tidak tega, pergilah! dan hibur dia!"
"Jeff, lebih baik kau pukul atau bunuh aku!"
"Aku tidak mau mengotori tanganku sendiri, tidak pantas tangan suciku mengotori tangan pengkhianat sepertimu! pantas saja, kau mengeluarkan alasan basi saat masuk ke dalam rumah sakit ini," ucap Jeff sambil menampakkan senyum getirnya.
"Jeff, kau mau kemana?"
"Kita harus bicarakan semua ini baik-baik!" titah Jack diabaikan Jeff.
"Jeff, berhentilah! ada sesuatu yang harus kita bicarakan, setelah itu ... aku akan pergi dari sini, aku berjanji, Jeff!" ucap Jack yang tetap diabaikan.
"Jeff, dia hamil!" ucap Jack membuat Jeff menghentikan langkahnya, tangannya meremas erat.
Bersambungš
__ADS_1