Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 52_Hukuman 2


__ADS_3

Saat Zena melihat Steven sudah hilang dibalik pintu kamar mandi, Zena berusaha turun dari ranjang, tapi dia tak bisa, untuk berjalan pun dia tak bisa karna rasa nyeri yang dia dapatkan dibagian bawahnya


"A-aku harus keluar dan menemui Rio, hanya Rio yang dapat mencegah Steven melakukan hal gila ini, jika Rio menginginkan tidur bersamaku, maka aku akan aman, setidaknya sampai rasa sakit ini berkurang" Gumamnya dalam hati,


Brugh!


Zena terjatuh saat turun dari ranjang, kakinya bergetar tapi dia paksakan untuk berjalan,


Cukup lama dia berjalan karna harus berpegangan pada benda disekitarnya agar tak terjatuh


Krek! Krek! Krek!


"Sial! Pintunya dikunci! " Gumam Zena saat tak dapat membuka pintu, dia berbalik untuk mencari kunci pintu kamarnya


"Shiittt" Umpat Zena, tubuhnya terasa lemas saat melihat suaminya sedang menatapnya dengan menggunakan handuk yang dililitkan dipingganya


"Aku mau keluar" Titah Zena saat melihat kunci di tangan Steven


"Silahkan, jika kau bisa keluar dari sini" Tantang Steven yang memasang seringai licik diwajah tampannya


"Aku akan berteriak agar bibi dan yang lainnya mau mengeluarkanku" Ancam Zena, dia berharap Steven mau mengeluarkannya


Steven semakin menampilkan senyum liciknya lalu dia mendekatkan dirinya pada istrinya yang sedang berpegangan digagang pintu

__ADS_1


"Silahkan Nyonya Steven, apa kau lupa! Ini adalah rumahku! Mereka digaji olehku! Dan mereka akan mematuhi semua yang aku perintahkan dan kau tenang saja-" Steven menjeda ucapannya lalu membopong tubuh Zena menuju ranjang


"Lepas!! Tolong!! Rio tolong mommy! " Teriak Zena keras membuat Steven menjatuhkan tubuh Zena keranjang dengan keras


"Aww ringis Zena saat tangannya terbentur tempat tidur


" Teriak saja Nona kecil! Rio tidak akan mendengar teriakanmu karna ruang tamu ini kedap suara dari dalam" Ujar Steven sambil melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya


"A-aku mohon, bagian bawahku masih sakit,"


"Lalu? Bukankah kita seimbang Nona! Kau sakit dan aku juga sakit atas perbuatanmu itu, maka dari itu, sekarang aku akan menghukummu, agar kau tahu rasa sakit dan kekecewaan yang aku dapatkan! " Ujar Steven yang langsung menindihi tubuh istrinya, dia membungkam kembali bibir mungil istrinya, bibir yang sudah membengkak karna ulah Steven kini harus membengkak lagi,


Di dalam hati Zena, dia ingin memberontak tapi bagian bawahnya sangat sakit, untuk berjalan saja dia harus berpegangan pada dinding tembok, kali ini dia benar-benar menyerah, baru saja dia terbangun dari pingsannya dan kini dia harus melayani suami gilanya lagi


"Sa-sakit hiks.. hiks.. " Akhirnya kata itu dikeluarkan Zena saat bibirnya tidak terbungkam oleh bibir Steven, melihat istrinya menangis dan tak bertenaga Steven langsung mempercepat ritmenya dan menyudahi permainan ranjangnya


"Hari ini dan seterusnya sampai 1 bulan, aku akan mengurungmu disini"


"Jangan coba-coba untuk keluar, dan gunakan telfon rumah untuk menghubungi bibi atau lainnya karna ponselmu sudah aku sita! " Ucap Steven lalu memungut dan memakai pakaiannya


"Ta-tapi"


"Dasar wanita pembangkang! Aku akan mengirim pesan pada simpananmu itu untuk memulai kerja bulan depan! "Bentak Steven yang langsung pergi dari kamar tamunya

__ADS_1


Zena menangis saat melihat suaminya pergi, hanya itu yang bisa dia lakukan, mungkin bagian bawahnya sudah lecet parah karna ulah suaminya, bahkan dari siang sampai malam dia belum makan, perutnya terasa lapar tapi nafssu makanya hilang saat suaminya memperlakukan dirinya sebagai pelaacccur


"Apa yang dimaksud kejutan olehnya hikss.. hikss"


"Kenapa hidupku kembali hancur, kenapa" Teriak Zena sambil meremas selimutnya


"Hidupku hancur," Lirihnya lagi,


Lalu fikirannya kembali memikirkan dirinya yang hari ini belum meminum pil KB nya, segera Zena menatap setiap sudut lantai berharap pil itu masih di dalam kamar, tapi sial, Steven sudah memungutnya saat memungut pakaiannya


"Hiks.. Hiks.. Pasti bedebah itu sudah mengambil pil itu, dan bagaimana bisa aku keluar dari sini dengan kondisi yang seperti ini, aku tidak mau hamil anaknya hiks.. hiks.. " Gumam Zena sambil mengusap wajahnya kasar,


Disaat Zena sedang meratapi nasibnya, telfon rumah yang berada diatas meja dekat Zena berbunyi membuat Zena mau tak mau mengangkatnya, berharap yang menelfon bi sari


"Hallo" Jawab Zena saat telfon genggamnya sudah di dekatkan ditelinganya


"Nyonya, saya hanya ingin mengingatkan Nyonya, jika makan malamnya sudah Tuan Steven berikan di atas meja" Ujar bi sari yang merasa iba dengan Nyonya mudanya


"Maafkan saya Nyonya" Sambungnya lagi, karna bagaimanapun ini salah bi sari yang menemukan pil itu di laci meja rias Zena


"Hiks.. Hikss bibi, tolong aku bi" Rintih Zena


"Bibi sudah menyiapkan salep pereda nyeri untuk Nyonya, salep itu di nampan dekat makan malam Nyonya, kalau begitu bibi tutup telfonnya dulu"

__ADS_1


"Jangan bi, jangan tutup dulu, aku mau meminta tolong bibi untuk membelikan pil KB itu, apa bibi bisa? "


__ADS_2