
"Hahaha ... dasar pria tidak tahu diri! Kemarin kau mengemis untuk mendapatkan cinta adikku, dan sekarang ... kau pura-pura tidak mengenalku!" ejek Al membenarkan jasnya.
"Adik?" gumam Jack, 'Siapa adik dari pria tersebut. Atau, Jangan-jangan adiknya adalah Irma. Dia kakak dari Irma,' batin Jack.
"Oh,"
"Rio, ayo kita pergi. Cuaca di sini sangat panas," ucap Jack menggandeng lengan anak dari bossnya.
"Hei, mau kemana?" cegah Al, tangannya memegang lengan Jack yang hendak pergi.
"Aku tidak mempunyai urusan denganmu," bisik Jack tepat di samping Al.
"Hahaha ... Rupanya, kau sudah berani melawanku?"
"Lepas!" tepis Jack, "Aku tidak ada urusan denganmu," sambungnya lagi.
"Aku hanya ingin memperingatkan kau! Jauhi adikku, aku tidak akan merestui hubungan kalian. Karena kalian berbeda keyakinan! Kau paham itu!" ucap Al penuh dengan penekanan.
"Aku--"
"Aku sedang sibuk. Dan aku tidak bisa membahas masalah adikmu sekarang juga!" jawab Jack yang berusaha menghindar dari Al. Terus terang, dia sangat bingung dengan ucapan pria yang mengaku sebagai adik dari seseorang yang tengah dekat dengan Jeff.
Jack takut, jika dia salah menjawab dan menambah masalah baru dalam hidup Jeff.
"Om, ayo Om ... kita pulang! Rio sangat lelah," titah anak kecil yang tengah melihat perdebatan antara dirinya dan pria di hadapannya.
"Lihat saja, sekali lagi ... aku melihatmu pergi atau menemui adikku, maka tidak segan-segan aku menjebloskanmu ke dalam penjara dengan tuduhan penculikan!" ancam Al kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Jack dan Rio yang sedang mematung.
"Tidak ada yang bisa memasukkan saya ke penjara. Apalagi dengan tuduhan yang tidak bermutu seperti itu. Kami bertemu tanpa ada paksaan, dan seharusnya kau lah yang sadar diri," teriak Jack membuat langkah Al terhenti.
Salah satu sudut bibir Al tertarik ke atas membuat senyuman yang amat sinis. Tak ingin memperpanjang masalah karena banyaknya pekerjaan di kantor, Al melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ucapan dari pria yang disebut musuhnya.
Setelah beberapa menit tidak mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Jack menoleh dan melihat pria yang sebelumnya berdebat sengit dengannya sudah berjalan semakin menjauh.
"Mungkin dia mengira, jika aku Jeff," gumam Jack.
"Om! Ayo pulang!" titah Rio, tangannya sudah beberapa kali mengusap keringatnya yang sempat menetes di wajah dan tubuhnya.
__ADS_1
"Ayo!"
***
Mendapat kabar dari teman wanitanya jika kediaman rumahnya kosong. Riski langsung memasang strategi untuk mengambil semua harta yang sudah direbut dari Ayah tiri yang biadab itu.
Tak ingin berlama-lama, Riski memerintahkan semua anak buahnya yang tetap setia berada di sampingnya.
Dia memerintahkan ketiga anak buahnya masuk dan menyelinap untuk menghabisi beberapa anak buah Leo yang tengah berjaga di rumahnya.
"Kita akan melancarkan aksi kita, di malam hari," ucap Riski kepada ketiga anak buahnya.
"Tapi bos, jumlah mereka sangat banyak. Dan kita, tidak mungkin melawannya semua. Bisa-bisa kita habis ditangan mereka," ujar salah satu anak buah Riski.
"Benar bos, kemampuan mereka juga tidak bisa diragukan," sambung yang lainnya.
"Aaa ... lalu, kita harus melakukan cara seperti apa!" pekik Riski, "Aku menginginkan hartaku kembali!" sambungnya lagi.
"Kita bisa memanfaatkan sekertaris Al. Aku dengar, sekretaris Al masih bekerja di perusahaan Tuan. Jika benar, Tuan Leo pergi berlibur bersama Nona Sheila, maka ... kemungkinan besar, perusahaan dipegang oleh sekertaris Al," ucap anak buah lainnya yang di setuju semuanya.
"Aku akan menghubungi Al, berikan nomer ponsel Al, karena ponselku sempat hilang!" ucap Riski.
Salah satu anak buahnya memberikan dan mencatat nomer ponsel sekertaris Al di ponsel milik Riski.
"Ini bos," titah anak buah Riski.
"Kalian ... tunggulah di luar, tinggalkan aku sendiri! Tapi ingat, jangan sampai semua tetangga melihat kalian di sini!"
"Baik bos. Kami akan menunggu di halaman belakang."
Setelah melihat kepergian anak buahnya. Riski langsung menghubungi mantan sekertarisnya yang telah berkhianat padanya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk panggilan itu tersambung, terdengar suara sapaan dari Al diseberang sana.
"Hallo, dengan--"
"Bisa aku bicara denganmu, sekarang juga!" timpal Riski cepat, dia tidak mau berbasa basi dengan sang pengkhianat.
__ADS_1
"Tu-tuan?" jawab Al gugup, segera dia masuk ke dalam mobilnya dan mengunci rapat, "Ini benar kan? Tuan Riski?" tanya Al sekali lagi.
"Dasar pengkhianat! Tega-teganya, kau mengkhianati ku, di saat aku sedang hancur!" pekik Riski membuat Al menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu Tuan. Maafkan saya, saya tidak tahu ... jika Tuan Riski masih hidup," jawab Al membela dirinya sendiri.
"Aku tidak butuh kata maaf mu lagi. Ingat Al, siapa yang memungut mu di saat kau hancur dan membutuhkan biaya besar untuk kuliah adikmu! Kau harus ingat itu, Al!" teriak Riski.
"Saya akan tetap mengingat semua itu, Tuan. Karena Tuan, hidup keluarga saya--"
"Bagus, sekarang cepat temui aku di caffe, tempat biasa kita bertemu. Dan pastikan, kau seorang diri. Tidak melapor pada Leo ataupun lainnya, aku akan tunggu di sana! Ingat! jangan pernah berkhianat lagi, aku akan memaafkan mu!" timpal Riski yang langsung memutuskan panggilannya.
Setelah panggilan terputus, Riski langsung mengambil masker, topi dan tidak lupa memakai jaketnya agar penyamarannya sempurna.
Dia bergegas menuju caffe tempatnya berkumpul dengan sekertaris yang sudah dianggapnya sebagai sahabat dan keluarganya.
Terlihat di dalam mobil, wajah Al yang shock saat mendengar suara seseorang yang telah dianggapnya telah tiada, menelponnya.
"Dia, benar-benar Riski? Atau Riski jadi-jadian?" gumam Al menarik dan memasang sabuk pengamannya.
"Aku akan menemuinya, aku tidak percaya jika Riski masih hidup. Bisa-bisanya, aku percaya, pada berita hoax yang mengatakan Riski sudah mati," sambungnya lagi yang segera menancapkan gas.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Al sampai di restoran tersebut, dia mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menuju restoran, dilihatnya seluruh sudut ruangan restoran, 'Di mana dia? Apa dia menipuku,' batin Al yang tengah berdiri di tengah restoran dengan pandangan mencari seseorang.
"Hei, kita duduk di sana!" titah Riski yang baru saja tiba dan melihat dewa penolongnya mematung di tengah keramaian restoran.
Al menoleh, dia melihat seseorang yang baru saja menepuk pundaknya berjalan mendahuluinya menuju tempat yang kosong di pojok sebelah kanan.
"Duduk!" titah Riski dengan wajah yang tertutup masker.
Al patuh, dia menarik kursi dan menjatuhkan bokongnya, "Kau-kau masih hidup?" tanya Al tak percaya, matanya melihat seseorang yang sedang membuka kacamata dan maskernya.
"Menurutmu?" tanya Riski terkekeh, "Aku selamat karena seseorang," sambungnya lagi.
"Bagaimana bisa? Coba jelaskan semuanya? Aku penasaran dengan hidupmu setelah hartamu hilang?" tanya Al yang tanpa sadar membuat darah Riski naik.
Bersambungš
__ADS_1