Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 155_Rumah Sakit


__ADS_3

"Biasa ya Bi! Masih tahukan minuman kesukaanku?" pekik Dinda membuat Zena menganga sesaat, "Sudah berapa bulan?" tanya Dinda lagi.


"Mom, siapa dia?" tanya Rio meneguk segelas susunya.


"Rio tidak ingat dengan tante ini?" tanya Zena yang mendapat gelengan dari Rio.


"Tidak Mom, memangnya dia siapa?" tanya Rio beranjak dari tempat duduknya kemudian berlari menuju Mommynya, "Adik Rio kapan lahir Mom? Rio sudah tidak sabar, pasti adik Rio cantik atau ganteng," sambung Rio mengecup dan mengusap perut Zena.


"Din, lebih baik kamu pergi saja dari sini. Tidak ada yang mengundang atau memerintahkan mu kemari," ucap Steven mengusap rambut anak tirinya yangdi mengusap perut istrinya.


"Biarkan saja sayang, Mba Dinda masih betah di sini. Iya kan Mba?"


"Benar, aku masih betah di sini, lagipula aku sangat merindukan ruangan ini. Oh iya Steve, apa ruang Spa ku tidak pernah dipakai setelah kepergianku ?" tanya Dinda membuat Steven menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Apa gunanya aku membawa mereka semua,' batin Steven kesal saat melihat anak buahnya diam seperti patung.


"Dad, siapa dia? Rio tidak menyukainya," bisik Rio menarik jas yang melekat di tubuh Steven.


"Daddy juga tidak tahu, siapa dia," jawab Steven sambil melirik ekspresi istrinya yang terlihat kesal namun tetap menampilkan senyum manisnya.


"Oh Iya Steve, apa sekarang ... kamu masih memakai kamar yang kita tempati dulu, maksudku ... bersama istrimu itu?" tanya Dinda memancing emosi istri mantan suaminya.


"Mom, ayo antarkan aku ke sekolah, Cassandra mau memberikan sesuatu pada mommy," ujar Rio menarik tangan Zena.


"Biar Daddy antar kalian," timpal Steven cepat.


***


Di satu sisi, Jack yang baru tiba di bandara, langsung saja menuju rumah sakit, tempatnya bertemu dengan dokter Irma, wanita yang dicintai adiknya.

__ADS_1


Dengan kegigihannya untuk mengetahui semua informasi yang menyebabkan adiknya koma, Jack pun rela menyamar menjadi Jeff.


Dan sekarang, di taman rumah sakit yang berwarna hijau, Jack sedang menunggu dokter Irma selesai bekerja.


"Sejujurnya aku malas, berurusan dengan wanita. Tapi, jika aku tidak mengorek informasi darinya, aku tidak bisa mendapatkan kejelasan. Sebelum aku bertindak, lebih baik ... aku mendengar semua penjelasan dari dokter wanita itu. Sepertinya, dokter wanita itu sangat baik," gumam Jack menatap pemandangan taman.


Setelah menunggu satu jam, akhirnya dokter Irma menemui Jack di taman, tempat mereka berjanji untuk bertemu.


"Maaf, sudah menunggu lama, Mas," ucap dokter Irma menjatuhkan bokongnya di kursi taman.


"Tidak apa-apa," jawab Jack tanpa ingin menoleh wanita di yang baru saja duduk di sampingnya.


"Ada apa ... Mas Jeff mau menemuiku? Aku fikir, Mas Jeff ... marah padaku?" tanya dokter Irma menoleh sekilas wajah pria di sampingnya.


"Siapa pria yang kamu peluk waktu itu? Apa dia kekasihmu?" tanya Jack to the point, dia tidak mau membuang waktu berharganya untuk masalah yang menurutnya sepele.


"Maksud Mas Jeff ... Mas Al?" tanya dokter Irma memastikan, 'Aneh, bukannya kemarin Mas Jeff dan Mas Al bertengkar, tapi kenapa sekarang tiba-tiba Mas Jeff tidak mengenali Mas Al? Atau mungkin Mas Jeff menanyakan status Mas Al?' batin Irma memangku kedua tangannya di paha.


"Dia Kakakku, Mas ...," timpal Irma cepat.


Pandangan Jack kini beralih pada wanita di sampingnya, "Jadi, aku cemburu dengan Kakakmu?" tanya Jack tidak percaya, 'Jadi, sebenarnya ... mereka salah paham?' batin Jack.


'Kenapa sikap Mas Jeff berbeda. Dia seperti bukan Mas Jeff,' batin Irma menatap lekat penampilan Jack dari atas sampai bawah.


"Mas, aku bicara dengan Mas Jeff kan?" tanya Irma tiba-tiba, membuat Jack gugup, dia langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan kegugupannya.


'Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merubah diriku seperti Jeff, tapi kenapa ... dia bisa merasakan perbedaanku,' batin Jack, 'Apa mereka sedekat itu kah? Sampai-sampai dia merasakan jika aku bukan Jeff,'


"Menurutmu aku siapa? Aku Jeff, memangnya kamu merasakan perubahan pada diriku?" tanya Jack memperhatikan penampilan dan cara bicaranya, 'Jika, Jeff sudah dekat dengan wanita ini. Pasti panggilannya bukan 'Saya' melainkan 'Aku-kamu',' batin Jack kemudian tersenyum meyakinkan wanita di depannya.

__ADS_1


"Ah ... lupakan Mas, mungkin beberapa hari kita tidak bertemu, makannya aku berbicara sedikit ngacau," jawab Irma cengengesan.


'Dia manggil aku-kamu, mungkin ... otakku sedang error. Ahh ... sudahlah, lebih baik aku jelaskan semuanya padanya,' batin Irma.


"Mas ...," panggil Irma, "Kamu tidak marahkan padaku?" tanya Irma meremas ujung jas dokternya, "Sekali lagi ... aku meminta maaf atas kejadian malam itu, tapi ... aku tidak percaya jika kamu dan Mas Al saling mengenal bahkan aku juga tidak tahu, jika kalian saling membenci juga," ujar Irma menundukkan kepalanya.


"Membenci?" ulang Jack.


"Iya, bukankah kalian saling membenci?" tanya Irma mendongakkan wajahnya, "Mas Al yang bilang ... jika kalian saling membenci," lanjutnya lagi.


'Oh Tuhan, sebenarnya siapa Al, kenapa semuanya sepertinya sangat rumit. Aku kasihan pada Jeff, mungkin saja ... dia melakukan hal bodoh kemarin karena ... dia benar-benar cape,' batin Jack.


"Maaf, jika ada ucapan kasar yang sempat dilontarkan Kakakku. Aku mewakili Kakakku untuk meminta maaf," ucap Irma berusaha meraih tangan pria di dihadapannya.


"Maaf," Jack menarik tangannya saat Irma memegangnya, 'Kenapa harus memegang tanganku, aku risih jika seperti ini terus,' batin Jack.


"Maaf Mas," ucap Irma menarik tangannya kembali, "Aku hanya ingin meluruskan saja, dan semua sudah aku luruskan. Sebaiknya aku pergi, karena ada beberapa pasien yang sudah menungguku, sekali lagi aku meminta maaf," ujar Irma beranjak dari duduknya. Tiba-tiba rasa sakit dihatinya muncul saat pria idamannya menepis tangannya.


Alih-alih mengejar dokter wanita itu, Jack justru bangkit dan berjalan berlawan, dia meninggalkan rumah sakit dengan seribu pertanyaan yang tidak mungkin ditanyakan pada dokter wanita itu.


'Aku harus bertanya tentang Al pada Tuan. Mungkin Tuan Steven tahu, siapa Al dan kenapa mereka bisa bertengkar,' batin Jack menuju tempat parkirnya.


"Dok? Kenapa menangis?" tanya dokter Riya saat melihat Irma menghapus air matanya, "Apa--"


"Aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku. Sekarang, justru aku sedang bahagia, karena aku sudah menjelaskan semuanya padanya," ujar Irma membuat dokter Riyan bingung.


"Menjelaskan? Semuanya? Pada siapa?" tanya dokter Riyan menarik tangan dokter Irma lalu memerintahkannya duduk di kursi dekatnya.


"Padanya, sudah aku jelaskan kejadian malam kemarin saat aku berkencan dengannya, dan sekarang aku sangat lega ... aku tidak tahu, dia akan memaafkanku atau tidak, yang penting ... perasaanku plong, bebanku sudah berkurang," jawab dokter Irma.

__ADS_1


Mendengar penuturan dari rekan kerjanya, Dokter Riyan menepuk jidatnya, dia tidak habis pikir dengan teman wanitanya ini.


Bersambung😘


__ADS_2