Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 213_Air Terjun


__ADS_3

Setelah memanjat dan turun dari jendela, tak sengaja Rio menabrak tempat sampah yang terbuat dari besi, membuat suara itu terdengar sampai telinga Zena yang baru saja memejamkan matanya dan beberapa anak buah yang sedang berjaga di depan gudang.


Mendengar suara yang diyakini berasal dari balik jendela, Zena pun perlahan membuka kelopak matanya dan berusaha mengelabui beberapa anak buah musuh dengan cara menjatuhkan beberapa kursi besi di sampingnya. Dengan kekuatan yang tersisa, akhirnya kursi itu terjatuh.


Prang!


Prang!


Beberapa anak buah yang berlarian ke arah belakang gudang pun, langsung berlari menuju dalam gudang.


"Pasti mommy mendengar suara benda itu. Jadi, mommy melakukan hal lain untuk mengelabui beberapa penjahat itu. Rio harus kabur, Rio tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan mommy. Rio harus membebaskan mommy secepatnya. Rio tidak mau mommy pergi," gumam Rio, kemudian berlari menjauh dari area gudang tersebut.


Mendengar suara benda terjatuh, akhirnya beberapa penjahat itu masuk ke dalam gudang dan melihat Zena yang tengah tersenyum.


"Dimana anak itu!" teriak salah satu penjahat yang tidak melihat anak kecil yang dibawanya bersama Zena.


"Kalian semua, cari anak itu! Pasti dia sedang bersembunyi di dalam sini!" teriaknya lagi.


"Siap bos!" jawab beberapa penjahat lainnya, kemudian berlari dan menyebar ke setiap sudut gudang.


"Tidak ada bos. Kita tidak melihat anak kecil itu, mungkin dia sudah kabur," jawab penjahat lain, setelah beberapa menit mencari keberadaan Rio.


Mendengar ucapan dari anak buahnya. Pria yang diketahui sebagai pemimpin atau ketua dari penjahat itu, pun segera menghampiri Zena, "Dimana anak kecil itu, hah!" ucap ketua penjahat, tangannya sudah mencengkram kedua pipi Zena.


"Aku tidak tahu!" jawab Zena.


"Cepat katakan! atau, aku akan membunuhmu, sekarang juga!" teriaknya lagi.


"Aku benar-benar tidak tahu, kalau kalian ingin membunuhku, silahkan bunuh aku."


"Apa kau yakin, Nona Zena! Apa kau yakin, hah! Kau ingin nasibmu sama sepertinya! Kami bisa saja membunuhmu lebih tragis daripada wanita itu!"


"Cepat katakan, dimana anak itu! Atau pisau ini, akan mengenai wajahmu. Agar, setelah ini, suamimu jijik melihat wajahmu yang rusak!" ancam ketua penjahat.

__ADS_1


"Lebih baik, aku mati! lebih baik, aku mempunyai wajah cacat daripada aku, harus mengorbankan anakku sendiri! Dia tidak bersalah! Kalian bunuh saja aku!" teriak Zena lirih. Tubuhnya benar-benar lemas.


"Baiklah, aku akan mengabulkan ucapanmu Nona, tapi setelah kami mendapat perintah dari bos kami. Dan aku pastikan, anak buahku bisa secepatnya menemukan keberadaan putramu itu!" ujar ketua penjahat kemudian melepas cengkraman tangannya kasar, sehingga membuat kepala Zena terbentur pada kursi besi sampingnya.


"Aw ...," ringis Zena.


'Aku harus bertahan, aku belum sempat melihat putriku, aku belum mau mati. Tapi, kepalaku pusing,' gumam Zena saat melihat keningnya mengeluarkan darah segar.


Di dalam hutan. Rio berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran dari beberapa penjahat yang sedang mencarinya.


"Rio harus berlari kemana lagi. Rio benar-benar capek. Sudah beberapa menit, Rio berlari tapi tidak menemukan pemukiman warga," gumam Rio, kemudian mendengar suara air terjun.


"Ada air, mungkin ... aku bersembunyi di dekat air itu saja. Setelah penjahat itu, pergi. Rio akan mencari pemukiman warga. Mommy bertahanlah," sambungnya lagi. kemudian pergi menuju air terjun.


Di saat Rio sudah sampai di dekat air terjun, dia bisa melihat betapa derasnya air itu mengalir.


"Cepat! cari dia! aku yakin, bocah itu masih disini," teriak salah satu penjahat, membuat Rio cemas.


'Rio harus bersembunyi dimana? Rio tidak mau tertangkap. Rio harus membebaskan mommy,' gumam Rio, tangan dan kakinya sudah bergetar hebat.


"Hei, anak kecil! sekarang kau mau pergi kemana, ha! Tidak akan ada yang menolongmu. Sekarang, mendekatlah dan kita akan pulang menemui ibumu itu!" ujar salah satu penjahat yang disusul tawa oleh teman penjahat lainnya.


Glek,


"Rio tidak mau! lebih baik, Rio mati!" teriak Rio, perlahan kakinya mulai melangkah mundur, karena beberapa penjahat mulai berjalan mendekati Rio.


"Anak kecil. Kau mau mati? Baiklah, kita akan membunuhmu di depan ibumu. Bagaimana?" tawar penjahat lainnya.


"Tidak mau! Jangan mendekat! Atau Rio akan menyeburkan diri ke dalam air terjun ini!" ancam Rio yang mendapat tawa dari penjahat yang sedang menghadangnya.


"Hahaha ... kau gila ya! Mana mungkin, anak kecil sepertimu berani menyeburkan diri ke dalam air terjun yang sangat deras. Kemarilah, kita akan membantumu untuk membunuhmu,"


"Tidak mau! Jika kalian mendekat, Rio akan menyeburkan diriku!"

__ADS_1


"Silahkan saja, kita semua akan melihatnya! hahaha ..."


'YaTuhan, Rio mohon. Selamatkan mommy, Rio akan menyeburkan diri ke dalam air terjun ini. Semoga saja, setelah ini, aku bisa selamat dari kejaran penjahat ini,' gumam Rio dalam hati.


Byur!


Semua mata penjahat yang melihat tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Apa ini kenyataan? Bocah itu, benar-benar menyeburkan dirinya ke dalam air,"


"Iya, aku juga tidak menyangka. Bocah itu, nekat mati dengan cara seperti ini. Ya sudah, kita kembali. Kita lapor pada boss, kalau bocah itu sudah mati!" ucap salah satu penjahat yang disetujui penjahat lainnya.


Setelah beberapa menit berada di dalam hutan, akhirnya beberapa penjahat yang diutus untuk mengejar Rio pun pulang menuju gudang.


"Bos!" panggil salah satu penjahat pada ketua penjahat yang sedang menjaga Zena.


"Dimana? kalian tidak berhasil menangkap anak itu?" tanya ketua penjahat.


"Em, maaf bos. Anak kecil itu memilih untuk mati, dia menyeburkan dirinya ke dalam air terjun yang sangat deras. Dan kami, setelah itu tidak melihatnya lagi," jawab salah satu penjahat membuat Zena yang mendengar langsung melemas.


"Tidak mungkin, putraku tidak mungkin mati!" teriak Zena, "Putraku tidak mungkin menyeburkan diri ke dalam air terjun. Kalian berbohong kan! kalian sengaja mengarang cerita agar kalian tidak di marahi oleh bos kalian, karena telah gagal mencari putraku!"


"Iya kan!"


"Untuk apa kami berbohong? salah satu dari kami, bahkan merekam detik-detik anakmu itu, memilih mati!"


"Perlihatkan videonya!" titah salah satu penjahat.


"Ini bos, aku sempat merekamnya," ujar salah satu anak buahnya yang memperlihatkan video Rio menyeburkan dirinya ke dalam air terjun.


"Hahah ... bagus. Dengan begitu, kita tidak perlu susah-susah membunuhnya," ujar ketua penjahat.


'Ini tidak mungkin. Rio sayang, kenapa kamu memilih menyeburkan diri, sayang. Kamu bisa pergi atau bersembunyi, tidak perlu menyeburkan dirimu, sayang. Rio, maafkan mommy. Kalau saja, mommy tidak memintamu pergi, kamu tidak akan pergi dengan tragis seperti ini,'

__ADS_1


'Mas, Mas Steven kamu dimana? tolong Rio Mas, Rio dalam bahaya Mas,' gumam Zena dalam hati.


__ADS_2