Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 22_Sayang


__ADS_3

"Kau bisa lihat video ini! " Steven memperlihatkan rekaman video di ponselnya "Apa kau bodoh hah! Kau mengaku bahwa kau memang simpanan pria hidung belang! "


"Aku tidak habis pikir dengan sikapmu, kamu sama saja mempermalukan dirimu sendiri dihadapan semua orang"


Melihat rekaman video itu Zena merem*s jarinya dengan kuat "Tuan mengikutiku?" Tanyanya yang tak percaya


"Jawab ucapanku wanita bodoh!"


Zena menyunggingkan senyumnya membuat Steven tak percaya"Bukankah yang aku bicarakan benar apa adanya, aku memang simpanan om-om, aku mendapatkan fasilitas ini dari Tuan, yang selama ini menjadikan aku partner ranjangmu!


"Aku bahkan tetap menjaga rahasia pernikahan kita sesuai rencanamu"


"Apa salahku, dan tidak sepantasnya Tuan mengataiku bodoh" Ucap Zena menatap suaminya, tiba-tiba dia mendapat keberanian dan energinya


"Kau!!! "


Plakk, tamparan keras membuat pipi Zena memerah


"Tampar aku, tampar aku lagi, cepat! ! Semua orang sudah menganggapku sebagai wanita murahan, bahkan Ayah dan ibuku juga tidak memperdulikanku, dia sudah membuangku, "


"Dan sekarang kau!, ceraikan aku sekarang juga aku tidak peduli dengan semuanya, aku sudah muak hiks.. hiks.. "


"Aku ingin bebas Tuan, hiks.. hiks.. "


"Cerai? bayar hutangmu sekarang juga, dan aku akan menceraikanmu."


"Tidak bisa kan hahaha!!"


"Cepat masuk ke kamar, ganti pakaianmu dengan pakaian tidur, kali ini aku tidak akan mengampunimu, aku akan menghukumu karna kau telah berani melawanku dan meminta cerai dariku"


"Sekertaris Nanda kemarilah!! " Panggil Steven saat melihat sekertarisnya menuju ruang kerjanya


Sekertaris Nanda langsung menghampiri Tuan Mudanya, dia juga melihat pipi Zena yang memerah


"Ada apa Tuan memanggil saya"


"Panggilkan rentenir tua itu, suruh dia kemari bilang padanya bahwa aku akan memberikan wanita ini padanya secara gratis untuk malam ini" Ucap Steven


Mendengar kata rentenir, Zena langsung berlutut di hadapan Steven dia mengatupkan kedua tanganya didepan dada


"Aku minta maaf Tuan, tolong jangan panggil dia kemari hiks.. hiks.."


"Kau boleh menyakiti Ayah tiriku tapi jangan jual aku pada rentenir tua itu, Ucapanku tadi hanya becanda, maafkan aku Tuan maafkan aku"

__ADS_1


Seakan tuli, Steven memerintahkan sekertarisnya untuk menelfon rentenir tua itu


"Nanda, ini adalah hukuman untuk orang yang tidak patuh denganku,"


"Ta-tapi Tuan, kasihan Nyonya"


"Baiklah kau benar, tapi dia tidak membutuhkan belas kasihan dariku, buktinya tadi dia meminta cerai,


Sekarang aku memberikanmu pilihan, kau mau melayaniku sampai pagi atau aku akan panggilkan rentenir tua itu sekarang!" Ucap Steven tersenyum menang


"A-ku tidak mau bertemu pria tua itu, a-aku akan melayani Tuan, karna Tuan juga masih suamiku, aku meminta maaf Tuan,"


"Bagus, Nanda kau bisa pergi! "


"Baik Tuan"


Setelah melihat kepergian sekertaris Nanda, Steven menyuruh Zena berdiri dan duduk di kursi seperti semula


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan sayang, karna aku bukan Tuan mu melainkan suamimu, dan ingat kau hanya bonekaku, aku hanya menginginkan anak darimu! "


"Apa tidak ada sedikit perasaan untukku" Tanya Zena cepat


"Hei! apa kau tuli hah! cepat panggil aku sayang!! "Pekik Steven


"Bagus, cepat ke kamar dan ganti pakaianmu, dan perlu kau ingat, aku tidak mempunyai perasaan apapun padamu, tugasmu cukup berikan aku anak"


" Mengerti!! "


"Mengerti sa-sayang" Jawab Zena yang langsung pergi dan meninggalkan Steven sendiri di dapurnya


Setelah tak melihat istrinya, Steven kembali duduk


"Maafkan aku" Senyumnya mulai memudar, dia kembali memakan makanan yang dimasak Zena


Di sebuah kamar yang cukup luas terlihat Zena sedang mencari pil KB yang dia simpan didalam tasnya, digenggamnya pil itu lalu dia masuk kedalam kamar mandi dan menelannya tanpa meminum air


"Aku tidak ingin mengandung anak dari pria jahat seperti dia, apalagi pernikahanku akan berjalan 1 tahun, aku tak rela jika aku mempunyai anak lalu direbut olehnya hiks.. hikss"


"Aku akan patuh dan melayanimu diranjang, tapi aku akan menolak memberimu anak"


Tak berselang lama Steven memasuki kamarnya, dilihatnya seluru sudut ruangan "Kemana dia! " Gumannya dalam hati


"Hei! Cepatlah! " Teriak Steven membuat Zena yang berada di walk in closetnya terkejut, segera dia berlari menghampiri suaminya

__ADS_1


"Maaf sa-sayang," Ucap Zena sambil menunduk, diremasnya ujung lingerie berwarna merah muda itu, dia malu saat bagian pahanya terekspos tanpa sensor, ditariknya lingerie itu agar menutupi paha mulusnya tapi tetap tidak bisa, dan tanpa sengaja Zena malah merobek lingerie nya membuat Steven tertawa renyah


"Rupanya kau sudah tidak sabar ya, haha"


Glek, Zena berusaha menutup bagian yang robek menggunakan tangannya


"Aduh, bagaimana bisa seperti ini, ini sama saja aku sedang mempermalukan diriku sendiri" Batin Zena, dia berbalik lalu berjalan menuju walk in closetnya, dia berniat mengganti lingerienya ya sobek


Melihat Zena menjauh, Steven langsung meraih tangannya "Mau apa hah! " Cepat naik keranjang, aku mau mandi"


"Emm, tapi-, tapi aku harus mengganti pakaianku dulu" Jawab Zena sambil melepaskan tangan Steven


"Naik! "


"Ba-baik sa-sayang, aww sakit, " Ringis Zena saat tangannya di cengkram erat


"Lepaskan sa-sayang" Lirihnya lagi


"Sekali lagi kau membantah ucapanku, akan kuberikan hukuman lebih sakit dari ini, kau mengerti!! " Hardik Steven


"Mengerti sa-sayang"


"Awww.... " Tangan Zena membentur meja rias karna Steven melepaskan cengkramannya dengan kasar, diusapnya lengan Zena yang memerah


"Mana ada wanita yang betah hidup dengannya, pria arogant dan kejam sepertinya" Gumam Zena dari dalam hati sambil berjalan lalu naik keatas ranjang


Steven yang melihat istrinya patuh pun tersenyum, dia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya,


Tak ada yang istimewa dalam hidup Zena selama menjadi istri Steven, dia diwajibkan setiap malam untuk menjadi partner ranjangnya, bermain dan bermain mungkin hal yang hanya dipikirkan Steven saat malam hari, dan Zena hanya mendapat waktu libur saat tamu bulanannya datang.


"Aku akan mempercepat ritmenya" Ucap Steven saat menggoyangkan pinggulnya keatas bawah membuat Zena yang berada di dalam kendalinya terbuai lemas


"Aku lelah, beri aku waktu untuk beristirahat"


"Baiklah"


Akhirnya setelah beberapa ronde Steven memberi waktu istrinya untuk beristirahat walaupun tangan Steven bermain di dua benda kenyalnya


"Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan hem?? " Suara lembut Steven mampu menghipnotis Zena, apalagi saat Steven mengusap kepala Zena dengan lembut


"Belum, selama ini permainanmu sangat kasar," Ketus Zena


"Apa itu berpengaruh? Bukankah bagus jika aku bermain dengan liar, bukankah itu akan mempercepat kehamilan? " Tanya Steven dengan polos, sewaktu masih menyandang status suami Dinda, Steven memang jarang menyentuh sang istri, karna keduanya sangat sibuk, dan Dinda selalu pulang larut malam, Dinda selalu berbicara bahwa Steven menumpang hidup dengannya saat perusahaan Steven bangkrut

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2