
Akhirnya Sheila dan Riski keluar dari restoran dengan aman. Mereka berjalan menuju mobil Riski yang terparkir di ujung tempat parkir.
"Kau! Beraninya kau mengatakan aku bisu di depan umum. Dasar pria brenggseeekk, berani sekali mengatakan aku bisu! Rasakan ini!" teriak Sheila saat berada di dalam mobil.
Pluk!
Bugh!
Pluk!
Berulang kali Sheila memukul lengan Riski menggunakan tas mahalnya.
"Rasakan ini!" geram Sheila.
Pluk!
"Dasar pria brenggseek!"
"Hentikan!" pekik Riski.
"Kenapa hem? Sakit?"
"Perlakuan mu begitu sadis. Ingat, aku sudah membantumu. Jika tidak ada aku, mungkin sekarang kau sudah pergi menuju rumah kedua orang tua mu untuk meminta restu," gerutu Riski mengusap lengannya yang terasa pedas.
"Tapi tidak usah mengatakan aku bisu di depan mereka semua. Aku malu!" ujar Sheila memangku tas mahalnya.
"Mereka tidak akan mengenalmu. Kenapa kamu harus malu?" ucap Riski menyalakan mesin mobilnya.
"Sekarang kita impas, aku sudah membayar hutang budiku padamu," lanjutnya lagi.
"Perhitungan sekali!" sindir Sheila menatap lurus jalanan.
***
Setelah beberapa jam beristirahat, tubuh Jack terasa lebih segar. Wajah yang sempat pucat, kini sudah digantikan dengan raut wajah kebahagiaannya.
"Mas Jeff?" panggil dokter Irma saat tak sengaja melihat Jack keluar dari ruangan donor darah.
__ADS_1
Jack mengabaikan panggilan dari wanita yang memakai jas dokternya, dia pikir panggilan itu bukan untuknya. Dengan langkah santai Jack berjalan melewati dokter Irma yang sedang mematung.
Deg!
Hati Irma terasa sakit, saat melihat pria yang selalu bersikap manis kini tiba-tiba bersikap dingin. Bahkan di saat dirinya menyapa seorang pria yang sudah mengisi hatinya beberapa bulan ini mengabaikan panggilannya seolah-olah mereka tak saling mengenal.
"Mas Jeff!" panggil Irma lagi, "Mas!" pekiknya berlari mengejar Jack.
"Mas, tunggu!" cegah Irma memegang tangan Jack.
Jack terkejut, dia memutar tubuhnya karena tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang.
"Maaf, anda siapa? Dan kenapa anda menghentikan langkah saya?" ucap Jack melepaskan tangan Irma.
"Mas, aku tahu aku salah. Tapi, tolong ... jangan seperti ini, aku mau menjelaskan semuanya. Jangan menghindar dariku Mas. Mau bagaimanapun aku tetap ingin menjelaskan walaupun tidak akan mengubah semuanya," ucap Irma membuat Jack bingung.
'Sebenarnya, siapa dia. Kenapa tiba-tiba dia berbicara seperti itu? Apa dia mengira aku Jeff?' batin Jack menatap sekilas wanita berjas dokter.
"Apa yang ingin kamu jelaskan. Aku akan mendengarkan semua," ujar Jack tegas.
'Sifatmu benar-benar berubah Mas, tidak ada kehangatan dari sikapmu yang sekarang. Apa sebegitu bencinya kamu padaku Mas, sampai-sampai menatapku pun kamu enggan,' batin Irma terasa sakit.
"Tunggu dulu," timpal Jack dengan cepat, 'Makan malam kemarin?' batin Jack, "Lebih baik kita bicara sambil duduk. Bukankah di sini ada taman atau sejenisnya?" lanjut Jack di angguki dokter Irma.
"Terimakasih sudah mau mendengarkan penjelasanku Mas, aku semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan mu, dan aku juga sudah beberapa kali mencoba menghubungi mu, tapi ponselmu mati. Aku takut terjadi sesuatu padamu Mas," jawab Irma tersenyum lalu berjalan mendahului Jack yang sedang mematung.
'Jadi Jeff sudah mempunyai kekasih, dan jangan bilang karena bertengkar dengan kekasihnya, Jeff melakukan hal bodoh yang membahayakan nyawanya, dasar bodoh! Memangnya dia mempunyai nyawa 10, aku harus menghajarnya setelah dia sadar nanti!' batin Jack mengikuti langkah dokter Irma.
Setelah mereka sampai di taman rumah sakit. Irma memerintahkan Jack untuk duduk di sampingnya, pandangannya lurus ke depan. Di hirupnya udara segar untuk memulai percakapannya.
"Apa yang ingin kau katakan?" ucap Jack saat bokongnya sudah duduk di kursi kayu.
"Aku meminta maaf Mas, aku salah." ucap Irma dengan pandangan lurus ke depan, "Maafkan aku, jika waktu itu aku tidak membelamu. Tapi percayalah, aku juga bingung dengan situasinya. Di satu sisi aku ingin membelamu, di satu sisi ada Mas Al yang--"
"Siapa Al?" tanya Jack memotong ucapan Irma.
"Pria yang kita temui sewaktu itu, aku memeluknya dan dia memanggilku dengan sebutan 'Sayang'. Pasti Mas Jeff berfikir aku menolak cintamu karena Mas Al kan?" tanya dokter Irma menoleh wajah pria yang di rindukannya.
__ADS_1
'Oh, ternyata wanita ini menolak cinta Jeff karena pria bernama Al,' batin Jack melirik sekilas wanita di sampingnya yang sedang menatapnya.
"Asal Mas Jeff tahu, sebenarnya Mas Al itu--"
Di saat Irma ingin menjelaskan semuanya, tiba-tiba ucapannya terhenti karena mendengar bunyi ponsel Jack yang berdering.
"Sebentar, saya angkat telfon," ujar Jack bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh.
Irma menatap kepergian Jack, matanya tak berpaling sedikitpun dari setiap gerak gerik Jack.
"Hallo Tuan?" ucap Jack setelah menggeser tombol hijaunya.
"Kau di mana Jack! Aku menjenguk mu di ruang donor darah, tapi tidak ada. Cepat kembali ke ruangan Jeff, aku tidak ingin kesehatanmu memburuk," ujar Steven.
"Baik Tuan, saya akan kembali. Terimakasih sudah mencemaskan saya," jawab Jack dan panggilan berakhir.
Setelah panggilannya berakhir, Jack memasukkan ponselnya ke saku celananya dan menghampiri wanita yang sedang menatapnya.
"Saya harus pergi sekarang, lain kali jika kita bertemu, kamu boleh menjelaskan semuanya," ujar Jack kemudian berjalan meninggalkan dokter Irma yang terpaku.
Setelah menyadari pria yang dicintainya pergi menjauh, dokter Irma berusaha mengejarnya, tapi nahas. Dokter Riyan memanggilnya karena jumlah pasien dokter Irma yang sudah mengantri sangat banyak.
"Dokter Irma, sedang apa di sini? Cepat kembali bekerja, pasienmu yang mengantri sudah sangat banyak di depan ruangan mu," titah dokter Riyan membuat langkah Irma terhenti dan menepuk jidatnya.
"Astaga aku lupa dok, terimakasih sudah mengingatkanku," ucap dokter Irma pergi menuju ruangannya.
Melihat kepergian dokter Irma, dokter Riyan pun menghembuskan nafasnya lega, 'Maaf aku membohongimu lagi. Tapi jika kamu menjelaskan semuanya saat ini pada dia, besar kemungkinan di saat itu juga kalian tidak diperbolehkan bertemu,' batin dokter Riyan berjalan menyusul Jack.
"Tuan, anda belum pulih. Sebaiknya anda beristirahat," titah dokter Riyan saat berjalan di samping Jack.
Jack menoleh, dia menggelengkan kepalanya, "Jangan memanggilku Tuan. Aku bukan bossmu. Dan aku sudah sehat, wajahku sudah tidak pucat lagi. Aku ingin mengetahui kondisi perkembangan Jeff," ujar Jack berjalan dan memasuki ruangan adiknya.
"Biar saya yang memeriksa kondisi adik anda," ucap dokter Riyan mengikuti langkah Jack masuk ke ruangan.
"Bagaimana kondisi Jeff?" tanya Jack setelah dokter Riyan selesai memeriksanya.
"Maaf Tuan Steven dan Tuan Jack, kami harus mengabarkan berita buruk ini. Bahwa pasien mengalami koma," ucap dokter Riyan setelah melihat tidak ada perkembangan dari Jeff setelah transfusi darah.
__ADS_1
Bersambungš