
Setelah panggilannya berakhir, Zena memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Aku tidak suka, kamu masih berhubungan dengan temanmu itu," ujar Steven saat mobil sudah berjalan. Tangannya masih mengepal erat, dia bersusah payah menahan amarahnya.
"-_-" Zena terdiam tanpa ingin membalas ucapan suaminya, dia melihat pemandangan di pinggir jalan.
"Jeff, menepi ...," ujar Steven membuat Jeff menepikan mobilnya. Setelah mobil menepi, Jeff dan sekertaris Nanda turun, mereka tahu jika Tuannya kali ini benar-benar emosi.
Melihat Jeff dan sekertaris suaminya turun dari mobil, Zena berniat turun juga, tapi apa daya sebelum Zena membuka pintu, pintunya sudah terkunci oleh Steven.
"Sekali lagi, aku melihatmu tertawa atau bertelfonan dengan temanmu itu, aku tidak segan-segan menyita ponselmu," ujar Steven lagi yang masih diabaikan oleh Zena.
Merasa diabaikan, Steven menarik pundak Zena, dia mencengkram erat agar posisi istrinya menghadap dirinya, "Dengarkan aku ... aku sedang berbicara denganmu,"
"Dan tatap mataku!" seru Steven, kesabarannya benar-benar habis.
Zena menunduk, dia masih enggan menatap mata suaminya.
"Tatap mataku!" bentak Steven, membuat Zena terkejut dan menatap suaminya.
"Bagus,"
"Sekarang keluarkan unek-unek mu, kita luruskan sekarang juga," titah Steven dengan nada lembut.
"-_-"
"Zen, kamu dengar semua ucapanku kan, keluarkan unek-unek mu, agar aku tahu semua kesalahanku," ulangnya lagi sambil mengusap punggung istrinya yang sedikit bergetar.
"Kamu tidak bisa mengatasnamakan ini semua dengan kata 'hormon kehamilan'," sambung Steven lagi.
"Katakan semuanya, agar aku bisa menjelaskan tentang apa yang difikirkan kamu sekarang," titah Steven sekali lagi.
Air mata karena di bentak suaminya pun lolos dari pelupuk matanya, "Kamu selingkuh," satu kata yang keluar dari mulut Zena, dia berusaha melepas tangan suaminya lalu menghapus air matanya..
"Lalu, apalagi ...," tanya Steven lagi.
"Mas Steven pembohong, aku benci Mas," jawab Zena yang memukul dada bidang suaminya, dia meluapkan emosinya dengan memukulnya keras.
Hembusan nafas lega keluar dari mulut Steven, akhirnya istrinya luluh juga,
"Menangislah, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya," titah Steven, dia menarik pinggang istrinya agar tak ada jarak lagi.
__ADS_1
Pukulan itu berganti menjadi isakan tangis, Zena menangis di dalam pelukan suaminya.
"Kamu jahat Mas," lirih Zena mengeratkan pelukannya.
Bibir Steven tersungging menjadi senyuman saat istrinya membalas pelukannya.
"Iya aku memang jahat, aku bukan pria yang baik, aku juga bukan pria yang sempurna," jawab Steven mengusap punggung Zena.
"Tapi, aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, masalah dengan Sheila ... aku dan dia tidak ada hubungan apapun, percayalah, ibu hanya memanfaatkannya, karena ibu tidak ingin menantu kesayangannya terluka, kalau tidak percaya biar aku yang menyuruh ibu bicara," jawab Steven.
"Bohong, aku lihat Mas Steven berfoto mesra di kamar hotel, pasti kalian pernah tidur berdua kan?"
"Jangan bohong Mas, hiks ... hiks ...," ujar Zena di sela tangisnya.
"Tidak, aku tidak pernah tidur dengannya," ucap Steven bohong, dia tidak mau istrinya merajuk lagi di saat, istrinya hampir luluh.
"Dia yang memintaku untuk foto bersama. Dan maafkan aku,"
"Aku tidak percaya Mas,"
"Bisa tanyakan Jack, setelah Jack sembuh ... aku akan menyuruhnya datang kemari,"
"Jack?" ulang Zena, dia mendongakkan wajahnya, "Bukannya Jack itu Jeff?" tanyanya sekali lagi sambil menghapus air matanya.
"Memangnya Mas Steven kenapa? dan apa Jeff tahu jika Jack di rumah sakit,"
"Tidak, dia tidak tahu, dan aku memohon padamu, jangan beritahukan kabar ini pada Jeff, aku takut dengan sikap bapernya, dia akan bertingkah kelewat batas" ujar Steven yang di setujui oleh Zena
"Lalu, hubungan Mas dengan Sheila seperti apa? kenapa dia berani mencium Mas sewaktu di kantor?"
"Dia hanya membutuhkan uangku saja sayang,"
"Sudah jangan dibahas, sekarang kamu percaya padaku kan ... jika aku sangat mencintaimu,"
Zena menggeleng,"Masih kurang Mas, aku belum puas jika belum ada bukti," ujar Zena, di dalam hati dia merasa lega karena melihat ketulusan dan kejujuran di mata suaminya.
"Lihat saja, rekaman CCTV ini, aku mendapatkan rekaman ini dari dokter Riyan," titah Steven memberikan ponselnya yang berisi videonya mendorong Sheila.
Mata Zena membulat sempurna saat melihat suaminya berubah menjadi kejam, "Mas, itu bukan kamu kan? kamu tidak mungkin sejahat itu pada wanita seperti Sheila?" ujar Zena tak percaya.
"Memang jika aku kejam, aku akan memilih wanita dulu?" tanya Steven yang diangguki Zena
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Zena polos membuat Steven mencubit pipi istrinya sekali lagi lalu langsung menariknya kedalam pelukan.
"Sudah jangan marah, sekarang sudah percaya kan padaku, jika aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Sheila," ujar Steven mengusap punggung istrinya sesekali mencium aroma wangi di rambut istrinya.
Zena tersenyum, dia membalas pelukan suaminya, "Aku percaya Mas, tapi bagaimana jika wanita itu datang lagi. Aku yakin, wanita seperti itu tidak mudah menyerah,"
"Asal kamu percaya padaku, aku akan berusaha ... semampuku untuk menghindari dia, aku bahkan sudah bicara dengan satpam kantor agar dia dilarang masuk ke kantor, jadi jangan marah lagi,"
"Aku minta maaf Mas, aku salah ...," ujar Zena mengeratkan pelukannya dan membenamkan kepalanya di dada kekar Steven.
"Maafkan aku Mas," sambungnya sekali lagi.
"Sekarang kita pulang. Rio sudah menunggu kita," titah Steven yang diangguki istrinya.
Steven mengetuk kaca mobilnya, dan Jeff juga sekertaris Nanda langsung masuk kedalam mobil.
"Sekarang kita pulang," titah Steven pada Jeff,
Sekertaris Nanda tersenyum saat melihat Tuan nya memangku kepala istrinya, senyumnya semakin merekah saat sepasang kekasih itu berbincang diselingi tawa dan senyuman.
"Mas, Rio gak marah kan sama aku?" tanya Zena penasaran.
"Marah? tidak ada yang berani memarahimu sayang, Rio justru sangat merindukanmu. Dia menangis dan sakit,"
"Dia masih sakit Mas," pekik Zena yang bangkit dari posisi tidurnya.
"Jeff, percepat ... aku tidak mau Rio menunggu kita terlalu lama," titah Zena yang diangguki Jeff.
"Baik Nyonya,"
Setelah menempuh jarak beberapa kilometer akhirnya mobil Steven memasuki gerbang rumahnya yang menjulang tinggi.
Mereka disambut dengan Rio dan Tesa yang sudah berdiri di pintu utama.
"Daddy bawa mommy, omah?" ujar Rio saat melihat Zena turun dari mobil diikuti Steven dibelakangnya.
"Turunin Rio, omah ...," sambung Rio kembali, dia berusaha merosotkan dirinya agar Tesa mau menurunkannya.
"Sabar Rio," ucap Tesa, dia menurunkan cucunya dengan senyuman yang mengembang.
"Mommy, hikss ... hikss ... mommy kemana aja, Rio di rumah mencemaskan mommy," ucap Rio memeluk pinggang Zena erat.
__ADS_1
"Perut mommy, kenapa perut mommy terlihat lebih besar?" tanya Rio lagi saat merasakan ganjalan dipelukannya.
Bersambungš