
"Ikut ke ruanganku sekarang juga, Ir. Tenangkan dirimu, jangan membuat kesalahan lagi yang akan membuatmu menyesal seperti ini. Ayo ikut aku," titah Riyan memapah tubuh teman wanitanya berjalan menuju ruangannya.
Setelah sampai di ruangan dokter Riyan, Irma menjatuhkan bokongnya di ranjang praktek.
"Aku tidak menyangka, tiba-tiba Mas Jeff datang di saat, Mas Al mencarinya kembarannya." gumam Irma.
"Minum dulu Ir, tenangkan pikiranmu, " titah dokter Riyan menyodorkan segelas air putih kepada temannya.
"Terimakasih, ini aku kembalikan kunci mobilmu."
"Letakan saja di situ," jawab Riyan membantu temannya meminum air putihnya, "Sekarang, kamu istirahat ya! Aku akan mengecek pasien lainnya," sambungnya lagi.
****
"Aku akan menuruti semua perintahmu, Ir. Aku akan pergi, dan aku tidak akan kembali lagi ke negara ini. Walaupun aku membenci Jack, tapi mau bagaimanapun dia kakakku, dan dia Ayah dari anak yang berada dalam kandunganmu," gumam Jeff mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah beberapa menit, akhirnya mobil yang ditumpangi Jeff sampai di bandara internasional jakarta. Dengan langkah berat, Jeff berjalan menuju tempat pembelian tiket pesawat.
'Aku benar-benar akan pergi, tapi bukan pergi ke negaraku. Karena sewaktu-waktu, kalian pasti akan mencariku. Aku akan pergi jauh dari kalian semua, ketempat yang sangat jauh yang kalian tidak ketahui,' gumam Jeff dalam hati. Di masukan tiket itu kedalam tas kecilnya.
Setelah menjatuhkan bokongnya di ruang tunggu, tiba-tiba ponsel Jeff bergetar. Dengan cepat, dia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Terlihat nama Steven di layar ponselnya.
"Hallo Tuan," ucap Jeff setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Kau dimana? Apa kau lupa, kita datang bersama. Dan dengan lancangnya, kau meninggalkanku sendiri di rumah sakit!" seru Steven membuat Jeff menepuk keningnya.
"Maaf Tuan, saya lupa."
"Sekarang kembalilah, aku tunggu di lobby rumah sakit," titah Steven yang terdengar kesal.
"Tapi maaf Tuan, saya tidak bisa kembali ke rumah sakit. Dan saya akan meminta orang untuk mengembalikan mobil Tuan," jawan Jeff.
__ADS_1
"Kau dimana sekarang?"
"Kau tidak melakukan hal gila yang akan membuatmu menyesal kan?" tanya Steven sedikit cemas.
"Saya, saya tidak bisa beritahu keberadaan saya. Saya akan meminta seseorang untuk mengantarkan mobil Tuan. Dan saya minta rahasiakan kepergian saya dari siapapun. Bilang saja, saya tiba-tiba pergi dan menghilang. Dan saya sudah mengikhlaskan semuanya, maaf ternyata ... saya tidak bisa datang ke acara pernikahan Jack, hati saya belum kuat, Tuan," jawan Jeff panjang lebar.
"Kau dimana sekarang, hah! Cepat beritahu aku!" titah Steven, nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang marah.
"Saya tidak bisa--"
"Cepat! atau aku akan mencari dan membunuhmu sekarang juga!" potong Steven membuat Jeff menghela napasnya kasar.
"Saya sudah berada di bandara. Dan sebentar lagi, pesawat saya akan lepas landas," ucap Jeff membuat Steven membulatkan matanya.
"Aku akan kesana, tunggu aku!" titah Steven kemudian mematikan panggilannya.
'Anak itu, coba sekali-kali, jika ada masalah ... jangan kabur seperti anak kecil!' gumam Steven dalam hati. Kemudian beranjak pergi dari rumah sakit.
'Baru kali ini aku menggunakan ojek online, dan rasanya telingaku panas. Bunyi kendaraan yang tidak sabar membuat jantungku hampir copot.' batin Steven memberikan helm yang baru saja di pakai, 'Pulang nanti, aku harus berkeramas agar rambutku tidak lepek,' sambungnya lagi.
"Ini, dan ambil saja kembaliannya. Lain kali, belilah helm kualitas terbaik, agar telingaku tidak terganggu mendengar suara kendaraan yang begitu keras," titah Steven memberikan uang 300 ribu kepada tukang ojek online.
"Terimakasih Pak, tapi helm seperti itu tidak ada. Mungkin, Bapak tidak pernah memakai jasa ojek online, atau ini baru pertama kali?" tanya tukang ojek online itu yang mengambil uang dari Steven.
"Memangnya ada apa? kenapa pertanyaanmu seolah-olah menyindirku?" ujar Steven terlihat kesal.
"Saya tidak menyindir Bapak, hanya saja terlihat dari wajah Bapak yang putih dan kini sudah berubah menjadi merah, serta keringat yang bercucuran membasahi wajah dan baju Bapak," jawab tukang ojek online.
"Lupakan, aku sedang sibuk!" jawab Steven kemudian berlari meninggalkan tukang ojek online yang mematung.
'Benar-benar orang kaya, aku pikir dia memberiku 300 ribu, ternyata 500 ribu.' gumam tukang ojek online.
__ADS_1
Setelah lelah berlari, Steven berjalan, dia mencari keberadaan anak buah sekaligus saudara jauhnya di ruang tunggu yang berada di area bandara.
"Jeff! ikut pulang denganku. Jangan melakukan hal gila lagi. Kedua orang tuamu sudah menitipkan kamu pada keluargaku, dan sekarang kau tanggung jawabku," titah Steven setelah berada di dekat Jeff.
"Tuan, Tuan benar-benar kemari?" tanya Jeff tak menyangka.
"Iya, sekarang ... ikut aku!"
"Maaf, saya tidak bisa Tuan. Saya ingin menenangkan diri dari semua kejadian ini," ucap Jeff mengambil kunci mobilnya, "Sekali lagi maafkan saya, saya sudah lancang memakai mobil Tuan tanpa sepengetahuan Tuan," ujar Jeff.
Steven menerima kunci mobil dan memasukkannya ke dalam saku celana, "Aku tidak membutuhkan penolakan darimu. Sekarang ... ikut aku pulang, jangan egois Jeff." titah Steven.
"Siapa yang egois Tuan? bukankah dia yang egois, dia yang merebut semua kebahagiaanku? dia yang menyebabkan kekacauan ini, bukan aku, Tuan!" geram Jeff.
"Tenanglah," ujar Steven saat menyadari anak buahnya emosi, "Sekarang, kau mau kemana? Apa kau ingin kembali ke negaramu?" tanya Steven lagi.
"Tidak Tuan, saya tidak mau diganggu oleh siapapun. Dan saya, sudah putuskan bahwa saya tidak akan kembali ke negara J dulu. Saya akan menenangkan diri di tempat yang menurut saya aman," jawab Jeff, "Saya harus naik ke pesawat sekarang juga," sambungnya lagi.
"Tapi ini tujuan--"
"Benar Tuan. Saya boleh minta tolong? tolong rahasiakan kepergian saya. Bilang pada mereka, kalau saya sudah merestuinya,"
"Dan maaf, saya belum sanggup menyaksikan mereka menikah dan hidup bahagia. Maka dari itu, saya putuskan untuk pergi dan menenangkan diri. Saya harap, Tuan bisa memahami saya," ucap Jeff tersenyum kemudian memeluk Steven dengan air mata yang menetes.
Steven membalas pelukan dari Jeff, dan mengusap punggung Jeff berulang kali, melihat getaran di punggung Jeff, Steven meneteskan air matanya, kemudian menghapusnya, dia tidak mau anak buahnya melihat dirinya menangis.
"Hati-hati, jika ada waktu, aku akan menjengukmu. Dan aku akan merahasiakan kepergianmu dari siapapun," ucap Steven melepas pelukannya.
"Terimakasih, hanya Tuan yang saya punya," jawab Jeff tersenyum.
"Mulai sekarang, panggil aku Steven, aku tidak mau saudaraku memanggilku dengan sebutan Tuan," titah Steven.
__ADS_1
Bersambung 😘