Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 53_Jangan Bunuh Aku Tuan


__ADS_3

Glek, bi sari menelan salivanya susah, bagaimana bisa Nyonya mudanya berbicara seperti ini disaat semua akses dirumahnya sudah disadap oleh Tuan mudanya


"Ma-maaf Nyonya, saya tidak bisa, kalau begitu saya tutup dulu telfonya, karna bibi harus mencuci piring"


"Bi tunggu-" Ucap Zena membuat bibi tak jadi mematikan telfonnya


"Bagaimana keadaan Rio? Apa dia mencariku? Jika dia mencariku bilang saja aku sedang bersama om genit, aku tidak mau Rio marah pada Steven, ya sudah aku tutup telfonnya" Ujar Zena langsung menutup telfonnya dan mencari salep yang diberikan bi sari


Setelah perjuangannya berjalan menahan rasa nyeri, akhirnya kini Zena sudah berada di dalam kamar mandi, berendam di dalam air hangat membuat rasa nyeri di bagian bawahnya berkurang


"Dia benar-benar gila! Mana ada istri yang diperlakukan kasar seperti pelaccur hanya untuk memuaskan hasratnya saja! Dia menuduhku selingkuh dengan mas Riski tapi dia juga yang selingkuh dengan selebgram gadungan itu"


"Ini benar-benar tidak adil bagiku"


"Sekarang bagaimana caraku untuk melepaskan diri dari bedebah itu, aku bisa mati jika disini terus" Gumam Zena sambil memukul air di dalam bak mandinya


30 menit sudah, Zena berada di dalam kamar mandi, dia bangkit lalu menyambar jubah mandinya, setelah itu dia mengoleskan salep dibagian bawah yang sakit


Krek, pintu dibuka oleh Zena, terlihat Steven yang sedang duduk di tepi ranjang dengan laptop dipangkuannya


Steven memicingkan matanya dan kembali lagi menatap layar komputernya, dia kembali ke kamar kaena takut jika Zena akan berbuat yang membahayakan dirinya seperti dulu, jadi Steven pun memutuskan untuk tidur bersama Zena di kamar tamu ini


Zena pun sudah melihat beberapa pakaian santai dan tidurnya yang terjejer di dalam lemari besar, karna di kamar tamu tidak ada walk in closetnya seperti kamar utama milik Steven dan Zena


Tak ingin suaminya melakukan hal gila, Zena mengambil pakaian itu dan memakainya didalam kamar mandi sambil bibirnya berkomat kamit mengumpat keberadaan Steven


"Untuk apa dia datang kemari lagi! Apa yang dia lakukan belum puas hah!" Gumam Zena dalam hati,


Krek. Pintu kamar mandi terbuka, Zena melihat lampu masih menyala dan Steven masih berkutat di laptopnya


Perlahan tapi pasti Zena berjalan lalu menaiki ranjangnya, dia tak ingin berbicara atau menatap wajah suaminya yang sedang menatapnya


Layar laptop sudah di tutup oleh Steven "Kau! Aku peringatkan jangan pernah berbuat macam-macam di rumah ini, atau kau akan-"

__ADS_1


"Bunuh saja aku! " Pekik Zena saat Steven mengancamnya


"Bunuh saja! Apa untungnya kau memelihara aku? Bukankah aku selalu melawanmu? " Geram Zena, kesabaran untuk menghadapi suaminya sudah habis


"Kau selingkuh di depanku pun aku tidak melarangmu! Selingkuhanmu memposting foto kebersamaan kalian pun aku tidak melarangnya, tapi kenapa kau mempermasalahkan pil KB itu?


"Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri!" Jerit Zena tak kuasa sambil meneteskan air matanya


Zena menghentikan ucapannya lalu menghirup nafas dalam-dalam "Apa salahku hah! Kau tak memperbolehkan aku mencintaimu tapi kenapa kamu menginginkan anak dariku! "


"Kau tahu kan! Aku sudah dicampakkan kedua orang tuaku dan kini kau juga akan mencampakkanku disaat aku sudah memenuhi semua permintaanmu hah!


"Lebih baik bunuh aku! Bunuh! " Jerit Zena sambil memukul dada kekar Steven, "Bunuh aku! hiks.. hiks.. Aku tidak sanggup berpisah dengan anakku kelak maka dari itu aku tidak mau hamil anakmu karna kau hanya menginginkan anak dariku" Ucap Zena lirih


Steven merasa iba saat melihat kemarahan istrinya, dia sama sekali tak terbawa emosi, beruntung sebelum kembali ke kamar, Steven sudah meminum obatnya, dia tak bisa melampiaskan hasratnya lagi kepada istrinya disaat bagian bawah istrinya sudah membengkak biru


"Bunuh aku saja Steve" Gumam Zena,


Steven langsung turun dari ranjangnya dan pergi keluar kamar, sebelum memutar gagang pintu, Steven memperingatkan sekali lagi kepada istrinya


"Dan kau jangan macam-macam, karna semua akses dirumah ini sudah aku sadap! jika kau berani macam-macam atau menyuruh bi sari membelikan pil KB seperti tadi, aku akan membunuh bibi tepat dihadapanmu agar kau tahu rasanya membunuh seseorang yang tak bersalah karna kesalahmmu" Ancam Steven lalu membuka pintu dan keluar dari kamar


Melihat suaminya pergi dari kamar, Zena semakin menangis "Hiks..Hiks.. kau pria yang jahat!" Ucap Zena dan dia semakin yakin bahwa Steven akan mengabulkan permintaan terakhirnya yaitu membunuhnya


"Bunuh aku Steve, aku akan berterimakasih saat kau mau mengabulkan permintaan terakhirku" Teriak Zena keras


"Jika aku mati ditanganmu, setidaknya kau merasakan puas karna kesalahanku yang sudah mengecewakanmu" Gumam Zena disela isakan tangisnya


Di luar kamar Steven mengajak Jeff untuk kerumah belakang, rumah yang biasanya mereka pakai untuk mengasah tangannya agar semakin lihai dalam menembak


"Tuan, kenapa malam-malam seperti ini, anda memintaku membawa banyak peluru" Tanya Jeff yang heran saat sudah berada dirumah belakang


"Isi beberapa pistol ini dengan peluru," Titah Steven, ucapan istrinya selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya

__ADS_1


"Bunuh aku saja"


"Apa aku salah, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk istriku, bukankah pernikahan akan semakin langgeng jika kehadiran buah hati diantara kita"


"Atau aku akan menuruti permintaan terakhir dia, aku bunuh dia"


"Jika aku membunuh dia, mungkin hidupnya akan tenang" Gumam Steven dalam hati sambil mendudukkan bokongnya dikursi dan kedua kakinya dia naikan ke atas meja


"Tuan, semuanya sudah siap, saya sudah mengisi semua pistol ini dengan peluru yang Tuan minta" Titah Jeff saat melihat Tuan mudanya melamun


"Tuan? " Ulangnya lagi sambil melambaikan tangannya tepat diwajah Steven membuat Steven tersadar dari lamunannya


"Apa aku harus membunuh dia Jeff? " Tanya Steven membuat Jeff mengkerutkan keningnya "Dia memintaku untuk membunuhnya" Sambung Steven lagi


"Maksud Tuan siapa? Nyonya? " Tanya Jeff yang diangguki Steven


"Oh no Tuan! Jangan lakukan itu, saya tahu apa yang Anda rasakan ini, tapi lebih baik anda tidak melakukan itu"


"Tuan bisa melepaskan Nyonya jika Tuan sudah tidak membutuhkannya lagi tapi jangan bunuh Nyonya, dia wanita yang baik" Ujar Jeff yang membuat Steven semakin murka


"Apa kau bilang hah! " Kaki Steven sudah turun dari meja, tubuhnya dia condongkan kedepan lalu mencengkram kuat baju Jeff


"Melepaskannya! ingat ya Jeff! selama aku belum puas aku tidak akan melepaskan mainanku! " Tega Steven pada Jeff


"Ma-maaf Tuan, saya tidak bermaksud seperti itu" Ujar Jeff ketakutan, tubuhnya semakin bergetar saat Steven mengambil pistol yang baru saja di isi peluru oleh Jeff


"Saya hanya mengusulkan pendapat" Sambungnya lirih


"Oh rupanya kau ingin mati ya Jeff! " Seringai licik Steven terlihat begitu menakutkan apalagi mereka di dalam rumah itu hanya berdua


Cekrek, krek. Steven menyalakan pistol itu lalu mengarahkan pada kening Jeff membuat Jeff menggelengkan kepalanya


"Mohon ampun Tuan, saya minta maaf, jangan bunuh saya, saya janji, saya tidak akan berbicara seperti itu lagi"

__ADS_1


Seakan tuli, Steven menarik pelatuknya dan Dor!! "


Bersambung😘


__ADS_2