
"Maksudku, aku takut ... dia mabuk bersama orang lain," ucap Steven mengejutkan sekertaris sekaligus sahabatnya.
"Tidak mungkin, kau tahu ... bagaimana sikap Jack kan? Dia anti dengan keramaian, tidak mungkin Jack melakukan hal gila seperti itu," jawab Nanda beranjak dari tempat duduknya.
"Hei, mau kemana!" cegah Steven yang bangkit dari duduknya.
"Bekerjalah, hanya itu yang mampu aku lakukan. Atau kau, ingin memberiku cuti selama beberapa hari. Tubuhku terasa lelah, ketidak hadiran mu yang terlalu sering membuatku mengerjakan semua pekerjaan mu," keluh Nanda meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
"Aku akan memberimu cuti, jika kau menikah, Nda!" teriak Steven saat melihat kepergian sekertarisnya.
"Memangnya nikah gampang. Calon saja tidak punya. Mau nikah dengan siapa aku!" gerutu Nanda keluar ruangan Steven.
Setelah kepergian sekertarisnya, Steven meluruskan kakinya di sofa. Menikmati ruangannya seorang diri, tanpa ada suara atau pun orang yang mengganggunya.
Tak terasa, hawa kantuk menyerangnya dan perlahan mata itu tertutup, tangannya sudah dia jadikan bantal agar kepalanya tidak terasa sakit.
Drt ...
Drtt ...
Getaran ponsel yang berada di atas meja mengagetkan Steven. Mata yang sudah terpejam, kembali terbuka dan tangan yang dijadikan bantal sudah meraih ponselnya.
"Hem, ada apa?" tanya Steven setelah menggeser tombol hijau.
"Maaf Tuan, Tuan Rio membuat ulah. Dan wali kelas Tuan kecil Rio, ingin bertemu dengan orang tua dari Tuan kecil," ucap Fakhri, bodyguard yang menjaga dan melindungi Rio saat berada di luar rumah.
"Apa Zena tahu tentang ini?" tanya Steven menurunkan kakinya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Belum Tuan, saya tidak berani menghubungi Nyonya Zena, saya takut ... membuat Nyonya panik," jawab Fakhri dari sebrang sana.
"Bagus, jangan biarkan Zena tahu, aku akan kesana sekarang. Kau ... jaga Rio dengan baik, bicarakan pada wali kelasnya, jika aku akan ke sana," ujar Steven mematikan telfonnya.
"Anak itu, kenapa semakin hari semakin nakal. Aku bahkan sudah bersusah payah mendidiknya, agar menjadi anak yang baik," gerutu Steven menyambar kunci mobil dan jas nya.
Melihat Steven keluar dari ruangannya dengan terburu-buru, Nanda pun berusaha mengikutinya. Baru saja, dia ingin membicarakan bahwa beberapa menit lagi ada meeting penting. Dan kini, dia dikejutkan dengan pemilik perusahaan yang kabur-kaburan.
__ADS_1
"Tuan Steven, berhenti!" pekik sekertaris Nanda, membuat Steven menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap sekertarisnya.
"Anda mau kemana? Anda tidak lupa kan dengan jadwal meeting ini. Saya sudah membuatkan jadwal ini beberapa hari yang lalu. Dan saya, juga pernah mendapat complain dari klien kita ini, karena anda tidak hadir dalam meeting beberapa hari lalu,"
"Saya harap. Sekarang, anda kembali duduk di kursi kebesaran dan membaca berkas ini. Pelajari semua ini, karena kita akan mendiskusikan tentang proyek besar," titah sekertarisnya halus, bahkan kedua sudut bibirnya sudah tertarik ke atas.
"Tunda meeting 2 jam kedepan. Aku harus menemui--"
"Tidak bisa, Tuan. Saya sudah kena--"
"Lakukan saja, aku akan menemui Rio. Anak itu sudah berani berulah di sekolah," titah Steven melanjutkan langkahnya dan meninggalkan sekertaris Nanda yang mulai emosi.
"Baiklah, baiklah! Pergi saja! Pergi dan tidak usah kembali! Biarkan perusahaan ini hancur, dan kau akan merasakan kemiskinan yang membuatmu di tindas banyak orang!" pekik sekertaris Nanda berjalan menuju ruangannya.
"Aku heran dengannya. Aku sudah menjelaskan semuanya dengan detail, bahkan aku harus menampilkan senyum manisku di depannya. Tapi, tetap saja tidak ampuh," gerutu sekertaris Nanda.
Setelah sampai di sekolah putranya, yang tidak lain adalah yayasan milik pribadinya sendiri, Steven langsung mematikan mobilnya. Dia berjalan menuju ruangan di mana anaknya sedang menunggu kedatangannya.
"Apa Rio ada di dalam?" tanya Steven setelah berada di dekat Fakhri.
"Tugasmu, jaga di sini. Jangan sampai, ada guru atau lainnya masuk. Aku tidak suka, anakku menjadi gosipan seluruh orang tua murid," titah Steven.
"Baik Tuan," jawab Fakhri.
Steven berjalan dan memasuki ruangan kepala sekolah. Terlihat anaknya sedang menunduk ketakutan dan di dekatnya terlihat seorang anak perempuan yang menangis.
"Apa yang dilakukan putraku?" tanya Steven to the point. Dia menjatuhkan bokongnya di kursi depan putranya.
Mendengar suara Daddynya, Rio langsung mendongakkan wajahnya dan berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan Steven.
"Dad, aku tidak bersalah," ucap Rio mengalungkan tangannya di leher Steven.
"Maaf Tuan, saya di sini sebagai kepala sekolah, hanya ingin menyampaikan bahwa Putra anda melukai teman pria nya samping terluka parah," ucap kepala sekolah.
"Apa benar, Rio melukai teman sendiri?" tanya Steven mengusap punggung putranya yang bergetar.
__ADS_1
"Tidak Dad, Rio tidak melukai. Dia sendiri yang terjatuh dan menuduh Rio. Rio hanya membela Cassandra saja," jawab Rio.
"Benar Om, Rio hanya membela saya saja. Teman kita yang satu itu benar-benar nakal, dia berani merebut paksa uang jajan saya dan Rio," timpal Cassandra.
"Sudah jelas semuanya. Putra saya tidak bersalah. Dia hanya ingin membantu temannya saja. Dan Putra saya juga korban," ucap Steven mendudukkan tubuh anaknya di pangkuannya.
"Tapi, pihak keluarga Devan, ingin menindaklanjuti kasus ini, jika Rio tidak mau meminta maaf pada Devan. Dan mereka meminta untuk dipertemukan dengan orang tua Rio," ucap kepala sekolah.
"Aku tidak mau meminta maaf, Dad. Dia yang salah, yang seharusnya meminta maaf, itu Devan dan geng nya," ucap Rio menghapus air matanya.
"Anda tahu, kesalahan terbesar Anda itu apa? Anda lebih membela seseorang yang bersalah, Bapak kepala sekolah yang terhormat,"
"Jadi, saya pribadi sendiri, akan memecat anda menjadi kepala sekolah di yayasan ini," ucap Steven tegas.
"Apa maksud anda Tuan. Anda tidak berhak memecat saya," jawab kepala sekolah yang mulai emosi.
"Sayang, bawa teman Rio keluar ruangan. Daddy ingin berbicara empat mata dengan Bapak kepala sekolah ini," titah Steven membelai rambut pendek anaknya.
"Baik Dad, terimakasih sudah membelaku. Rio sayang Daddy," ucap Rio mengecup pipi Steven.
"Rio pergilah, daddy juga sayang Rio."
Setelah kepergian Rio dan temannya. Tiba-tiba aura di ruangan kepala Sekolah itu terasa begitu mencekam.
"Di mana pihak keluarga Devan? Saya ingin bertemu dengannya sekarang juga!" titah Steven menaikkan kakinya ke atas meja.
"Jaga etika anda, Tuan Steven."
"Saya akan menjaga sikap dan perilaku Saya, kepada seseorang yang benar-benar adil dalam mengambil keputusan," ucap Steven enteng.
"Di mana? cepat katakan, di mana keluarga yang ingin mencelakai putraku."
"Mereka sedang berada di dalam perjalanan. Anda bisa menunggunya."
"Oh, lalu? anak yang berusaha memeras putraku?" tanya Steven lagi.
__ADS_1
Bersambungš