
"Kau yakin dengan ucapanmu?" tanya Steven saat melihat ekspresi tenang dari Jack.
"Yakin Tuan, saya tidak mempunyai perasaan apapun dengannya, dan masalah foto ... saya hanya--"
"Pergilah dan temui Jeff, aku baru saja mendapatkan kabar dari Ibu, jika Jeff sudah sadar," titah Steven mengeluarkan sebuah tiket pesawat menuju negara J.
"Benar Tuan? Jeff sudah sadar?" tanya Jack shock.
"Pergilah, dan bawa Jeff kemari."
"Baik Tuan," jawab Jack mengambil tiket pesawat dan melihat jadwal penerbangannya 1 jam lagi, "Tuan, kenapa mendadak sekali?" sambung Jack.
"Kenapa? Seharusnya kau bahagia, aku membelikan tiket secepat ini," titah Steven menjatuhkan bokongnya di kursi kekebesarannya.
"Saya belum menghubungi--"
"Dia tidak perlu tahu, sekarang fokuslah pada Jeff. Setelah Jeff sembuh, bawa dia kemari dan kau ... kau kembali ke tempat asalmu, menjaga semua senjata hasil penyelundupan kita," timpal Steven.
"Baik Tuan, saya permisi dulu," ucap Jack membungkukkan badannya.
"Hem ...."
Setelah kepergian Jack, Steven langsung mengambil ponsel dan menelfon Ibu nya jika Jack akan kembali ke negara J untuk melihat keadaan Jeff yang baru saja terbangun dari koma nya.
"Biarkan Jack berlama-lama di sana. Aku tidak mau, hubungan Jack dengan dokter Irma semakin dekat," titah Steven saat panggilannya terhubung dengan Tesa.
"Siapa dokter Irma? Kekasih Jack?" tanya Tesa.
"Bukan, dia kekasih Jeff, dan Jack hanya menggantikan posisi Jeff untuk sementara waktu," jawab Steven.
"Baiklah, Ibu akan menunggunya," ujar Tesa.
Setelah panggilannya berakhir, Steven beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menuju kaca besar di ruangannya, "Aku tidak akan membiarkan mereka bertengkar, aku harus menjauhkan Jack dengan dokter Irma demi kebaikan Jeff," gumam Steven.
Di dalam perjalanan, Jack tak henti-hentinya menelfon dokter Irma. Dia ingin memberitahukan keberangkatannya ke negara J yang terdengar mendadak.
"Angkat telfonnya, Ir," gumam Jack setelah beberapa kali panggilannya tidak diangkat.
"Aku harus menemui Irma di rumah sakit, tapi waktuku sudah mepet, dan aku tidak bisa. Tapi bagaimana dengan Irma, aku tidak tahu, sampai kapan aku berada di negara J, karena Tuan memintaku kembali bersama Jeff," gumam Jack sambil mengetuk-ngetuk jarinya di stir mobil.
"Ah ... kenapa semuanya jadi begini. Aku tidak bisa meninggalkan Irma dalam keadaan yang tidak jelas, aku masih mencemaskan kejadian malam itu," sambung Jack memarkirkan mobilnya di bandara.
Di saat Jack hendak turun dari mobil, tiba-tiba ponselnya berdering. Seketika Jack mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama di layar ponselnya.
"Hallo, Ir?" ucap Jack.
__ADS_1
"Ir? Ini aku Nanda," jawab sekertaris Nanda.
Mendengar jawaban dari Nanda, Jack langsung menepuk jidatnya dan melihat nama si penelpon di layar ponselnya.
'Ah ... aku benar-benar mencemaskan Irma, sedang apa dia?' batin Jack.
"Sorry, ada apa?" ucap Jack berjalan masuk ke bandara.
"Kunci mobil. Aku sedang menuju bandara untuk--"
"Sudah aku titipkan pada security, tunjukan saja STNK mobil," titah Jack langsung mematikan panggilannya.
Akhirnya pesawat yang ditumpangi Jack lepas landas. Terlihat Jack menggenggam erat ponselnya, "Semoga saja, kamu melihat semua isi pesanku, maaf aku tidak bisa menjaga dan aku tidak bisa bertanggungjawab dengan semua perbuatan ku selama ini. Kau boleh menganggap ku sebagai pria brengseekk, dan aku harap setelah aku kembali mengantarkan Jeff, aku tidak akan bertemu lagi denganmu," gumam Jack menarik napasnya dalam-dalam.
Di dalam ruangan, terlihat dokter Irma yang baru saja selesai menangani pasien terakhirnya, "Akhirnya selesai juga," gumam Irma meraih ponselnya.
Matanya membulat sempurna saat melihat beberapa panggilan dari kekasihnya. Segera Irma membuka password ponselnya.
"Ir!" ucap Al yang baru saja tiba di ruangan adiknya.
Mendengar suara Kakaknya, Irma langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di samping tumpukan kertas yang berada di atas meja kerjanya.
"Mas Al, ada apa kesini?" tanya Irma.
"Mas baru saja dari Caffe dekat sana, dan Mas belikan minuman kesukaan mu," ujar Al memberikan satu kantong plastik yang berisi minuman boba rasa coklat kesukaannya Irma.
"Untukku dan untuk kekasihmu. Mas sudah menelponnya, dan sekarang dia sedang kemari," Jawa Al menjatuhkan bokongnya di kursi depan Irma.
"Oh, aku sedang bertengkar dengannya, Mas."
"Bertengkar?"
"Iya, kemungkinan besar, aku akan memutuskan dokter Riyan," ucap Irma menancapkan sedotan ke dalam minuman bobanya.
"Karena pria itu?"
"Siapa Mas? Jeff? Ini bukan karena Mas Jeff, aku memang sudah tidak ada kecocokan lagi dengan dokter Riyan," ucap Irma kesal.
Krek ...
Pintu terbuka, dan munculah sosok pria yang beberapa hari ini telah membantunya, "Hai semua, maaf aku telat. Ada pasien yang tidak bisa ditinggalkan," ucap dokter Riyan berjalan dan mengambil kursi dekat Al.
"Duduklah di dekat Irma," titah Al pada dokter Riyan.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Riyan sambil menggeser tempat duduknya agar di dekat kekasih pura-puranya.
__ADS_1
"Kalian bertengkar?" tanya Al.
"Bertengkar? Siapa yang bilang?" tanya dokter Riyan, "Ir, kamu bilang ke Mas Al?" sambungnya lagi.
"Iya, aku bicara jika kita mau putus," jawab Irma.
"Baguslah, aku akan menerimanya. Kita putus," timpal dokter Riyan tersenyum bahagia.
"Kalian tidak boleh putus. Aku sudah bicarakan hubungan kalian pada Ibu, dan Ibu setuju. Ibu menginginkan kalian cepat menikah," ucap Al.
Uhuk ...
Uhukk ...
Irma dan Riyan tersedak oleh boba yang baru saja diminumnya.
"Mas, kita sudah putus!" ucap Irma.
"Aku tidak bisa menikah dengan Irma, Mas Al," timpal dokter Riyan.
"Demi Ibu. Apa kalian tidak punya perasaan, hem?" ujar Al.
"Tapi, aku tidak bisa menikah dengan--"
"Aku sudah diputuskan oleh Irma, dan aku tidak mungkin menikah dengannya," timpal Riyan memotong ucapan Irma.
"Aku setuju dengan dokter Riyan," ucap Irma tersenyum bahagia.
"Baiklah, kalian akan menikah 1 bulan lagi dari sekarang!" ujar Al beranjak dari tempat duduknya.
"Apa!" pekik dokter Riyan dan Irma bersamaan.
"Menikah? Aku menikah dengan dokter Riyan? Apa tidak ada pria lainnya di dunia ini selain dokter Riyan, Mas! Aku sudah mempunyai kekasih!" ucap Irma keceplosan.
"Kekasih?" ulang Al menghentikan langkahnya, "Kau memutuskan dokter Riyan demi kekasih barumu?" sambungnya lagi.
"Bukan Mas, bukan seperti itu. Maksud aku, hatiku sedang hancur karena Riyan mengkhianati ku," jawab Irma membuat mata Riyan membulat sempurna.
"Hei, siapa yang mengkhianatimu?" geram dokter Riyan, "Aku tidak pernah mengkhianatimu, Ir!"
"Tapi kemarin aku melihatmu bermesraan dengan wanita lain di ruanganmu. Mas Al ... aku tidak mau menikah dengan dokter Riyan, aku bisa memilih jodohku sendiri!" rengek Irma berjalan dan memeluk Kakaknya dari belakang.
"Benar yang dikatakan Irma? Jika kau mengkhianati perasaan adikku?" tanya Al, raut dan nada suaranya sudah berubah.
Glek ...
__ADS_1
Bersambungš