Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 112_1 Bulan


__ADS_3

"Sayang," Zena melepaskan pelukan anak tirinya, lalu kakinya dia tekuk agar sejajar dengan anak kecil yang sangat menggemaskan.


"Mommy kangen ... banget sama Rio, bagaimana keadaan Rio?"


"Kata Daddy, Rio sakit?" ujar Zena menempelkan punggung tangannya di kening Rio.


Rio menyingkirkan punggung tangan mommynya, "Rio sudah sembuh mom, Rio sembuh saat melihat mommy kembali ke rumah ini," jawab Rio memeluk Zena kembali.


Di saat mereka sedang melepas rindu, Steven dan Tesa menyuruh ibu dan anak itu masuk kedalam rumah karena hari sudah menjelang siang.


"Ayo masuk sayang, sampai kapan kalian akan di sini," ujar Steven membuat Zena dan Rio melepas pelukannya. Mereka masuk kedalam rumah yang terlihat megah dan luas.


Jeff dan sekertaris Nanda tersenyum saat melihat keharmonisan keluarga yang baru saja utuh.


"Semoga mereka tetap seperti itu sampai maut memisahkan," gumam Jeff yang menatap sekertaris Nanda.


"Iya Jeff, mereka sangat cocok. Tapi apa kabar dengan wanita ular itu?" tanya sekertaris Nanda membuat Jeff menepuk jidatnya.


"Kau ... kau seharusnya urus wanita ular itu, jangan bertanya padaku. Kau kan sekertaris Tuan, dan hanya kau yang bisa menjaga Tuan dari wanita ular itu,"


"Jabatan aja yang sekertaris, tapi tidak tahu bagaimana cara mengusir wanita ular itu, payah sekali kau!" ejek Jeff membuat sekertaris Nanda menggeram emosi.


"Jeff!" pekik sekertaris Nanda saat Jeff sudah berlari masuk kerja rumah Tuannya.


***


Sudah 1 bulan lamanya, kehidupan Steven dan Zena berubah. Keluarga kecil mereka sangat harmonis, dan Zena pun sudah memantapkan hatinya untuk suaminya.


"Mom, hari ini ... Rio mau diantar sekolah dengan mommy," ujar Rio saat selesai sarapan paginya.


"Boleh, mommy juga sudah ada janji dengan dokter," jawab Zena setelah meminum susunya.


"Biar aku antar kalian," Steven beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak usah Mas, aku bisa diantar dengan Jeff," tolak Zena yang beranjak dari tempat duduknya lalu menggandeng Rio yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Tapi sayang,"

__ADS_1


"Mas, meeting mu kali ini lebih penting. Aku tidak mau membebani kamu terus," timpal Zena menatap tajam suaminya.


Steven menghembuskan nafasnya kasar, memang hari ini dia ada meeting penting dengan klien luar negeri dan waktunya bentrok dengan jadwal pemeriksaan kandungan istrinya.


"Baiklah, tapi ... setelah selesai, aku akan menyuruh Jeff mengantarkan mu ke kantor. Aku tidak mau kamu sendirian di sini," ujar Steven yang diangguki Zena.


Sebelum Steven berangkat ke kantornya, dia tak lupa mencium kening istri dan anaknya, "Daddy hari ini mengizinkanmu untuk diantar mommy, tapi besok ... Daddy yang akan mengantarmu lagi, kasihan mommy ... perutnya sudah semakin membesar," ujar Steven setelah mengecup kening putranya.


"Iya dad, aku juga ingin memperkenalkan mommy pada temanku,"


"Dia teman terbaikku dad, disaat yang lainnya menghinaku, dia justru mengajarkan apa yang aku tidak ketahui," jawab Rio membuat Steven mengerutkan keningnya.


"Menghina? memang siapa yang berani menghinamu. Dan kenapa daddy baru dikasih tahu sekarang sayang, tidak ada yang boleh menghina anak Daddy hemm," ujar Steven menatap istrinya, lagi dan lagi Zena membalas tatapan itu dengan senyuman.


"Jangan ajarkan anakmu menghadapi masalah dengan kekerasan Mas, aku yang memberitahu Rio ... agar tidak memberitahukanmu, lagipula ada teman Rio yang membelanya,"


"Benar Dad, temanku ini tidak hanya cantik melainkan baik hati juga,"


"Wah ... anak Daddy mempunyai teman wanita?" tanya Steven yang diangguki Rio.


Kehidupannya kali ini benar-benar membuatnya bahagia. Tak ada pengganggu seperti Sheila dalam sebulan ini, Steven pun tak tahu di mana Sheila berada.


Steven membukakan pintu mobil untuk anak dan istrinya, lalu melambaikan tangan di saat mobil itu mulai berjalan keluar dari gerbang utama.


Setelah mobil itu lepas dari pandangannya, Steven memasuki mobilnya sendiri tanpa supir.


"Jeff kita singgah di supermarket depan. Aku mau membelikan bekal untuk Rio," ujar Zena saat mengecek tas sekolah putranya.


"Rio belum membawa bekal mom?" tanya Rio yang tengah mengusap perut Zena.


Belum pertanyaan dijawab, Rio sudah melontarkan beberapa pertanyaan lagi.


"Mom, kapan adek Rio keluar. Rio cape nunggunya," sambung Rio kembali.


"Emm masih lama sayang, 5 bulan lagi ...," jawab Zena sambil menutup tas putranya dan meletakkan di sampingnya.


"Rio udah gak sabar ya," tanya Zena yang diangguki Rio

__ADS_1


"Iya Mom, ini adik pertama Rio. Dan Rio juga sudah bilang dengan teman Rio jika Rio akan mempunyai adik yang sangat cantik,"


"Cantik?" gumam Zena, "Kita belum tahu sayang ... jika adik Rio laki-laki bagaimana?" tanya Zena mengusap kepala putranya dan sesekali menghapus keringat yang tercecer di kening putranya.


Keaktifan Rio membuat tubuhnya selalu berkeringat, walaupun AC di dalam mobil sudah menyala.


Di saat Rio dan Zena sedang mengajak calon bayi yang ada di perut Zena, tiba-tiba Jeff memberitahukan bahwa mereka sudah sampai di depan sekolah Rio.


"Nyonya, kita sudah sampai," ujar Jeff, dia keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk istri beserta anak Tuan nya.


"Sudah sampai sayang, oh iya Jeff ... aku menyuruhmu untuk singgah ke supermarket, kenapa tidak singgah sebentar. Bagaimana jika Rio kelaparan," geram Zena kepada Jeff.


"Maaf Nyonya, Tuan tidak memperbolehkan saya untuk singgah tanpa seizin darinya. Dan urusan bekal Tuan Rio, biar saya atau sekertaris Nanda yang membelikannya,"


"Jeff--"


"Sudah Mom, ayo keluar ... aku akan memperkenalkan temanku pada mommy," ujar Rio yang menggendong tasnya lalu keluar dari mobil diikuti oleh Zena di belakangnya.


"Rio ...," teriak seorang anak kecil yang duduk di kursi sambil melambaikan tangannya.


Rio tersenyum, dia menggandeng tangan Zena dan berjalan menuju teman sekaligus sahabatnya di sekolahan.


Tidak ada yang tahu bahwa sekolah ini pemilik saham terbesar adalah Steven Fernando, Ayah dari Rio. Karena Steven merahasiakan pada semua orang termasuk putranya, agar putranya tidak bertindak seenaknya dan bisa belajar selayaknya anak kecil pada umumnya.


"Hay Ca, aku mau memperkenalkan mommyku padamu," ujar Rio saat sudah di depan teman perempuannya.


"Hai Tante," Cassandra mengulurkan tangannya untuk menyalami Zena.


Zena tersenyum, akhirnya putranya mendapat teman yang baik dan tulus, "Siapa namamu nak," ujar Zena menerima uluran tangan anak kecil di depannya.


"Cassandra Tante," jawab Cassandra tersenyum malu. Setelah itu Cassandra mendekat pada Rio, "Mommymu cantik banget Rio. Aku ingin jika aku besar nanti, aku bisa menjadi wanita cantik seperti mommy mu," bisik Cassandra tepat di telinga Rio.


...Kebahagiaan, kebahagiaan memang tidak bisa dibeli dengan materi. Tapi tanpa materi, kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan. ...


by: gustikha


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2