
Kedua sudut bibir Riyan tertarik ke atas, saat ekor matanya tidak melihat bayangan atau langkah kaki Irma yang mengikutinya lagi.
"Lihat saja, aku akan tetap berbohong pada Mas Al, biar tahu rasa, dia!" gerutu Irma membuka dan masuk ke dalam ruangannya.
Malam hari, langit-langit malam terlihat begitu indah saat menampilkan rembulan dan bintang-bintang yang menghiasinya.
Semua mata yang menatapnya, akan termanjakan termasuk dengan Irma. Menunggu kehadiran seseorang yang dicintainya membuatnya tidak pernah bosan, walaupun sudah setengah jam dia menunggu.
Tidak ingin pertemuannya dengan Jack diketahui oleh Kakak atau teman se profesinya, Irma mengubah tempat pertemuan mereka, di salah satu caffe yang letaknya tidak jauh dari dekat taman kota.
Tidak ada henti-hentinya Irma menebar senyumnya yang manis, dan tidak ada henti-hentinya, Irma merapikan pakaian dan make up nya agar tidak mempermalukan kekasihnya.
"Aku rasa semuanya sudah perfect, penampilanku sudah Oke, make up ku juga sudah natural. Aku ingin mendengar pujian dari Mas Jeff, sudah lama rasanya aku tidak mendengar pujian itu," gumam Irma menyimpan lipstik dan bedaknya di dalam tas.
Setelah hampir sejam, Irma menunggu. Akhirnya kekasih pujaannya datang. Wajahnya sangat berbeda dari hari sebelumnya mereka bertemu.
"Mas, Mas Jeff kenapa lesu? Apa ada masalah?" tanya Irma setelah kekasihnya duduk di bangku depannya.
"Aku tidak ada masalah apapun, Ir. Aku kurang tidur, semalam kau tahu sendiri kan, aku pulang dari rumahmu subuh," ucap Jack lesu, kantong mata yang hitam membuat Jack terlihat mengerikan.
"Aku sudah siapkan ini, Mas," ucap Irma memberikan beberapa bungkus masker pada Jack.
Jack mengerutkan keningnya, dia mengambil satu masker dan memandangnya lekat-lekat.
"Apa ini? Aku tidak pernah menggunakan ini, Ir. Lebih baik, kamu simpan saja," ucap Jack meletakkan bungkus masker itu kembali.
"Itu namanya masker, Mas. Aku sudah menduga kalau matamu akan seperti itu. Jadi, aku bawakan masker ini khusus untuk Mas. Dan Mas Jeff bisa menggunakan malam hari, cara penggunaannya ada di kemasan belakang. Mas Jeff bisa baca sendiri di rumah," jawab Irma tersenyum manis.
"Kamu sudah memesan minum atau makan Ir?" tanya Jack mengalihkan pembicaraannya.
"Sudah, dan aku juga sudah memesankan minuman serta makanan untuk Mas Jeff juga," jawab Irma lagi.
'Aku tidak bisa mempermainkan perasaan seseorang. Aku tidak mungkin, berbohong terus padanya. Tapi, aku juga tidak bisa memberitahukan semuanya pada Irma. Aku takut, dia akan marah dan membenci keluarga Tuan,' batin Jack membalas senyuman dari kekasihnya.
__ADS_1
'Jeff, kau sangat beruntung memiliki kekasih sepertinya, dia sangat peduli terhadap mu,'
"Mas, kenapa melamun? Apa ada yang salah?" tanya Irma melambaikan tangannya di depan wajah kekasihnya.
"Eh, tidak. Aku tidak melamun, aku terpesona akan kecantikan mu," ucap Jack langsung menutup mulutnya.
'Aduh, kenapa aku berbicara seperti itu!' batin Jack merutuki kebodohannya.
Mendengar pujian dari pria yang dicintainya, hati Irma langsung berbunga-bunga, niat hati ingin bertemu dengan kekasihnya untuk membahas kejadian malam itu pun Irma urungkan.
"Oh iya, Ir, ada sesuatu yang harus aku bicarakan," ucap Jack setelah beberapa menit mereka saling terdiam.
"Apa?" tanya Irma penasaran.
'Apa mungkin, Mas Jeff akan melamarku malam ini,' batin Irma bahagia.
"Emm, tapi aku harap ... kamu tidak tersinggung dengan ucapanku," ujar Jack.
"Aku ingin, kau melupakan semua kejadian malam itu. Jika benar, kita melakukannya dan kamu positif hamil, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan ku padamu. Tapi jika tidak, kita akhiri hubungan kita sampai di sini," ujar Jack membuat Irma shock. Bagaimana mungkin, pria dihadapannya berbicara sekejam itu.
"Kita berbeda keyakinan. Dan kita tidak mungkin bersatu," jawab Jack.
"Sekali lagi, maafkan aku," sambung Jack kembali.
"Maaf! Maaf kau bilang!" pekik Irma yang beranjak dari tempat duduknya, "Aku sudah menurunkan harga diriku untukmu, Mas! Dan kini, kamu hanya mengucapkan kata Maaf! Apa dengan kata maaf semuanya akan terselesaikan? Tidak Mas!"
"Ir, duduklah, jangan seperti ini. Semua orang bisa menilai kita buruk. Duduklah Ir," ujar Jack menarik tangan wanitanya agar segera duduk kembali.
"Duduk! Ternyata ucapan Mas Al semuanya benar. Kamu hanya memanfaatkan ku saja, setelah kamu mendapatkan semuanya dariku, sekarang kamu membuangku. Aku benci kamu Mas!" teriak Irma berlari, seketika Jack ikut berlari dia memeluk wanitanya dari belakang.
"Maafkan aku, Ir. Aku harus berbuat apa, aku juga bingung," ucap Jack.
Irma menghapus air matanya, kemudian dia menatap pria yang telah melukai hatinya.
__ADS_1
"Jika kamu mencintai aku, nikahi aku, Mas. Hanya itu saja, yang aku inginkan darimu," ucap Irma.
"Tidak bisa, Ir. Aku tidak bisa menikahi mu, karena--"
"Karena Mas Al?" tanya Irma, "Kita bisa membujuknya bersama-sama, Mas. Mas Jeff saja, yang tidak memiliki niat untuk seriuss denganku," timpal Irma.
"Ir, aku-aku tidak seperti itu. Kita kembali duduk, dan kita bicarakan ini baik-baik, ya?" titah Jack, bersyukur pengunjung caffe tidak terlalu banyak.
"Aku tidak suka dibohongi Mas, seharusnya dari awal kau tidak usah mengejarku, jika niatmu untuk bermain-main denganku."
"Duduklah, kita bisa bicarakan ini baik-baik, lagi pula makanan dan minuman kita belum sampai, tenangkan pikiran mu dulu," ucap Jack.
Dengan berat hati, Irma kembali duduk di tempatnya semula. Walaupun ada rasa sakit dan kekecewaan yang menyelimuti hatinya, tapi Irma tetap harus menyelesaikan masalahnya dengan kekasihnya itu.
"Kita tunggu selama sebulan, jika kamu benar-benar hamil, aku akan menikahimu," ujar Jack setelah mereka kembali duduk di tempat semula.
"Jika, aku tidak hamil, bagaimana Mas?" tanya Irma menatap tajam mata Jack.
"Aku-aku akan tetap menikahimu, tapi aku belum bisa memberitahukan waktunya," jawab Jack gugup.
'Maafkan aku, tapi aku benar-benar bingung. Aku berharap, kamu tidak hamil, dan Jeff cepat sadar,' batin Jack.
"Kamu tidak terpaksa kan, Mas? Kamu mencintaiku kan, Mas? Jawab Mas!"
"Kamu masih cinta kan, sama aku?" tanya Irma.
"Iy-iya, aku masih cinta denganmu, Ir. Jadi, jangan pernah berpikir buruk tentangku," jawab Jack tersenyum kaku.
Mendengar jawaban dari pria di hadapannya, seketika hati Irma terasa begitu lega. Ketakutannya selama ini sudah tergantikan dengan kebahagiaan.
"Aku, akan tetap menunggu mu, sampai kamu siap, Mas," ucap Irma.
"Tapi, pekerjaanku hanya sebagian pengawal Tuan Steven. Apa kamu tidak keberatan dengan status pekerjaan ku?" tanya Jack.
__ADS_1
"Kenapa? yang penting halal dan bertanggungjawab, Mas. Aku tidak mau mempunyai suami kaya raya tapi hatinya bukan untukku, dan hobinya berselingkuh di belakangku," jawab Irma.
Bersambungš