Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Bab 219


__ADS_3

"Berikan Evan padaku. Biar aku yang menjaganya. Kamu tidak bisa merawat anak kecil sepertinya. Buktinya Evan selalu menangis!" ucap Steven mengambil Evan dari gendongan Dinda.


"Tapi, Steve. Aku bisa, Aku bisa merawat Evan. Dia hanya butuh beradaptasi denganku, saja. Aku ambil Evan lagi, ya?" titah Dinda.


"Tidak perlu!" ucap Steven membawa putranya dan meletakkannya di box bayi di ikuti oleh Dinda di belakangnya.


"Kapan kamu akan menikahiku, Steve? Istrimu akan ku pastikan menyusul anakmu itu!" ucap Dinda yang membuat Steven emosi kembali.


"Sekali lagi kamu berbicara seperti itu! Aku tidak akan mengampunimu. Justru aku sendiri akan membunuhmu." ketus Steven yang mendapat tawa dari Dinda.


"Hahaha ... Aku tidak salah dengar, Steve? Kamu mau membunuhku? Itu artinya, kamu sudah siap kehilangan istri tercintamu itu!" ejek Dinda.


"Pergilah! Aku tidak ingin di ganggu oleh iblis sepertimu!" ketus Steven.


Sedangkan di satu sisi, Zena tengah kehabisan banyak darah.

__ADS_1


Dia sudah memasrahkan kehidupannya yang akan berakhir di sini.


'Aku pasrah. Jika ini takdirku untuk mati, aku pasrah.' batin Zena membuat salah satu penjahat yang sedang berjaga merasa iba.


"Bos, apa kita obati saja lukanya? Kasihan! Mau bagaimana pun, dia wanita cantik. Jika, suaminya tidak ada pergerakan. Kita bisa bersenang-senang sesaat dengannya!"


"Nah, itu ide yang bagus, Bos! Aku yakin, pasti rasanya masih segar!" timpal anak buah lainnya.


'Siaalan! Aku tidak sudi di sentuh kalian. Lebih baik, aku mati. Dari pada aku harus melayani kalian yang jahat!' batin Zena.


"Asal kalian tahu! Aku baru saja melahirkan!" ucap Zena lirih.


"Hahaha .... Apa hubungannya dengan kita? Mau kamu habis melahirkan atau tidak. Kita tidak akan perduli. Yang kita perdulikan adalah uang! Kau tahu, uang?" ucap ketua penjahat lalu meminta beberapa anak buahnya mengobati luka Zena.


Zena diam saat lukanya di obati. Jujur saja, dia malas di sentuh. Tapi demi hidupnya bertahan lama. Akhirnya, Zena tidak melakukan perlawanan.

__ADS_1


"Cantik juga ini! Pasti umurnya masih muda!" goda penjahat yang sedang mengobati luka Zena, "Boleh dong, kita mengambil kesempatan dalam kesempitan, haha!"


"Jangan gila! Aku tidak sudi di sentuh kalian! Dasar para ibliis!" ketus Zena.


"Wah, galaknya membuatku semakin tertantang!"


"Aku akan mencobanya. Obati lukanya dulu, lalu kalian semua keluar! Aku mau bersenang-senang dengan wanita ini!" titah ketua penjahat yang sedang duduk sambil menatap lapar Zena.


'Ya Tuhan, aku tidak mau di sentuh pria jahat ini. Aku masih mempunyai suami. Aku baru saja mempunyai anak. Aku tidak sudi. Tolong! Mas, kamu di mana? Apa kamu benar-benar tidak perduli denganku. Apa cintamu hanya sebatas sampai di sini, saja, Mas?' batin Zena sambil menitikkan air matanya.


"Jangan menangis, sayang. Abang akan membuatmu bahagia!" titah ketua penjahat yang sedang berjalan mendekatinya.


"Jangan mendekat!" teriak Zena, "Aku mohon! Aku baru saja melahirkan! Please, aku mohon!" ucap Zena memohon.


Ketua penjahat itu semakin mendekat, membuat Zena ketakutan. Dia berusaha melepas tali yang mengikat di tangannya.

__ADS_1


"Jangan mendekat! Aku mohon!" pinta Zena diabaikan ketua penjahat tersebut.


__ADS_2