
"Hei, Ir! Tunggu Mas!" teriak Al yang berusaha mengejar adiknya yang tengah emosi.
'Aku hanya ingin mengerjai dia, tapi kenapa ... dia sangat marah,' batin Al.
Setelah sampai di ruangan dokter Riyan, Irma langsung membuka pintu, dia berjalan menghampiri teman seprofesinya.
"Kenapa, kau tidak mau membantuku lagi hah!" geram Irma saat melihat dokter Riyan bersantai bermain game online nya.
"Apa maksudmu, aku tidak paham dengan ucapanmu itu. Siapa yang tidak mau membantumu lagi," ujar dokter Riyan dengan pandangan fokus ke layar ponselnya. Kedua jari jempolnya memencet tombol permainan itu dengan cepat.
"Hei, kenapa kamu bilang pada Mas Al, kalau kamu tidak pergi denganku, malam tadi!" ujar Irma merampas ponsel temannya dan meletakkan di saku jasnya.
"Hei, kembalikan ponselku. Aku sudah dua kali kalah, dan kali ini kesempatanku untuk menang!" geram dokter Riyan.
"Jawab pertanyaanku, kenapa kamu berbicara seperti itu pada Mas Al, kita teman ... sudah seharusnya kita saling membantu," ucap Irma memundurkan langkahnya agar temannya tidak bisa mengambil ponselnya.
"Berikan ponselku dulu. Aku harus menyelesaikan permainan ku dulu!" geram dokter Riyan, emosinya tiba-tiba muncul. Dengan secara paksa, dokter Riyan mengambil ponsel miliknya di saku jas teman wanitanya.
"Aku tidak akan memberikan ponselmu, sebelum kamu berbicara jujur padaku!" cegah Irma.
"Aku tidak tahu maksud ucapanmu. Aku harus memenangkan permainan itu dulu. Pangkatku bisa turun, Ir!" teriak dokter Riyan, tangannya berusaha menyelinap masuk ke saku jas temannya.
"Jangan berpura-pura, kata Mas Al--"
"Tanyakan saja pada Mas mu, apa hubungannya denganku!" timpal dokter Riyan.
"Hei, aku belum selesai bicara!"
"Aku tidak mau mendengarkan ocehanmu, Ir. Berikan ponselku!" teriaknya frustrasi.
"Ekhem ...,"
Deheman dari dekat pintu, membuat kedua dokter yang sedang berdebat terdiam.
Segera dokter Riyan mengambil ponsel miliknya dan melanjutkan permainan game online nya, tapi di saat sudah memasuki area permainannya, tiba-tiba terdengar suara 'Defeat' dan hal itu membuat dokter Riyan marah pada teman wanitanya.
__ADS_1
"Kenapa diam? Apa kalian tidak malu dilihat semua pasien! Bisa-bisanya kalian bertengkar dengan pintu terbuka seperti ini!" ucap Al menggelengkan kepalanya.
"Mas Al, masih di sini? Aku pikir, Mas Al sudah pulang," ucap Irma mencari tempat persembunyian di belakang tubuh dokter Riyan.
"Hei, mau apa! Jangan bersembunyi di belakangku. Karenamu aku kalah!" gerutu dokter Riyan menggeser posisi duduknya.
"Hust, maafkan aku. Sekarang, kita mulai sandiwara kita, Kita akan menjadi sepasang kekasih yang sangat harmonis," bisik Irma tepat di belakang tubuh dokter Riyan.
"Enak saja, setelah menuduhku, sekarang kau merayuku! Aku tidak mau!" seru dokter Riyan.
"Apanya yang tidak mau?" tanya Al penasaran, "Dan kenapa kau mengumpat di belakang kekasihmu, Ir? Mas tidak akan memarahimu. Mas justru ingin meminta maaf, karena ucapan Mas, kalian menjadi bertengkar," ucap Al membuat Irma menggeser satu langkah dan menatap Kakaknya.
"Apa maksud Mas Al?" tanya Irma, "Apa Mas Al sedang mengerjaiku?" sambung Irma lagi.
"Memang ... memang Mas sedang mengerjaimu," jawab Al santai, membuat Irma melototkan matanya, tiba-tiba kedua sudut bibirnya tersenyum manis saat melihat tatapan tajam dari teman prianya.
"Hukum dia, Mas. Dia sudah membuatku kalah bermain!" titah dokter Riyan menjatuhkan bokongnya di kursi dan mencoba memulai permainan dari awal lagi.
"Mas Al, baik banget. Boleh aku kembali keruanganku, aku lupa ada beberapa pasien yang harus aku cek," ujar Irma.
"Sayang, kau bicara apa! Apa kau tega melihat kekasihmu ini mendapat hukuman dari Kakaknya. Dan Mas Al, Mas Al tidak akan menghukum ku, aku adik yang paling disayang oleh Mas Al," ucap Irma.
'Lama-lama aku bisa gila melihat kisah cinta mereka yang aneh,' batin Al.
"Aku akan pergi, jika kau ingin menghukum adikku, hukumlah. Aku percaya, kau bisa mendidik adikku dengan benar, dan memberi hukuman dengan wajar," titah Al membuat kedua sudut bibir dokter Riyan itu tertarik ke atas, mengukir senyum yang indah.
"Benar Mas, tapi bagaimana jika Irma melawan," jawab dokter Riyan meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap arah Kakak temannya.
"Beritahu padaku, aku akan melangsungkan pernikahan untuk kalian berdua, agar Irma tidak bisa melawanmu lagi," ujar Al, setelah itu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Mas! Mas Al tidak bisa seperti itu!" teriak Irma yang terkejut dengan ucapan Kakaknya.
Al menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya agar menghadap adik tersayangnya.
"Kenapa tidak bisa? Kalian saling mencintai dan hubungan kalian sudah lebih dari sebatas teman," ujar Al membuat Irma terdiam.
__ADS_1
Tidak mendapatkan jawaban dari adiknya, Al pun kembali melanjutkan langkahnya dan menghilang dari rumah sakit.
"Aku tidak percaya, masalahku semakin rumit," gumam Irma, tubuhnya melemas, dengan langkah beratnya dia menjatuhkan bokongnya di ranjang tempat dokter Riyan mengecek pasiennya.
"Ini yang kau tanam. Jika, sudah seperti ini akan susah kita mencari jalan keluar selain kau patuh denganku," ucap dokter Riyan yang tengah fokus dengan permainannya.
"Tidak susah, ini akan mudah. Aku bilang saja, aku sudah putus denganmu," jawab Irma enteng.
"Bicaralah, dan aku akan terbebas. Tapi, berbeda denganmu, kau akan masuk ke dalam jurang yang terdalam," ucap dokter Riyan.
"Apa maksud mu?"
"Sebelum Jeff benar-benar pergi dari kehidupanmu, Kakakmu akan tetap menjodohkanmu dengan pria lain. Bersyukur, kau mendapatkan pria modelan sepertiku, yang bisa bekerjasama. Jika, kau mendapatkan pria--"
"Aku tahu, aku tahu. Aku mengerti semua maksud dari ucapanmu," timpal Irma cepat.
"Aku akan pergi, dan memikirkan cara lain," sambung Irma, tubuhnya terasa lemas, berjalan pun hampir terjatuh. Memikirkan ucapan temannya, membuatnya berpikir berulang kali.
***
"Om Nanda dan Om Jack yang sudah mendownloadkan pemain game online di iPad Rio," ujar Rio menunjuk Jack dan Nanda yang tengah duduk lemas di meja makannya.
"Om, sekarang ... Om harus bertanggung jawab, kembalikan iPad Rio yang disita oleh Daddy!" titah Rio pada kedua pria di hadapannya.
"Pakai ponsel Om Jack saja, Rio bisa menemukan banyak sekali game online di dalamnya," ucap Nanda membuat mata Jack melotot.
"Tidak, enak saja. Pakai ponselmu saja, kenapa harus ponselku!" gerutu Jack mengumpatkan ponsel miliknya.
"Ponselku berisi data penting dan bersifat rahasia," ujar Nanda.
"Ponselku pun sama, bersifat rahasia," ucap Jack tak kalah ketus.
"Om! Kenapa kalian bertengkar! Lebih baik, berikan ponsel kalian semua padaku. Dan Rio, akan memilih sendiri, Rio akan mengecek ponsel siapa yang terdapat banyak game online, maka itulah pilihanku," ujar Rio.
Bersambungš
__ADS_1