Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 165_Ponsel Tertinggal


__ADS_3

"Siapa yang berbohong Mas, aku dan dia berteman. Apa salahnya aku membela teman sendiri Mas. Aku membela dengan kenyataan yang ada, jika dia memang orang baik. Mungkin Mas Al saja yang belum mengenalnya terlalu lama," elak Irma.


Setelah berdebat di dalam mobil, akhirnya Al dan Irma sampai di depan rumah sakit, tempat adik perempuannya bekerja.


"Maafkan Mas, Ir ...," ucap Al saat mobilnya berhenti di depan rumah sakit.


"Maaf untuk apa Mas, Mas Al tidak memiliki salah padaku," jawab Irma yang bersiap-siap untuk turun dari mobil Kakaknya.


"Ir," cegah Al, "Mas mu ini, hanya ingin yang terbaik untuk masa depanmu," sambungnya lagi.


Irma menoleh lalu melepaskan tangan Kakaknya, "Aku tahu Mas, tapi aku sudah besar. Aku mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan. Jadi jangan memperlakukan ku seperti adik kecil mu yang masih bayi," jawab Irma membuka dan keluar dari mobil Kakaknya.


Setelah keluar dari mobilnya, Al langsung menancapkan gas menuju kantor tempatnya bekerja.


Tiba-tiba saat di dalam perjalanan, terdengar suara ponsel yang berdering di samping bangkunya.


"Ponsel Irma tertinggal. Lebih baik, aku putar balik. Aku takut, Irma mencari ponselnya, tapi siapa yang menelfon ya?" gumam Al menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu meraih dan melihat nama si penelpon di layar ponsel adiknya.


Matanya membulat sempurna, beberapa kali dia mengucek matanya dan memastikan nama si penelpon itu.


"Untuk apa dia menelfon Irma?" gumam Al ragu untuk mengangkatnya.


Setelah beberapa detik, akhirnya Al memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. Tapi, di saat dia ingin menggeser tombol hijau, tiba-tiba telfon itu sudah mati.


Kecurigaan yang sempat tumbuh di hatinya, seketika hilang. Dirinya merasa senang, karena adiknya dekat dengan pria yang selama ini sangat menghargai dirinya.


"Aku tidak menyangka, Irma akan menuruti semua permintaanku," gumam Al memasukkan ponsel adiknya ke dalam saku jas, dan menancapkan gas mobilnya.


Di dalam ruangannya, berkas dan seluruh isi tas Irma sudah dikeluarkan, mencari ponselnya yang tiba-tiba menghilang membuatnya frustrasi.


"Kamu salah meletakkan atau tertinggal di rumah kali, Ir?" ucap dokter Riyan yang sedang membantu teman wanitanya.


"Tidak dok, aku ingat jelas--"


"Apa tertinggal di mobil Mas Al?" ucap Irma menepuk jidatnya.


"Tapi, tadi aku mencoba menelfon nomermu, tidak ada yang mengangkat. Jika benar tertinggal di mobil Kakakmu. Pasti sebentar lagi, Kakakmu akan datang dan mengantarkan ponselmu," ujar dokter Riyan beranjak dari tempat duduknya.


'Aku takut, aku takut ... jika Mas Jeff menelfon ku dan Mas Al tahu,' batin Irma cemas.


"Kenapa cemas Ir? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari Kakakmu itu?" tanya dokter Riyan yang melihat raut wajah temannya berubah.

__ADS_1


"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak--"


Krek,


Pintu terbuka dari luar dan menampilkan sosok pria muda ber jas.


"Mas Al, Mas Al ada apa kemari?" tanya Irma beranjak dari tempat duduknya, raut wajahnya semakin pucat saat melihat tatapan menusuk Al.


"Mas Al, aku tinggal dulu," ucap dokter Riyan yang merasakan aura peperangan antar kakak beradik itu.


"Hei, kau mau kemana. Temani aku di sini," cegah Irma menarik tangan teman prianya.


"Mas Al, ada apa kemari," tanya Irma, nyalinya semakin menciut saat melihat Kakaknya berjalan menghampirinya.


Al mengeluarkan ponsel milik adiknya dan meletakkan ponsel itu di atas meja.


"Tadi ada yang menelfon mu," ucap Al membuat Irma mengeratkan genggamannya pada dokter Riyan.


"Si-siapa Mas," tanya Irma menyembunyikan tubuhnya di belakang dokter Riyan.


"Lihat saja," titah Al menjatuhkan bokongnya di kursi.


"Dok, ambilkan ponselku," bisik Irma di telinga teman prianya.


***


Krek ...


Pintu terbuka dari dalam, terlihat Dinda yang sudah bersiap-siap untuk meninggalkan kediaman rumah mantan suaminya.


"Aku akan membuat perhitungan padamu. Ingat itu!" ancam Dinda berjalan keluar menuju pintu utamanya.


"Huh!"


"Aku tidak menyangka, akan ada wanita semacam ini. Bermuka tembok," gumam Zena yang masih bisa di dengar oleh Dinda.


Mendengar ucapan istri baru mantan suaminya. Langkah Dinda terhenti, dia memutar tubuhnya agar menghadap wanita dengan perut buncitnya.


"Sekali lagi, kau menghinaku. Aku pastikan nyawamu dan anakmu tidak tertolong," ketus Dinda kemudian melanjutkan langkahnya.


"Jika semua itu terjadi, maka langkahi mayatku dulu," timpal Jack yang sudah berada di belakang Zena.

__ADS_1


Zena menoleh, dia menempelkan jari di bibirnya untuk menghentikan setiap ucapan yang akan dilontarkan oleh anak buah suaminya.


"Hentikan Jack, yang waras mengalah," bisik Zena tepat di samping tubuh Jack.


"Tapi saya takut, jika ucapan Nyonya Dinda benar-benar terjadi. Dia termasuk tipe orang yang memegang setiap ucapannya," jawab Jack lirih.


"Biarkan saja, hidup mati kita sudah ditakdirkan oleh Tuhan kita," ucap Zena berjalan mengikuti langkah Dinda.


***


"Maaf, jika aku mengganggu waktu kalian. Tapi aku benar-benar tidak menyangka, Irma akan menuruti semua permintaanku," ucap Al tersenyum membuat kedua orang yang sedang ketakutan menjadi kebingungan.


"Apa maksud Mas Al?" tanya Irma heran.


"Kalian berpacaran kan!" ucap Al pada Irma dan dokter Riyan.


"Hah! Berpacaran?" ucap dokter Riyan shock, 'Sejak kapan, aku berpacaran dengan wanita seperti ini. Bahkan--'


"Kita--"


"Ahaha ... iya Mas, kita berpacaran. Tapi, dari mana Mas Al tahu?" ucap Irma mencubit lengan dokter Riyan.


"Wah, selamat untuk kalian. Aku harap, kamu bisa menjaga dan melindungi Irma," ucap Al beranjak dari tempat duduknya kemudian menepuk pundak dokter Riyan.


"Ta-tapi, aku--"


"Aww ... sakit," ringis dokter Riyan saat lengan nya di cubit oleh teman wanitanya.


"Yah, aku tahu, kalian malu kan untuk membicarakannya karena berpacaran dengan--"


"Mas Al sebaiknya pergi, ini sudah siang. Apa Mas Al tidak bekerja?" timpal Irma saat melihat jam di dindingnya sudah menujukkan pukul 9 pagi.


"Ah iya, ya sudah. Mas berangkat kerja dulu. Sekarang aku menjadi tenang setelah mengetahui semuanya. Aku titip adikku, jaga dan sayangi dia dengan baik," ucap Al kemudian memutar tubuhnya dan berjalan keluar.


Belum sempat Al keluar, tiba-tiba terdengar dering ponsel milik adiknya, seketika pandangan menatap ponsel yang tergeletak di atas meja.


Mendengar ada bunyi telfon yang masuk dari ponselnya, seketika Irma langsung mengambil dan menyembunyikan ponselnya. Diliriknya nama penelpon yang tertera di layar ponselnya.


'Mas Jeff, aduh kenapa dia telfon di saat tidak tepat!' batin Irma kemudian tersenyum pada Kakaknya.


"Siapa yang menelfon mu Ir?" tanya Al penasaran. Tangannya menengadah meminta ponsel milik adiknya, "Bukan dari pria itu kan?" sambungnya lagi.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2