
Akhirnya Zena mengalah dia ikut dalam satu mobil sekertaris suaminya, dan Jeff mengendarai mobil milik Zena tepat berada di belakangnya,
Di dalam rumah Steven, terlihat dia sedang menunggu kepulangan istri tersayangnya sambil mengepalkan erat tangannya, matanya memancarkan amarah yang menggebu-gebu
"Kali ini aku akan benar-benar membuat perhitungan denganmu! " Gumamnya saat melihat mobil sekertarisnya memasuki ke kediaman rumahnya
Seringai licik Steven terlihat saat Zena turun dari mobil bersama Rio,
"Dimana Tuanmu? " Tanya Zena saat mereka memasuki rumah mereka yang terlihat sepi, bahkan Zena tak melihat adanya pelayan atau bi sari yang berkeliaran, rumah ini seperti kuburan yang berpenghuni tapi terasa menyeramkan
"Ada di kamar tamu, Nyonya bisa langsung ke kamar tamu" Titah sekertaris Nanda pada Zena yang berbohong
"Kamar tamu ?" Zena mengkerutkan keningnya "Tumben sekali" Sambungnya lagi
"Aku akan mengantarkan Rio ke kamarnya lalu aku akan ke kamar tamu menemui Tuan mudamu" Ujar Zena yang di tahan oleh sekertaris Nanda
"Jangan Nyonya, urusan Rio biar Jeff saja, dan sekarang Nyonya harus ke kamar tamu, "
"Jeff urus Tuan kecil Rio, aku akan mengurus Nyonya mudanya" Titah sekertaris Nanda yang di angguki Jeff
Setelah Jeff membawa Rio masuk kedalam lift, sekertaris Nanda langsung mempersilahkan istri dari tuannya untuk masuk kedalam kamar tamu
Hening, Zena tak bergeming sama sekali, dia merasakan kejanggalan dan hawa aneh di dalam rumah ini sehingga dia takut untuk masuk kedalam kamar tamu
"Kau tidak menjebakku kan? " Gumam Zena lirih, bulu kuduk Zena sudah berdiri merinding saat melihat keadaan rumah yang sepi ini
Sementara di dalam kamar utama Steven, bi sari dan beberapa pelayan sedang mencari pil KB yang di sembunyikan oleh Zena lagi,
"Cepat cari dengan benar! Aku akan membunuh kalian jika kalian tidak teliti mencari pil itu! " Pekik Steven yang baru saja masuk kedalam kamarnya karna sedari tadi dia berada di balkon melihat kepulangan istri tersayangnya
Lama mencari akhirnya bi sari menemukan 1 strip pil KB yang di simpan di dalam laci meja rias Zena, Zena yang selalu menyimpan pil KB itu di laci meja rias karna Steven tidak pernah menggeledah meja riasnya
"Saya menemukan ini Tuan" Bi sari menyerahkan 1 strip pil KB kepada Steven dengan ragu, dia hendak menyembunyikannya tapi mau bagaimanapun Steven adalah majikannya yang membayarnya bekerja selama ini
Steven mengambil lalu membaca indikasi obat yang tertera di bungkus kertas pil KB
Matanya semakin memerah, otot-otot dari wajahnya sudah memberontak seperti ingin keluar dari area kulitnya
__ADS_1
"Bedebah! "
Diremasnya pil itu lalu dia berjalan keluar kamar "Dasar bedebah! Dia benar-benar menantangku! Apa dia tidak bisa memahami perasaanku padanya hah! "
"Untuk apa aku meminta anak padanya jika aku tak memiliki perasaan padanya"
"Kali ini kesabaranku habis! Akan ku buat hidupmu hancur sehancurnya Zen! " Gumam Steven dalam hati, mulutnya selalu berkomat kamit mengucapkan mantra yang akan dia berikan pada istrinya
Brak! Pintu terbuka keras, membuat Zena yang baru saja duduk di atas ranjang terkejut, "Kalau mau-" Ucapan Zena terhenti saat melihat mata Steven yang memerah
"Apa ini! " Steven melempar satu strip pil KB itu ke muka Zena
Deg!
Jantung Zena berdetak dua kali lebih cepat saat melihat sesuatu yang dilempar oleh suaminya
"A-aku bisa jelaskan" Lirihnya lagi
"Jelaskan! " Seringai licik Steven membuat bulu kuduk Zena berdiri,
"Maaf kau bilang!" Seru Steven yang meraih kaki Zena lalu menariknya agar tak jatuh dari ujung ranjang "Kau bilang maaf!"
"Apa kau tak cukup membuatku marah hari ini hah! " Bentak Steven tepat dihadapan wajah Zena "Aku akan berikan hukuman untukmu! " Cengkram dagu Zena lalu wajahnya semakin mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir Zena,
"Lep-Hemph.. Hemph" Ucapan Zena terputus karna bungkaman bibir Steven pada bibirnya
Kali ini Steven membungkam bibir istrinya dengan kasar, dia ingin melampiaskan kemarahannya pada istri yang menurutnya membangkang
Setelah puas bermain dibibir manis milik istrinya, Steven merobek dress istrinya dengan paksa membuat Zena semakin ketakutan, bibirnya sudah dipastikan membengkak karna ciuman ganas Steven
"A-apa yang kau lakukan, kita baru saja melakukannya tadi pagi" Ujar Zena meraih selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya karna gaun beserta ********** sudah dirobek oleh suaminya
Steven tersenyum tipis, dia melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya, lalu mengibaskan selimut yang menutupi tubuh Zena, libidonya tiba-tiba kambuh saat melihat tubuh putih dan mulus istrinya
"Aahh sakit" Lirih Zena saat Steven meremas erat salah satu benda kenyal mainan favoritnya dan mulutnya sedang menghissaap lalu menggigiit pucuk mainan favoritnya
Seakan tuli, Steven semakin berbuat liar, amarah serta libidonya bercampur menjadi satu, dia menjelajahi tubuh istrinya kasar, dan mengabaikan Zena yang sedang merintih kesakitan karna ulahnya
__ADS_1
"Sa-sakit" Lirih Zena saat Steven memasukan juniornya secara paksa,
"Ini akibatnya kau melawanku! " Ujar Steven sambil menggoyangkan pinggulnya naik turun dengan cepat membuat Zena meringis kesakitan, bahkan bagian bahwanya belum sempat basah saat senjata Steven memasukan paksa kedalam sarangnya
Sejujurnya Zena sudah memperingatkan Steven agar jangan memasukan senjatanya dulu tapi Steven yang ingin menghajar habis-habisan istrinya di atas ranjang pun tak mendengarkannya
"Sa-sakit sa-sayang" Lirih Zena yang sudah mengeluarkan tetesan air mata, dia memohon ampun atas perbuatannya, bahkan dia memanggil Steven dengan sebutan sayang berharap Steven mau mengampuninya
"Ini baru pemulaan!, kau akan mendapatkannya setiap hari, bukankah ini enak! Nikmatilah hukumanmu hahaha" Seru Steven dengan tawanya
***
Zena membuka matanya perlahan dia merasakan sakit yang luar biasa dibagian bawahnya saat menggerakan salah satu kakinya
"Hikss.. Hikss. " Air mata Zena lolos saat melihat hari sudah malam dan tak ada satu orangpun di dalam kamar tamu itu terkecuali dirinya
Krek, pintu terbuka, Zena langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang polos
"Shiiit! " Zena melihat tubuhnya sudah menggunakan piyama tidurnya
"A-apa tadi aku bermimpi, tapi kenapa bagaian bawahku terasa sakit" Gumam Zena dalam hati, dia mengingat-ngingat kembali kejadian siang hari
"Bagaimana hukuman yang aku berikan? Sangat nikmat bukan! " Senyum tipis yang terbit di bibir Steven mengandung artian menakutkan di mata Zena
"Ja-jadi itu bukan mimpi, Steven mengetahui semuanya" Batinnya kembali berbicara saat mendengar penuturan dari suaminya
Steven semakin mendekat pada Zena dia duduk di tepi ranjang sambil melihat Zena yang melamun dan menghapus air matanya
Di usapnya air mata itu dengan jari Steven "Jangan menangis Nona kecil"
"Kau wanita kuat kan? Aku sudah menyiapkan beberapa kejutan lagi untukmu, maka bersiaplah untuk menerima kejutan itu, tapi aku tidak tahu kapan kejutan itu datang" Ujar Steven lagi
"Makan! Makananmu, aku akan membersihkan diriku lalu layani aku lagi! Itu hukumanmu karna sudah berani-beraninya meminum pil terkutuk itu tanpa sepengetahuan ku! "
"Dan sekarang kau harus membayar hukumanmu dengan sejumlah kau meminum pil itu! " Ujar Steven yang berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi
Bersambungš
__ADS_1