Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 180_Putriku


__ADS_3

"Baiklah, kau boleh ikut. Dengan catatan, Jack harus ikut juga," ucap Tesa pasrah.


"Tidak nyonya, saya tidak bisa ikut. Saya ditugaskan Tuan untuk menjaga kediamannya di saat Nyonya kembali kepada Tuan," jawab Jack menggelengkan kepalanya.


"Jack, ayolah. Akan ku tunjukkan bidadariku padamu. Pasti Irma sangat shock, saat melihat kita kembar," pinta Jeff berjalan menghampiri Kakaknya yang berbeda 5 menit saja.


'Dan semuanya akan terbongkar. Lalu, kau akan bertindak bodoh lagi, atau ... kau bisa-bisa menceburkan dirimu ke dalam sungai atau lautan yang luas,' batin Jack.


"Aku tidak bisa ikut. Lebih baik, pulihkan keadaan mu dulu, baru kita pergi dari sini!" jawab Jack tak ingin dibantah.


"Kenapa? Kau iri denganku? karena ... aku akan menemui kekasihku?" ucap Jeff kesal, "Ikut saja, Nyonya sudah mengizinkan kita," sambung Jeff lagi.


"Kalian bersiap-siaplah, kita akan berangkat satu jam lagi. Aku sudah tidak sabar melihat cucuku yang mengemaskan," titah Tesa membayangkan waktu sehari-harinya dengan cucu-cucunya kelak.


'Bagaimana ini, apa sebaiknya aku bercerita pada Jeff tentang semuanya. Apa Jeff mau menerima Irma setelah ini? Atau justru, Jeff kecewa dan marah padaku?' batin Jack berjalan menuju kamarnya.


"Ada apa Jack? Kenapa wajahmu terlihat murung?" tanya Jeff yang baru saja tiba di kamar kembarannya.


"Aku mau menceritakan semuanya padamu, tapi kau harus berjanji, setelah aku menceritakan semuanya, jangan pernah membencinya," ucap Jack beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan kotanya.


"Membencinya? Siapa?" tanya Jeff, pikirannya benar-benar tidak bisa berpikir.


"Aku ... aku sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku, dan mungkin ... kesalahan ini tidak pernah bisa di maafkan oleh siapa pun," ucap Jack.


"Memangnya kesalahan apa, Jack? kau menghamili seorang wanita?" tanya Jeff asal.


Mendengar jawaban dari adiknya, Jack langsung menoleh, dia menatap raut wajah adiknya yang terlihat santai.


"Bagaimana kau--"


"Aku becanda, tidak mungkin seorang Jack menghamili wanita. Dekat dengan wanita pun tidak pernah, memangnya apa kesalahan mu, cepat katakan!" potong Jeff terkekeh.


'Tidak bisa, aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya. Jeff belum sembuh total, aku tidak mau ... dia kembali terluka,' batin Jack.

__ADS_1


"Bersiap-siaplah, kita akan pergi," titah Jack.


***


Menunggu adalah hal yang membosankan, sudah 2 jam Steven dan sekertaris Nanda menunggu lampu merah itu padam.


Tidak bisa dipungkiri, hati Steven terasa gelisah. Perasaannya tertuju pada anak dan istrinya yang sedang bertarung nyawa di dalam ruangan operasi.


"Kenapa lama sekali!" gumam Steven, kakinya tidak bisa diam, dia terus berjalan mondar mandir dan sesekali melirik lampu operasi yang terus menyala.


"Sabar Tuan, kita doakan Nyonya dan calon anaknya baik-baik saja. Lebih baik, Tuan duduk," titah sekertaris Nanda.


"Sabar? istri dan anakku sedang bertaruh nyawa dan kau bilang sabar!" teriak Steven, "Aku harus masuk ke dalam. Aku tidak bisa berdiam diri di sini terlalu lama," sambung Steven membuat sekertaris Nanda bangkit dan mencegah langkah Sahabat sekaligus bossnya.


"Jangan Tuan, Tuan akan mengacau semuanya dan dokter Irma pasti terganggu dengan kehadiran Tuan yang tiba-tiba. Lebih baik, kita tunggu di sini," ucap Nanda lembut.


"Tapi Nanda, kau dengar sendiri kan? sebelum Zena masuk ke dalam ruang operasi, dokter Irma mengatakan ... jika salah satu bayiku meminum air ketubannya, aku sangat takut."


"Kita doakan saja yang terbaik, saya yakin mereka semua akan selamat," jawab Nanda.


"Bagaimana keadaan anak dan istriku, dok?" tanya Steven dengan raut wajah cemasnya.


"Maaf Tuan, kami hanya bisa menyelamatkan bayi laki-laki anda, dan bayi perempuannya ... tidak bisa kami selamatkan," ucap dokter Irma membuat Steven shock..


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin!" teriak Steven "Bagaimana keadaan istri saya? dia baik-baik saja, kan?"


"Istri anda belum sadarkan diri, dia sempat kehilangan darah yang begitu banyak," jawab dokter Irma menunduk.


Tubuh Steven benar-benar lemas, apalagi saat melihat kedua bayinya di pindahkan ke tempat yang berbeda.


"Berhenti, berikan anak perempuanku, dia masih hidup! dia belum meninggal!" titah Steven, air matanya menetes deras saat suster memberikan putrinya yang tidak bernapas.


"Putri Daddy yang cantik, bangunlah ... Daddy mengharapkan kehadiranmu, bangun sayang," gumam Steven memeluk dan mencium putrinya berulang kali, "Kamu kuat nak, bangunlah. Jangan tinggalkan daddy dan mommy, kita sudah bertemu sayang, bangunlah ...," sambung Steven.

__ADS_1


Semua orang yang melihat Steven menangis pun tak kuasa menahan tangisnya, mereka semua ikut meneteskan air matanya.


"Tuan, sudah saatnya putri anda di bersihkan," titah Irma yang ingin mengambil bayi tak bernapas dari pelukan Steven.


"Aku tidak mengizinkan mu mengambil anakku. Dia masih hidup, dia hanya tidur, sebentar lagi ... dia juga bangun,"


"Iya kan sayang, anak daddy pasti bangun. Ayo bangun sayang, buktikan pada mereka kalau kamu masih hidup," ucap Steven mengecup wajah putrinya.


"Aku akan membawanya pada Zena, aku yakin ... putriku akan bangun," ujar Steven.


"Tuan, ikhlaskan saja, mungkin putri anda sudah tenang di sana," titah sekertaris Nanda mengusap pundak sahabatnya.


"Dia sangat cantik, Nanda. Dia mirip sekali dengan Zena, dia sedang tidur, aku akan membawanya pada Zena," ujar Steven masuk ke dalam ruangan istrinya.


Di saat Steven masuk ke dalam ruangan istrinya, tangisnya pecah, melihat dia wanita yang dicintainya kini menderita, putrinya yang telah tiada dan istrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakitnya.


'Ya Tuhan, jika hamba mempunyai kesalahan, tolong ... jangan lampiaskan kesalahan hamba pada dua wanita yang aku cintai, kembalikan nyawa putriku, dan aku akan menjaganya seperti aku menjaga diriku sendiri,' batin Steven meletakkan bayi perempuannya di atas tubuh istrinya.


"Ini mommy nak, bangun sayang ... kita harus memberi semangat pada mommy," ucap Steven sambil menghapus air matanya yang terus keluar.


"Bangun sayang, anak daddy yang kuat, kedua kakak mu menantikan kehadiranmu."


"Steve, kau yang tenang," ucap Nanda mengusap punggung sahabatnya, "Aku tahu ini sangat berat, tapi kita harus mengikhlaskannya, dia sudah tenang di sana," sambung Nanda menghapus air matanya yang keluar saat melihat dua wanita kesayangan sahabatnya terdiam.


"Putriku masih hidup, sebentar lagi dia bangun."


"Steve ..., "


"Nanda dengarkan aku, putriku masih hidup. Jangan sesekali mengucapkan putriku meninggal!" ketus Steven.


"Okeh, putrimu masih hidup, tapi lihat ... dia sudah tidak bernapas," titah Nanda.


"Sayang bangun, ada daddy dan mommy di sini, nak," titah Steven memeluk putri dan istrinya.

__ADS_1


"Dok! Lihat ini dok!" ucap Nanda membuat semuanya menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Bersambung😘


__ADS_2