
Jeff memejamkan matanya saat Steven menarik pelatuknya
Matanya terbuka lebar saat Jeff tak merasakan sakit di sekujur tubuhnya "Tu-tuan, terimakasih Tuan" Ucapnya saat Steven sudah beranjak pergi lalu berdiri di area latihan menembaknya
Dor!! Dor!! Dor!!
Beberapa kali Steven menembak tapi selalu meleset, dia menembak dengan penuh emosi "AArrggkhhhh" Pekik Steven lalu dia menghembuskan nafasnya kasar
"Sudah aku putuskan Jeff, aku akan keluar dari dunia gelap ini dan menjalani hariku selayaknya orang biasa, aku tak ingin kehilangan Rio dan istriku, aku akan mencoba mengikhlaskan kepergian Ayahku" Ucap Steven serius sambil menembakkan lagi dan menghabiskan pelurunya
Dor!! Dor!!..
Jeff sendiri pun tak bisa berkata-kata, dia tak ingin ucapannya salah dan berakhir mengenaskan ditangan Tuan mudanya
Tak melihat respon dari Jeff, Steven semakin menggila dia menghabisi seluruh peluru dan pergi meninggalkan Jeff yang mematung
Saat Jeff tersadar, dia sudah tidak melihat sosok Steven di dekatnya "Dimana Tuan? " Gumam Jeff yang melirik setiap sudut ruangan tapi tak ada
Steven berjalan sambil membawa pistol ditangannya, dia berjalan menuju kamar tamu, dimana istrinya sedang dikurung disana
"Apa kau saja yang merasa hidupmu hancur! Hidupku juga hancur! Kehadiranmu membawa semuanya menjadi rumit," Gumam Steven saat melangkah menuju kamar tamu
"Bagaimana? Apa dia baik-baik saja" Seru Steven kepada dua pengawal Zena yang tak lain adalah Fahri dan Riki
"Baik Tuan, kami tidak mendengar apapun dari dalam kamar Nyonya" Ucap Riki yang ditimpali Fahri "Benar Tuan"
"Bodoh! Bagaimana kalian bisa mendengar! Kamar ini kamar kedap suara! " Pekik Steven membuat kedua pengawal menunduk, tak sengaja Fahri dan Riki melihat pistol yang di genggam Steven membuat kedua pengawal itu semakin ketakutan
"Ma-maafkan saya Tuan" Ujar Fahri yang memundurkan langkahnya disaat Steven mendekatinya
__ADS_1
"Maafkan saya, jangan bunuh saya" Ulangnya lagi
"Maaf! Maaf! Cepat menyingkir! Aku mau masuk kedalam! Jangan halangi aku masuk! " Ucap Steven saat Fahri berdiri tepat di depan pintu, membuat Riki menarik lengan Fahri agar menjauh dari pintu tersebut
Krek, pintu terbuka, Steven fikir istrinya sudah tertidur karna ini sudah pukul 11 malam, tapi ternyata dugaannya salah, Zena sedang meringkuk diatas ranjang sambil wajahnya dia benamkan di kedua lututnya
Zena mendengar pintu terbuka, dan langsung mendongakkan wajahnya, dia melihat Steven berjalan kearahnya sambil membawa pistol di tangannya
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang menungguku? "
Glek, tubuhnya bergetar saat Steven semakin mendekatinya
"Aku memang meminta dia membunuhku, tapi kenapa aku sendiri yang takut,"
"Ya Tuhan, jika hari ini hari terakhir aku hidup, maka ampunilah semua dosa yang selama ini aku perbuat" Gumam Zena dalam hati,
Steven memasukan pistolnya kedalam saku belakang celananya dan duduk ditepi ranjang berhadapan dengan istrinya
"Tapi se-sebelum aku mati, aku bolehkan bertemu dengan Rio" Sambungnya lagi dengan pandangan mata memandang jarinya yang sedang meremas piyama tidurnya
Steven melayangkan tangannya membuat Zena memejamkan matanya, dia fikir suaminya akan marah lalu menarik rambutnya atau mencengkram lengannya
Tiba-tiba Zena tidak merasakan sakit diarea tubuhnya, justru dia merasakan belaian lembut dari Steven, Steven tidak menarik rambut atau mencengkram lengan Zena, justru dia mengusap rambut istrinya berulangkali
"Tidurlah, kejutan itu akan sampai besok, dan sebelum kejutan itu datang, aku tidak akan membunuhmu"
"Cepat tidur! Atau jika kau tak mau tidur! Aku akan menyetubuhimu lagi! " Ancam Steven membuat Zena merebahkan tubuhnya lalu menarik selimutnya dan menggeser posisinya memunggungi Steven, dia berusaha memejamkan matanya tapi tak bisa, fikirannya sekarang tertuju pada kejutan yang akan diberikan suaminya itu
"Kira-kira apa kejutan yang diberikan Steven padaku, aku rasa ini bukan kejutan melainkan akhir hidupku, perasaanku semakin tak enak" Gumamnya dalam hati sambil memejamkan matanya
__ADS_1
Perlahan nafas Zena berubah menjadi teratur, Steven melihat Zena sudah tertidur, ditariknya selimut yang menutupi tubuh Zena sampai ke atas leher, tak lupa dia mencium kening istrinya dan berjalan untuk menyimpan pistol itu.
Setelah pistol itu tersimpan, Steven segera menaiki ranjangnya dan tertidur disamping Zena
Ke esokan harinya di ruang tamu rumah Steven sudah terlihat empat orang yang sedang duduk menunggu kehadiran Steven dengan sekertaris Nanda yang berjaga di belakang tamu itu
Steven keluar dari kamar tamu bersama istrinya, dia berjalan menuju para tamu yang sangat diharapkan kedatangannya oleh Steven
Ekhem! Deheman Steven mampu membuat ke empat orang itu menatapnya
"Tuan, Tuan maafkan saya, kenapa Tuan mengambil alih semua harta saya" Rey berjalan dan bersujud di kaki Steven membuat Zena yang berada tak jauh dibelakang Steven menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Tuan, saya tidak pernah membuat masalah dengan anda, tapi kenapa harta saya tiba-tiba menjadi milik anda, Tuan saya mohon ampun, kembalikan harta kami kembali, bagaimana saya akan menghidupi keluarga saya" Rey mengatupkan kedua tangannya memohon pada Steven
Steven tersenyum tipis, dia menoleh ke belakang lalu melambaikan tangannya pada Zena agar segera mendekat
Zena pun mendekat, dia sekarang tahu kejutan yang diberikan suaminya adalah kehancuran keluarganya
"Rupanya ucapan itu benar-benar terjadi" Gumam Zena tak percaya,
Dia baru saja melihat Ayah tirinya bersujud di kaki Steven dan tak lama kemudian dia melihat ibu kandung bersujud juga dikaki Steven
"Berdiri! Dan kembali duduk! " Titah Steven membuat kedua orang tua itu berdiri dan duduk kembali di sofa
Zena menarik Steven agar menjauh dari keluarganya "Apa yang kamu lakukan" Geram Zena sambil meremas jarinya
"Menuruti semua perintahmu, bukankah kau menginginkan ini semua? " Jawab Steven sambil memasukan tangannya disaku celana kainnya
"Tap-tapi" Ucapan Zena terputus saat Steven berjalan menjauhinya dan menghampiri keluarganya itu
__ADS_1
"Aku akan mengembalikan harta kalian tapi dengan satu syarat" Ujar Steven membuat 4 orang itu tersenyum senang
Bersambungš