Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 110_Rasanya Sakit


__ADS_3

Seakan tuli, Steven tetap berjalan. Dia ingin menjelaskan kepada istrinya tentang kesalahpahaman nya sekarang juga.


"Sayang," ucap Steven saat melihat Zena merengek pulang pada sekertaris Nanda.


"Maaf Tuan, dari tadi Nyonya meminta saya untuk diantar pulang, tapi saya tidak bisa karena saya belum meminta izin pada Tuan," ujar sekertaris Nanda yang menjelaskan agar tidak menjadi kesalahpahaman karena Zena menarik paksa tangannya.


"Sayang," ucap Steven lagi, dia berusaha mendekat pada istrinya.


"Berhenti Mas, berhenti ... aku tidak mau berdekatan dengan pria pembohong sepertimu. Cukup .... aku sudah memberikan kesempatan sekali lagi padamu, dan kali ini ... aku benar-benar tidak akan memberikan kesempatan untukmu lagi," ujar Zena bersembunyi di belakang tubuh sekertaris Nanda sambil menangis sesenggukan.


"Aku tidak ada hu--" ucapannya terhenti saat Sheila memeluknya dari belakang.


"Sayang, maafkan aku jika aku mempunyai salah. Aku tidak ingin berpisah denganmu," ujar Sheila membuat Zena semakin kecewa.


"Lepas Shei!" seru Steven


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," bisik Sheila membuat Zena semakin deras menitikan air matanya.


"Sekertaris Nanda ayo kita pulang hiks ... hiks ...," bisik Zena, tubuhnya sudah sangat lemas, punggungnya bergetar hebat.


Mendengar isakan dan kemeja belakangnya basah, sekertaris Nanda langsung menoleh dan merangkul pundak Nyonya mudanya.


"Maaf Tuan, saya akan membawa Nyonya pergi dari sini. Tidak baik untuk kesehatan ibu hamil, jika melihat pasangannya selingkuh," ucap sekertaris Nanda menyindir Steven. Dia benar-benar kecewa dengan Tuan sekaligus sahabatnya, padahal sebelum Steven menyusul kepergian istrinya, Steven sudah menjelaskan padanya jika hubungannya dengan Sheila sudah berakhir.


"Saya benar-benar kecewa dengan Anda, seharusnya saya tidak mengizinkan anda untuk menyusul kepergian Nyonya," lirih sekertaris Nanda di dekat Steven.


"Ayo Nyonya, saya antar anda kembali ke rumah," titah sekertaris Nanda sambil merangkul pundak Zena..


"Hei, apa-apaan, kenapa kalian semua menuduhku!" pekik Steve yang diabaikan dua manusia tersebut.


"Lepas!" seru Steven, dia menepis kasar tangan Sheila, "Sudah aku peringatkan berulangkali ... jangan datang dan temui aku lagi!" sambungnya dengan emosi


"Tapi Steve, aku mencintaimu," ujar Sheila, dia berusaha mendekat Steven lagi.


"Brak!"


"Kau tidak mencintaiku, kau hanya mencintai uangku," ujar Steven dia berlari mengejar istrinya yang sedang menangis.


"Steve," cegah Sheila, dia menahan tangan Steven.


"Brak!"


"Aku tekankan sekali lagi ... jangan sentuh aku!" pekik Steven sambil mendorong tubuh Sheila keras.


Sheila terdorong sampai terjatuh di lantai, dia benar-benar terkejut dengan sikap Steven yang begitu keras.

__ADS_1


Steven mendekat, dia mencengkram pakaian Sheila, "Sekali lagi kamu menyentuhku, akan ku habisi kau!" ancam Steven lalu melepas cengkramannya kasar.


"Aww ...," ringis Sheila, saat wajahnya terbentur kursi tunggu.


"Aku akan menuntutmu Steve," teriak Sheila, banyak orang yang melihat kejadian ini, dan banyak orang yang diam tak berani menolongnya.


Melihat Steve tidak bergeming dan tetap berjalan, Sheila mengepalkan tangannya erat.


"Hei kalian! Hapus semua video yang ada di ponsel kalian!" geram Sheila saat melihat beberapa orang memegang ponselnya.


"Hapus!!!" teriaknya lagi sambil berdiri membenarkan pakaiannya.


"Aku akan membalasmu Steve, kau sudah mempermalukanku di depan umum, awas saja ... takkan kubiarkan hidupmu bahagia, aku akan membuat rumah tanggamu hancur berantakan," gumam Sheila yang berjalan menuju toilet.


Saat Steven berada di parkiran mobil, dia segera mencari keberadaan mobilnya,


"Aku harus menjelaskan semuanya pada Zena. Dan kenapa sekertaris sialan itu ikut membenciku. Dan di mana Jeff,"


Tok ... Tokk ...,


"Zen, buka pintunya ... jangan kunci dari dalam, aku akan menjelaskan semuanya," rayu Steven saat pintu mobil terkunci.


Seakan tuli, Zena justru menutup kedua telinganya, dia memalingkan wajahnya.


"Saya akan bicara dengan Tuan, boleh saya membuka pintu,"


"Jangan Jeff, aku sedang tidak ingin melihat wajahnya,"


"Sekertaris Nanda, kita pulang," rayu Zena pada sekertaris suaminya.


"Maaf Nyonya, kami tidak bisa meninggalkan Tuan sendiri di sini, jika kita pulang ... Tuan harus ikut pulang juga,"


"Apa Nyonya mau, Tuan ikut bersama Nona Sheila?" tanya sekertaris Nanda pada istri Tuannya.


"Jeff buka!" pekik Steven menatap tajam sekertaris serta anak buahnya.


"Buka, atau kalian akan aku pecat sekarang juga!" sambungnya lagi.


Sekertaris Nanda mengabaikan Steven, dia tetap menakut-nakuti istri Tuannya.


"Biarkan dia ikut dengan selebgram gadungan itu," ketus Zena.


"Ta-tapi Nyonya, bagaimana jika Rio tahu, kasihan Rio ... dan anak yang di dalam kandungan Nyonya, juga masih membutuhkan sosok Ayah,"


"Tapi aku tidak mau mempunyai suami seperti dia sekertaris Nanda!" pekik Zena kencang.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan dia kesempatan, dan aku sudah memperingati dia, agar tidak menemui selebgram gadungan itu lagi!"


"Aku menyesal mengikuti kalian, lebih baik aku tinggal di LA, di sana aku bisa bekerja di caffe Dave dan melupakan semuanya!"


"Nyonya--" ucapan Jeff terhenti saat Zena menimpalinya dengan cepat.


"Apa! Apa kalian pernah merasakan menjadi aku hah!"


"Apa kalian tahu betapa sakitnya hatiku melihat kemesraan mereka, aku sudah mengubur rasa cintaku dalam-dalam, tapi ... tapi kenapa, di saat aku hampir berhasil, dia datang dan memberikanku harapan palsu hah, kenapa!" ujar Zena yang mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Jika kalian ingin dia masuk ke dalam mobil, biar aku yang keluar ...," sambung Zena sambil menghapus air matanya.


"Tidak bisa Nyonya, bagaimana jika sekertaris Nanda yang duduk dibelakang bersama Nyonya, lalu Tuan duduk di samping saya," tawar Jeff, saat melihat Tuannya sudah memasang wajah garangnya.


"Silahkan, aku benar-benar cape. Aku mau beristirahat,"


"Baik Nyonya," Jeff mengedipkan matanya pada sekertaris Nanda, dia sudah membuka pintu mobilnya, dan dengan cepat Steven masuk menduduki kursi belakang.


"Jeff, kau ... aku tidak menganggapmu lagi sebagai teman," ujar Zena saat melihat Steven masuk ke dalam mobil.


"Sayang, aku bisa jelaskan," ujar Steven, dia berusaha menggapai tangan istrinya tapi di tepis oleh Zena.


"Ayo Jeff kita pulang," titah Zena yang diangguki Jeff.


"Baik Nyonya,"


"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Sheila, percayalah padaku," ujar Steven yang tetap diabaikan oleh Zena.


Di saat Steven sedang merayu Zena, tiba-tiba ponsel Zena berdering, dia merogoh tasnya dan melihat nama penelfon di layar ponselnya.


"Dave," panggil Zena saat dia sudah menggeser tombol hijau.


"Zen, apa sudah sampai?"


"Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, jangan terlalu banyak memakan es krim, tetap pada aturanku, sehari 1 kali,"


"Aku baru saja sampai Dave, dan aku sudah membeli satu kantong plastik hahaha ..."


"Apa! Kamu serius,"


"Serius, bukankah kamu sudah mengetahui keadaanku dari dokter Riyan," ujar Zena tersenyum


Melihat senyum dan tawa di wajah istrinya, tiba-tiba emosi Steven semakin berkobar, dia berusaha menahannya agar istrinya tidak marah lagi.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2