Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 123_Bersembunyi 2


__ADS_3

"Jangan banyak basa-basi. Kita berbicara pada intinya saja. Kapan alat-alat itu bisa terlepas dari tubuh putra saya, saya kasihan melihat putra saya seperti itu, lebih baik dia pergi dari dunia ini dan tidak merasakan sakit lagi," ujar Leo memasang wajah sedihnya.


Dari kolong meja, Sheila yang mendengar suara Leo pun menajamkan pendengarannya.


"Apa maksud dia? dia tidak pernah memperdulikan Riski sama sekali. Bahkan jika aku bertanya tentang keadaan Riski, dia justru mengabaikannya,"


"Ucapanmu seakan-akan menginginkan kematian Riski," gumam Sheila dalam hati, dia melihat kaki panjang dokter Riyan.


"Beri pasien waktu 3 bulan lagi, jika benar tidak ada perubahan ... maka saya akan melepas alat itu sendiri," jawab dokter Riyan membuat Sheila melototkan matanya, dia mencubit kaki dokter Riyan keras.


"Aww ...," ringis dokter Riyan kakinya dicubit oleh Sheila.


"Ada apa dok?" tanya Leo saat dokter Riyan mengadu kesakitan.


"Tidak apa-apa," Jawa dokter Riyan tersenyum kaku, dia menjatuhkan pulpen yang berada di genggamannya.


"Sebentar, saya ambil pulpen saya," sambung dokter Riyan yang di angguki Leo.


Dokter Riyan bangkit dari duduknya lalu berjongkok menatap kesal wanita yang sedang menatapnya tajam.


"Apa yang kau inginkan Nona, saya sudah berbaik hati pada Anda," bisik dokter Riyan mengambil pulpen.


"Aku tidak setuju jika dokter melepas alat bantu Riski!" ketus Sheila dengan nada super pelan agar tidak ketahuan oleh Leo.


"Lebih baik Anda pergi dari sini, jika anda tidak suka dengan ucapan saya,"


Deg!


"Tidak-tidak, jangan usir saya ... please!" ujar Sheila mengerjapkan matanya berulang kali.


"Diam! dan jangan berulah! atau aku akan memberitahu pada Bapak Leo jika anda di sini," ancam dokter Riyan membuat Sheila diam tak berkutik.


Setelah selesai bicara dengan Sheila, dokter Riyan pun membenarkan posisinya dan duduk di kursi kerjanya.


"Maaf, pulpen saya susah di cari," ujarnya yang tak enak hati.


"Apa ada yang ditanyakan kembali masalah pasien?" sambungnya kembali sambil membenarkan jas dokternya.


"Tidak ada, saya akan serahkan semuanya pada dokter,"


"Dan saya akan perketat keamanan untuk putra saya agar dia bisa tenang beristirahat," ujar Leo membuat Sheila menggoyangkan kaki dokter Riyan.

__ADS_1


Merasakan ada getaran hebat di kakinya, dokter Riyan menghembuskan nafasnya kasar, dia berpura-pura menjatuhkan pulpennya lagi.


"Maaf," ucap dokter Riyan pada Leo. Dia berjongkok lagi dan menatap Sheila dengan kesal.


"Apa lagi! jangan mengganggu saya bekerja!" protes dokter Riyan keras membuat Sheila membungkam mulut dokter Riyan.


"Apa maksud dokter? saya mengganggu waktu dokter? begitu hah!" pekik Leo tak terima.


Dokter Riyan menyembulkan sedikit kepalanya lalu meminta maaf, "Bukan, maafkan saya ... saya sedang berbicara dengan orang lain," ujar dokter Riyan tersenyum kaku pada Leo.


Leo mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, "Memang saya buta hah! di sini tidak ada siapapun selain kita berdua!" elak Leo membuat dokter Riyan memalingkan wajahnya menjadi menatap Sheila.


"Jangan biarkan dia menjaga ketat kamar Riski, saya tidak bisa leluasa masuk ke dalam kamarnya," bisik Sheila tersenyum manis pada dokter Riyan.


"Sebenarnya apa yang Anda lakukan di bawah meja hah!" sambung Leo saat ucapanya tidak dijawab oleh dokter Riyan.


Dokter Riyan membenarkan posisinya lagi dan meminta maaf kepada Leo, "Maafkan saya Pak Leo," ujar dokter Riyan mendudukan bokongnya di kursi kerjanya.


"Apa Anda menyembunyikan kekasih Anda di bawah meja!" tebak Leo mendapat gelengan dari dokter Riyan.


"Tidak, saya hanya--"


"Maafkan saya Bapak Leo,"


"Sekarang kita bahas tentang penjagaan pasien," sambung dokter Riyan.


"Lebih baik, Bapak tidak usah memberikan penjagaan ketat kepada pasien, karena saya mendapat keluhan dari beberapa suster,"


"Memangnya kenapa! saya berhak menjaga keamanan anak saya!"


"Bukan seperti itu, saya mendapat keluhan dari beberapa suster, jika setiap ingin mengecek kondisi pasien, dia harus berdebat dulu dengan bodyguard anda," terang dokter Riyan menghentakkan salah satu kakinya.


"Saya sarankan, lebih baik penjagaan di kamar pasien dihilangkan, biarkan security rumah sakit yang menjaga pasien," sambung dokter Riyan.


"Saya tidak peduli, dokter tidak berhak memerintahkan saya! di sini saya membayar dengan harga mahal!" ketus Leo beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.


Sebelum Leo memutar gagang pintu, pandangannya sempat menuju dokter Riyan yang sedang menatapnya.


"Apa ada yang tertinggal?" tanya dokter Riyan saat Leo mendekat ke arahnya.


"Saya penasaran dengan kekasih anda yang sedang di sembunyikan di bawah kolong meja," ujar Leo melihat kain berwarna putih.

__ADS_1


Deg!


Jantung Sheila berdetak dua kali lebih cepat, dia memegang kedua kaki dokter Riyan meminta pertolongan.


"Emmm ... maaf Bapak salah paham, di bawah ini bukan kekasih saya melainkan--" dokter Riyan menjeda ucapanya, dia bingung harus berbohong apalagi.


"Melainkan apa? istri dokter?" tanya Leo yang sudah berada di depan meja.


"Emm ... saya be-- awww," ringis dokternya Riyan saat kakinya di cubit kembali oleh Sheila.


"I-iya istri sa-saya!" sambung dokter Riyan kesal.


"Semalam aku tidak bermimpi buruk, tapi kenapa ... tiba-tiba malam ini aku aku mendapat kesialan yang bertubi-tubi," gumam dokter Riyan dalam hati.


Melihat ekspresi terkejut dari Leo, dokter Riyan pun terkekeh, "Bu-bukan istri saya, saya memelihara kucing yang sangat ganas, dan saya ikat di bawah meja ini, karena tidak mau pekerjaan saya terganggu," ucap dokter Riyan membuat Leo percaya dan memutar tubuhnya.


Setelah melihat Leo pergi dari ruangannya, dokter Riyan langsung menarik paksa Sheila agar keluar dari persembunyiannya, "Nona, anda benar-benar gila!" seru dokter Riyan.


"Saya memang gila, jika bertemu dengan pria tua seperti itu!"


"Dan saya akan lebih gila lagi, saat mendengar percakapan anda yang ingin membunuh Riski dengan pria tua itu!"


"Anda seorang dokter! dan tugas seorang dokter itu menyembuhkan pasien bukan membunuh pasien!" ujar Sheila duduk di atas meja Riyan.


"Anda tidak sopan!" ketus dokter Riyan saat Sheila duduk di meja kerjanya.


"Dok, saya membutuhkan Riski untuk--" ucapanya terjeda,


"Untuk apa?"


"Apa karena--" dokter Riyan tidak meneruskan ucapanya.


"Hampir saja keceplosan. Dia jangan sampai tahu kalau aku mengenal Zena dan keluarganya," gumam dokter Riyan dalam hati.


"Karena apa dok?" tanya Sheila penasaran.


"Ahh tidak-tidak, lebih baik sekarang Nona keluar dari ruangan saya!" usir dokter Riyan sambil mengibaskan tangannya.


"Saya juga akan pergi dari tempat terkutuk ini, tapi saya tekankan lagi kepada dokter, jika dokter melepas semua alat bantu yang melekat pada tubuh Riski, berarti dokter berurusan dengan saya!" ancam Sheila menunjuk tubuh dokter Riyan.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2