
"Menjenguk?" ulang Zena berpura-pura tidak tahu.
"Apa maksud menjenguk," sambungnya lagi sambil tersenyum.
Steven menatap wajah istrinya, dia mencubit gemas pipi istrinya, "Jangan berpura-pura tidak tahu,"
"Aku akan menjenguk anak-anakku, agar mereka tahu kalau aku Ayahnya," ujar Steven menggendong istrinya menuju kamar pribadi yang berada di kantornya.
"Mas Steven!" pekik Zena terkejut karena suaminya tiba-tiba menggendongnya
"Turunin aku Mas! Aku sudah berat, aku bisa berjalan sendiri!"
"Mas Steven, turunin aku!" ulangnya lagi.
"Siapa bilang tubuhmu berat, kalau tubuhmu berat aku tidak akan kuat menggendongmu sayang," ujar Steven mengecup kening istrinya.
"Kamu menghinaku Mas, tubuhku sudah mengembang dan kamu bilang tubuhku tidak berat, atau jangan-jangan kamu sering merayu wanita dengan gombalan recehmu itu di belakangku," kesal Zena, dia memukul ringan dada kekar suaminya.
"Aku tidak menghina atau mengejekmu sayang, menurutku kamu sangat sexy mempunyai tubuh seperti ini," ucap Steven merebahkan tubuh istrinya di ranjang pribadinya, dan menutup rapat kamar pribadinya. lalu dia membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Mas, jangan ... jangan lakukan di sini Mas, bagaimana jika ada orang yang datang lalu melihat kita," ujar Zena dia menghentikan langkah suaminya yang berjalan ke arahnya.
"Tidak ada yang melihat kita di sini sayang. Ayolah, aku sudah lama berpuasa, aku sampai harus meminum obatku secara rutin," jawab Steven yang tak sengaja membeberkan penyakitnya.
"Obat? Obat apa Mas?" tanya Zena serius, "Kamu sakit? Kenapa gak bilang ke aku?" sambungnya lagi membuat Steven menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di saat Steven ingin menjelaskan, tiba-tiba juniornya sudah berdiri tegak karena melihat paha mulus istrinya yang tak tertutupi dressnya.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku menginginkanmu sayang," bisik Steven sambil merebahkan tubuh dan membuka resleting belakang dress istrinya.
"Mas, aku tetap tidak mau kita lakukan di sini," tolak Zena secara halus, dia takut jika sekertaris Nanda atau Jeff melihatnya bercinta.
Seakan tuli, dress yang dikenakan Zena sudah dibuka paksa oleh Steven, dan dia juga bisa melihat dua gunung kembar yang begitu menggoda tapi masih tertutup bungkusnya.
"Mas, kita lakukan ... hemph ... hemph ...," ucapan Zena terhenti karena Steven sudah membungkam bibir istrinya, dia melakukan dengan lembut membuat Zena membalas ciumannya.
Steven yang mendapat balasan dari istrinya pun semakin bersemangat, dia membuka bungkusan yang menganggu pemandangan itu dan memainkannya.
__ADS_1
Perlahan ciumannya turun dari bibir menuju dua gunung kembar milik istrinya.
"Mas ... aahhh ...," ujar Zena mendesaah saat Steven memainkan lidahnya di salah satu pucuk gunung kembarnya.
"Mas, aahh ... terus Mas," ucapnya lagi saat Steven memperdalam permainannya.
Melihat istrinya menagih, Steven semakin gencar. Dia meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya di setiap lekuk tubuh istrinya.
Sebelum memasukkan senjatanya, dia mengusap dan membisikkan sesuatu di perut istrinya.
"Daddy, akan menjenguk kalian ... tunggu Daddy, Daddy datang," bisiknya yang melepas celana kainnya.
"Sayang, bukalah matamu, kita sudah pernah melakukan beberapa kali, tapi kenapa masih tidak berani melihat miliku," titah Steven saat melihat istrinya menutup mata di saat tubuhnya sudah polos.
Zena menggelengkan kepalanya, dia masih belum siap melihat tubuh polos suaminya, apalagi untuk melihat senjata panjang milik suaminya.
"Engga Mas, aku malu," ujar Zena mengambil bantal lalu menutupi wajahnya dengan bantal tersebut.
Steven menggelengkan kepala lalu tersenyum, dia gemas dengan tingkah istrinya yang malu tapi mau, segera dia menghampiri istrinya yang polos lalu menindihinya dengan kedua telapak tangannya menumpu bebannya agar anak-anaknya tidak terluka karenanya.
"Mas!" pekik Zena saat bantalnya di tarik paksa.
"Iya sayang, aku akan melakukannya sekarang juga," bisik Steven.
"Mas Steven tolong melakukannya dengan pelan jangan seperti yang dulu. Ingat ada calon anak kita," titah Zena saat wajah suaminya sudah di depannya.
"Iya, aku akan melakukannya dengan pelan, jika merasa sakit atau tidak kuat, kamu bisa berteriak," jawab Steven membersihkan keringat yang menetes di kening istrinya, lalu perlahan Steven mencium dan melummmaat kembali bibir istrinya yang terasa manis.
Di saat senjatanya akan memasuki sarang yang sudah lama tidak terpakai, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar kamar.
Tok ... Tok ...,
"Tuan, maaf saya mengganggu waktu anda bersama Nyonya, saya hanya ingin mengingatkan jika 10 menit lagi kita akan ada meeting penting," ujar sekertaris Nanda mendengar samar-samar aktivitas yang dilakukan sepasang kekasih itu.
"Shittt!" Steven melihat jam di dindingnya, waktu sudah menujukan pukul 11 pagi.
Zena yang mendengar ucapan sekertaris suaminya pun langsung meraba mencari selimut untuk membungkus tubuh polosnya, "Mas, sudahi saja. Kita bisa lanjutkan nanti, meeting ini lebih penting daripada aktivitas kita," ujar Zena, dia berusaha meraih selimut tapi di saat berhasil meraih selimutnya, selimut itu langsung di buang oleh Steven,
__ADS_1
"Aku tidak bisa menundanya lagi sayang,"
"Juniorku lebih penting, meeting bisa aku tunda 10 atau 20 menit," jawab Steven memasukan senjatanya dan mulai menghentakkan pinggulnya ke atas bawah.
"Aahh ... Mas," desaaahan itu lolos kembali dari bibir mungil istrinya, membuat Steven tersenyum. Dia semakin menggoyangkan pinggulnya agar istrinya semakin melayang dan sesekali mengusap keringat di wajah cantik istrinya.
"Terruss Mas,"
Di luar kamar pribadi Steven, sekertaris Nanda terus mengetuk pintu karena waktu meeting 5 menit lagi.
Tok ... Tok ...,
"Tuan!" ujar sekertaris Nanda halus.
"Bukankah tadi aku sudah memperingatkan mereka jika 10 menit lagi akan ada meeting, tapi kenapa sampai sekarang mereka belum keluar kamar juga, ini sangat membosankan sekali. Aku harus memberi alasan apalagi kepada klien luar," gumam sekertaris Nanda dalam hati sambil menahan kesal.
Dia berjalan dan menunggu Tuannya di sofa ruangan sambil sesekali melirik jam dan kamar pribadi Tuan nya.
Di saat sekertaris Nanda sedang menunggu Tuan nya, tiba-tiba pintu ruangan Steven terbuka, dan munculah sosok anak kecil yang sedang berjalan ke arahnya dan diikuti oleh Jeff di belakangnya.
"Om, Daddy dan mommy mana?" tanya Rio yang menggenggam hasil ulangannya.
"Tuan kecil Rio, silahkan duduk. Daddy dan mommy Rio sedang ada urusan sebentar," jawab sekertaris Nanda malas, dia melirik jamnya lagi, "Ini sudah telat 1 menit," gumam sekertaris Nanda dalam hati.
"Tapi di mana Daddy, Om?"
"Kenapa di sini sepi sekali," sambungnya lagi.
"Daddy sedang tidur, dan Om sedang menunggu daddy bangun," ketus sekertaris Nanda, dia mengetikan sesuatu di layar ponselnya.
"Tidur? kenapa tidak dibangunkan saja jika ada urusan penting, biar Rio yang membangunkan," ujar Rio beranjak dari tempat duduknya.
"Apa Rio mau membangunkan daddy?"
"Iya, kasihan Om menunggu terlalu lama," jawab Rio enteng membuat senyum sekertaris Nanda terbit.
Bersambungš
__ADS_1