
Dengan lahap Zena memakan es cream rasa coklat itu, tak ada setengah jam dan es cream itu sudah habis tak tersisa.
Setelah selesai memakam es krim, tiba-tiba hawa kantuk menyerangnya, Zena merebahkan tubuhnya lagi ke kasur empuknya dan mulai tertidur memasuki alam mimpinya
Melihat Zena sudah tertidur pulas, Dave menghampiri dan membenarkan selimutnya, karna dia baru saja kembali menyimpan es krim milik Zena
Tak ada henti-hentinya Dave mengusap kening Zena, pandangannya begitu dalam, melihat teman wanitanya disakiti oleh suaminya tiba-tiba ada perasaan iba yang menyelimuti hatinya
Drttt... Drttt
Ponselnya Dave berdering, Dave langsung merogoh sakunya dan melihat panggilan dari ibunya yang berada di Amerika
"Bagaimana? Kamu jadi kan terbang besok?" Ujar ibu Dave pada putranya saat panggilannya sudah terhubung
"Jadi bu, aku sudah membeli tiket siang tadi...dan aku juga sudah menjual caffe aku yang disini"
"Ibu tunggu kamu Dave, sekarang beristirahatlah pasti hari sudah sangat larut di sana"
"Iya bu"
Panggilan berakhir, dan Dave memasukkan ponselnya kedalam saku dan mengeluarkan amplop putih yang berisi tiket pesawatnya
"Aku harus pergi, setidaknya sampai keadaan ibu stabil, tapi bagaimana dengan Zena?? " Gumam Dave sambil melihat tiket yang dia pegang,
Semakin Dave masuk kedalam lamunannya, semakin mata Dave mengantuk, dan akhirnya mata Dave terpejam dengan lengan Dave menjadi bantal untuk kepalanya, dan tangan satunya memegang tiket pesawat
***
Pagi hari yang cerah dengan suasana hati yang buruk, itulah yang dirasakan Steven, semalaman tak tidur memikirkan keberadaan Zena yang entah dimana,
Bahkan anak buahnya sudah mengecek setiap rumah sakit, tapi tak ada yang berhasil menemukan istrinya
Huek.. Huek..
Steven merasakan perutnya mual, dia berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan isi di perutnya,
"Apa aku sakit?" Gumam Steven dengan wajah kusutnya,
Huek.. Huek...
Dari arah belakang, Steven merasakan ada yang memijat lehernya, membuat dia langsung menyalakan kran dan membasuh bibirnya
"Untuk apa kau kemari!
"Cepat cari istriku!! " Ujar Steven yang menepis tangan sekertarisnya itu.
Tubuhnya terasa lemas dan wajahnya sangat pucat, sejak pagi tadi dia merasakan mual di perutnya, berulang kali dia bolak balik ke kamar mandi tapi tidak memuntahkan apa-apa
"Maaf Tuan, saya hanya ingin memberitahu bahwa sarapan pagi sudah siap, dan Tuan kecil Rio sudah menunggu Tuan dibawah"
Steven berjalan keluar kamar mandi "Bilang pada Rio, suruh dia sarapan dulu, aku sedang tidak nafsssu makan" Jawab Steven cepat, lalu perutnya merasa mual lagi dan dia berlari masuk kedalam kamar mandi membuat sekertaris Nanda cemas,
__ADS_1
"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter? " Ujar sekertaris Nanda yang tak tega melihat bossnya menderita
"Tidak perlu! Sekarang kau cari dimana istriku berada!
"Cepat pergi!!! " Pekik Steven emosi, dia mendorong tubuh sekertarisnya keras, emosinya sedang tidak bisa dikontrol karna kehilangan istrinya
"Ta-tapi Tuan, bagaimana jika Tuan sakit lalu Tuan tidak bisa ikut mencari Nyonya Zena, atau bagaimana jika Nyonya Zena kembali lalu melihat Tuan sakit, pasti Nyonya akan menertawai Tuan
"Sebaiknya kita turun untuk sarapan lalu setelah itu saya akan pergi mencari keberadaan Nyonya" Titah sekertaris Nanda lagi
Setelah berfikir panjang dan cacing di perutnya juga sudah meminta demi, akhirnya Steven bersedia turun menuju meja makan,
Steven keluar kamar dengan pakaian kerja yang sedikit lusuh dan berantakan, tak ada semangat ataupun senyuman yang terbit di kedua sudut bibinya
Setelah sampai di meja makan, Steven langsung duduk di kursi tanpa mengecup atau memberikan sapaan selamat pagi pada anaknya yang sedang menyantap makanannya
"Morning Dad! " Ujar Rio lalu menoleh kebelakang mencari keberadaan mommynya
"Dad" Seru Rio saat tidak melihat kehadiran Zena
"Mommy mana Dad? " Tanyanya lagi
"Biasanya mommy datang bersama Daddy? " Sambungnya sambil meletakkan sendoknya karna makanannya sudah habis
Melihat mood Tuan mudannya tidak sedang baik-baik saja, sekretaris sekretaris Nanda yang tidak pulang karna menjaga Steven pun memanggil bibi untuk membawa Rio yang telah selesai menyantap sarapan paginya
"Bi, bawa Rio masuk kedalam kamar" Ujar sekertaris Nanda yang diangguki bi sari, sejujurnya bi sari bingung dengan apa yang sedang terjadi tapi semua orang terlihat bungkam
"Lepaskan aku bi! Aku mau bertemu dengan mommy hiks...hiks... " Sambungnya sambil memberotak turun dari gendongan bibi
"Cepat bawa Tuan Tuan kecil masuk bi! " Tegas sekertaris Nanda saat melihat Tuannya bangkit dengan tangan mengepal, dia takut Steven akan melampiaskan kemarahannya pada anaknya
"Baik, ayo kita ke kamar Tuan kecil"
"Bi! Rio gak mau ke kamar! Rio mau ketemu sama mommy hiks...hikss...perasaan Rio dari semalam tidak enak bi!! " Ujar Rio merosotkan dirinya
"Daddy!!! " Teriak Rio saat bi sari membawanya masuk kedalam lift
Prangg...
Brugh...
Steven menyingkirkan benda kaca yang berada di atas meja makannya lalu menendang kursi disekitarnya, membuat sekertaris Nanda memundurkan langkahnya
"Apa kau sudah menemukan keberadaan istriku" Pekik Steven frustasi
"Maaf Tuan"
"Saya beserta anak buah saya belum menemukan keberadaan Nyonya Zena, sebaiknya Tuan memakan sarapan pagi Tuan agar tubuh Tuan tidak sakit" Ujar sekertaris Nanda yang perlahan menghampiri Steven
"Apa kau bilang!!! Istriku di luar sana sedang hilang!! Bahkan aku tak tahu dia sudah makan atau belum, dan sekarang aku harus tenang dan memakan sarapan pagiku hah!
__ADS_1
"Apa kau gila!!
"Aku sudah pernah kehilangan istriku dulu dan sekarang!! Aku harus kehilangannya lagi!! Ini tidak adil untukku!! " Seru Steven dia berjalan menyambar kunci mobilnya lalu berlari masuk kedalam mobil mewahnya
Sekertaris Nanda yang berusaha mengejarnya pun kewalahan, dia berusaha mengetuk kaca mobil Tuan mudanya agar tak menyetir sendirian dalam keadaan seperti ini
Seakan tuli, Steven menancapkan gassnya full membuat sekertaris Nanda tak seimbang dan hampir saja terjatuh, setelah bisa mengontrol dirinya, sekertaris Nanda langsung masuk kedalam mobilnya dan mengejar Tuan nya
"Kau!! Kenapa kau pergi!!"
"Sekarang kau dimana!! " Ujar Steven frustasi dia membunyikan setiap menit klaksonnya saat ada mobil yang mengganggu perjalanannya
Di dalam mobil sekertaris Nanda, dia berusaha menghubungi Tuan mudanya tapi tak bisa, melihat mobil yang dikendarai Steven mengebut ugal-ugalan membuat hati sekertaris Nanda cemas,
Drtt... Drtt
Ponselnya berdering, sekertaris Nanda langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa pemanggil tersebut
"Dimana Steven! " Ucap wanita paruh baya itu
Mata sekertaris Nanda membulat, dia melihat layar ponselnya memastikan bahwa penelfon itu bukan dari tante Tesa, ibu dari Tuan Mudanya
"Maaf Nyonya besar, Tuan Steven sedang-" Ucapannya terputus saat Tesa menimpali dengan cepat
"Apa yang terjadi hah! Kenapa Rio mengadu padaku kalau mommynya tidak ada dirumah, sebenarnya apa yang terjadi! "
"Maaf Nyonya aku ti-"
"Cepat jelaskan!! Atau aku akan kembali ke Indonesia sekarang juga meninggalkan Jack yang terbaring dirumah sakit"
"Anu...maaf Nyonya...Nyonya muda Zena hilang dan sekarang Tuan Steven sedang mencarinya"
"Apa! " Pekik Tesa yang langsung mematikan telfonnya membuat sekertaris Nanda dongkol karna baru saja dia mau menjelaskan dengan detail perihal hilangnya Nyonya mudannya
Di dalam perjalanan, Steven melihat ponselnya bergetar, dia mengambil lalu menyambungkannya dengan earphone
"Sayang, aku sudah di depan kantormu, aku mau mengajakmu breakfast" Ujar Sheila dengan nada lembutnya
"Aku tidak bisa" Ketus Steven mematikan sambungannya
Drttt... Drttt..
Steven langsung melihat ponselnya lagi lalu dia mengabaikannya, fikirannya hanya satu yaitu istrinya
"Kau dimana Zen, bagaimana keadaanmu" Gumam Steven cemas.
Di sebuah rumah sakit, Zena yang sudah diperbolehkan pulang pun telah siap,
"Aku antar kamu kerumah? " Tanya Dave ragu
Bersambung😘
__ADS_1
Maaf gaes, aku up sorean karna suasana hati lagi buruk😇