Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 120_Lutis buatan Daddy


__ADS_3

"Boleh!" Jeff berbicara dengan antusias.


Sekertaris Nanda tersenyum lalu mencubit lengan Jeff, "Jika kau ingin mati, silahkan!" ujar sekertaris Nanda membuat Jeff menggelengkan kepala.


"Hehe Nyonya, tidak jadi. saya takut jika Tuan marah," ujar Jeff.


"Mommy, Daddy tidak ahli dalam membuat bumbu," bisik Rio.


"Aku takut, jika mommy memakan bumbu buatan Daddy, perut mommy sakit. Dan kasihan adik Rio, Mom!"


"Lebih baik, kita suruh penjual lutis itu membuatkan satu porsi untuk mommy," ujar Rio bergidik ngeri saat membayangkan Daddy nya menumbuk bumbu-bumbu yang menurutnya sama sekali tidak halus.


"Jangan seperti itu Rio, kita harus menghargai usaha Daddy mu. Memang Rio sudah pernah merasakan masakan buatan Daddy?" tanya Zena yang mendapat gelengan dari Rio.


"Belum Mom, maksud Rio tidak enak Mom. Waktu itu pernah Daddy membuatkan telor mata sapi, dan ujung-ujungnya gosong. Tapi menurut Daddy itu tidak gosong hanya kelamaan di wajan," ucap Rio dengan wajah masamnya.


"Rasanya sungguh aneh. Rio tidak mau lagi dibuatkan makanan oleh Daddy, lebih baik Rio minta pada omah atau pelayan di rumah," sambung Rio lagi.


"Om Nanda dan Om Jeff. Rio minta, kalian yang mencicipi bumbu itu sebelum mommy,"


"Kasihan adik Rio, Om. Rio takut adik Rio sakit di dalam perut," pinta Rio membuat Jeff dan sekertaris Nanda saling memandang.


Sebelum Jeff dan sekertaris Nanda menjawab pertanyaan dari Rio. Tiba-tiba Steven datang dengan seporsi lutis yang berada di tangannya.


"Sayang," titah Steven duduk di samping istrinya yang sedang memakan es krim.

__ADS_1


"Sudah jadi Mas?" jawab Zena. Dia menghabiskan es krimnya lalu mengambil piring yang disodorkan suaminya.


"Mom," cegah Rio. Dia menahan tangan Zena.


"Sayang, apa kamu sudah mencicipinya?" tanya Zena pada suaminya.


Steven tersenyum kaku, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sudah sayang," jawab Steven cengengesan.


"Tapi enak kok rasanya," sambungnya lagi.


"Bener Mas?"


"Kamu gak bohong kan?" tanya Zena curiga.


"Tidak sayang, kalau tidak percaya biar aku memakannya di depanmu," ujar Steven mengambil sendok dan memakan lutis itu.


Perlahan Zena memasukan potongan buah itu ke dalam mulutnya,


"Bagaimana? Enak kan?" tanya Steven pada Zena. Dan Rio, Jeff dan sekertaris Nanda merasakan hawa buruk karena ekspresi Zena yang datar.


"Bagaimana Mom, enak tidak?" tanya Rio pada mommynya.


Zena tersenyum, dia menganggukan kepalanya dan mengambil potongan buah itu beserta bumbunya lagi, "Enak sayang. Ini enak banget, Rio harus cobain deh!" titah Zena membuat Rio mengambil tusuk gigi dan menancapkan pada potongan buah tersebut.


"Bagaimana? Enak kan?" tanya Zena saat anaknya memasukan potongan buah itu kedalam mulutnya.

__ADS_1


Rio mengerutkan kening lalu menganggukan kepalanya, "Enak Mom, Daddy pintar membuat lutis,"


"Lebih baik daddy berganti profesi saja atau merangkap menjadi penjual lutis di kantor, pasti laku," sambung Rio membuat Jeff dan sekertaris Nanda terkikik.


"Om, kenapa tertawa?"


"Apa ucapan Rio salah?"


"Dan apa Om ingin mencicipi lutis buatan Daddy?" tawar Rio yang diangguki kedua pria tersebut.


"Apa boleh?" tanya Jeff pada Rio


"Boleh Om, boleh kan Dad!" tanya Rio pada Steven.


"Tidak, ini khusus buat mommy, tidak boleh untuk Rio ataupun Om Jeff!" larang Steven.


"Jika untuk ramai-ramai maka akan cepat habis, dan bisa-bisa aku disuruh membuatkannya lagi,"


"Padahal bumbu itu bukan buatanku melainkan buatan pedagang itu karena bumbuku rasanya sangat aneh," gumam Steven dalam hati. Dia melototkan matanya tajam ke arah Jeff dan sekertarisnya.


"Biarkan saja Mas, kita makan bersama. Jika kita kurang, aku akan menyuruh Mas Steven lagi untuk membuatkan lagi," ujar Zena membagikan lutis itu pada Jeff dan sekertarisnya.


"Ta-tapi sayang," ucapan Steven terpotong saat Rio menimpalinya dengan cepat.


"Aku rasa ini aneh Mom, tadi aku lihat ... bumbu ini tidak halus, dan gula merahnya juga masih kelihatan tapi kenapa sekarang semuanya jadi halus dan rasan sangat enak ya?" tanya Rio mendapat gelengan dari Zena.

__ADS_1


"Jangan difikirkan lagi sayang." ujar Zena.


"Oh iya Mas, boleh dong, setiap hari dibuatkan bumbu lutis seperti ini"


__ADS_2