Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 210_Darah


__ADS_3

"Sabar sayang, sebentar ya. Daddy panggilkan mommy mu dulu," ujar Steven, kemudian berjalan mencari keberadaan istrinya di kamar putranya.


Krek ...


Pintu terbuka, Steven mulai melangkahkan kaki lebarnya ke dalam kamar putranya.


"Dimana mereka? Zena bilang, kalau dia akan menemui Rio, tapi kenapa aku tidak melihat mereka?" gumam Steven yang mencari keberadaan istri dan anaknya di dalam kamar putranya.


"Rio?"


"Rio? Kamu dimana sayang? Apa mommy mu kemari?" teriak Steven yang tak mendapat jawaban.


"Kemana mereka pergi?" sambungnya lagi.


"Rio?"


Merasa tak ada orang di kamar putranya, Steven berjalan keluar kamar, dia mencari keberadaan istrinya di lantai dasar.


"Sayang?"


"Zena?" ujar Steven setelah sampai di lantai dasar, "Zen, anakmu menangis. Aku tidak bisa mengganti popok, cepat keluar! jangan becanda?" ujar Steven.


"Bi, Bi Sari?"


"Kenapa rumah ini terlihat sepi sekali?"


"Apa ada orang? jika ada orang, kemarilah! Aku membutuhkan bantuan kalian! jangan bersembunyi!" teriak Steven mulai frustrasi.


Oek ... Oek ...

__ADS_1


Samar-samar Steven mendengar suara tangis anaknya. Segera dia berlari menaiki anak tangga menuju lantai tiga.


"Sayang?" ucap Steven, kemudian mengambil popok dan perlengkapan bayi lainnya. Ponselnya sudah dia letakan di dekat box bayi.


"Maafkan Daddy nak, sekarang Daddy akan mengganti popokmu, ya sayang. Daddy, akan menonton tutorial di yutub," ujar Steven.


Setelah berhasil mengganti popok, Steven mengambil putranya dalam box bayi, dan dia berusaha mencari keberadaan istri serta anaknya yang tiba-tiba menghilang.


"Sayang?"


"Rio? Kalian dimana?" ujar Steven.


'Apa Zena marah, dan dia berinisiatif mencari keberadaan Leo seorang diri? Tapi, kemana perginya Rio, dan kenapa Bi Sari juga tidak ada? Kemana perginya semua orang?' gumam Steven dalam hati, tangannya menepuk-nepuk bokong baby Evan agar tenang dan tertidur.


Setelah beberapa menit mencari keberadaan seluruh orang di rumahnya, Steven menemukan setiap tetesan darah yang mengarah pada pintu belakang rumahnya.


Tiba-tiba perasannya tertuju pada anak dan istrinya. Rasa cemas dan khawatir semakin menyelimuti dirinya, di saat dia melihat alas kaki milik istrinya tergeletak di rerumputan halaman belakang rumahnya.


"Cepat kemari! dan cepat cari istriku!" ujar Steven, matanya mulai memerah.


"Ada apa, Tuan? Memangnya, apa yang terjadi dengan istri Tuan?" tanya sekertaris Nanda.


"Cepat! aku tidak butuh pertanyaanmu. Bawa beberapa anak buahmu untuk berjaga di sekitar rumahku," titah Steven kemudian menutup telfonnya.


"Sayang, Rio, kalian dimana? Siapa yang berani menyelusup rumahku. Sepertinya, aku tidak memiliki musuh," gumam Steven kemudian membawa putranya memasuki rumahnya.


Setelah menunggu 30 menit. Akhirnya mobil sekertaris Nanda terparkir dengan beberapa mobil anak buahnya yang di minta Steven.


Kakinya melangkah sangat cepat, saat melihat rumah majikannya yang terlihat sepi.

__ADS_1


"Tuan, Tuan!" teriak sekertaris Nanda saat memasuki rumah Steven yang tak dikunci.


"Diam! kau bisa membangunkan putraku yang sedang tertidur," ujar Steven yang sedang menggendong putranya.


"Ada apa, Tuan?" tanya sekertaris Nanda.


"Zena dan lainnya hilang. Aku menemukan bercak darah di belakang rumah. Tolong, kau periksa lalu lacak keberadaan istriku," ujar Steven mengejutkan Nanda.


"Apa? Tuan tidak becanda, kan?"


"Mana mungkin aku becanda, Nanda! istriku hilang! putraku juga hilang!"


"Cepat cari istri dan anakku! aku tidak bisa kehilangan mereka!"


"Baik Tuan. Tuan yang tenang, kami akan menyelidiki masalah ini,"


"Dan sebaiknya, baby boy di letakkan di box bayi. Biarkan dia tidur," titah sekertaris Nanda.


"Apa kau gila! ha! Aku tidak mungkin meninggalkan putraku di box bayi! Aku sudah kehilangan istri dan putraku!" teriak Steven, yang membangunkan baby Evan tertidur.


"Tuan, anda yang tenang. Baby boy bangun, kecilkan suara Tuan," ujar sekertaris Nanda.


"Aku tidak bisa tenang, Nanda. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka!" ujar Steven, kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Kita bisa cek melalui CCTV rumah?"


"Lihat! CCTV sudah tidak ada. Aku yakin, pasti ada musuh di dalam rumahku ini. Tapi, siapa itu!"


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Anda yang tenang, kami akan--"

__ADS_1


"Aku tidak bisa tenang, Nanda!" potong Steven cepat.


Bersambung😘


__ADS_2