
'Hatimu benar-benar baik, Ir. Aku semakin tidak tega, melukai perasaan mu, ' batin Jack.
"Maaf, Nona dan Tuan, ini makanan dan pesanan anda," ucap pelayan yang baru saja tiba di meja Irma dan Jack.
"Terimakasih, Mbak," jawab Irma sambil tersenyum.
'Kenapa, kenapa aku harus bermain-main dengan wanita baik sepertinya. Bagaimana jika Jeff sadar? Bagaimana jika Irma mengetahui, jika aku bukan Jeff. Pasti mereka berdua sangat marah dan kecewa denganku,' batin Jack.
***
"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu kusut?" tanya Zena saat melihat kepulangan suaminya.
"Dad! di mana iPad Rio! Rio ada tugas sekolah!" seru Rio yang baru saja keluar lift.
"Rio sudah meminta maaf pada Daddy, tapi kenapa iPad Rio tetap di sita!" gerutunya.
"Siapa yang menyita iPad Rio, sayang?" tanya Zena menepuk kursi sebelah nya yang kosong.
"Siapa lagi, kalau bukan Daddy, Mom," ketus Rio menjatuhkan bokongnya di dekat Zena.
"Hukuman untuk anak nakal yang hobinya bermain game dan berkelahi di sekolah, uang jajan akan Daddy potong 50% dan iPad akan Daddy sita selama sebulan," ujar Steven menjatuhkan bokongnya di sofa samping istrinya yang kosong, sambil kepalanya dia senderkan ke pundak istrinya.
"Rio berantem di sekolah?" tanya Zena tidak percaya, "Apa yang dikatakan Daddy becanda kan, sayang?" tanya Zena menatap wajah Putranya yang lesu.
"Benar Mom, tapi aku hanya menegakkan keadilan saja. Aku tidak mau ditindas oleh geng yang tidak mempunyai perasaan, hobinya memeras teman lainnya," jawab Rio membela diri.
"Tapi, jangan menggunakan kekerasan, sayang. Rio bisa meminta bantuan Daddy atau melaporkan tindakan teman-teman Rio yang jahat itu pada wali kelas, Rio!" timpal Steven cepat, tangannya melingkar pada pinggang istrinya,
"Semakin membesar saja perutmu," gumam Steven masih bisa di dengar oleh Zena.
"Mom, ambilkan iPad Rio. Rio mau bermain game, Rio sudah berjanji pada Cassandra dan Om Nanda akan bermain game bersama," ucap Rio mengejutkan Steven.
Steven langsung membenarkan posisinya dan menatap Putranya.
"Om Nanda? Apa yang mengajari Rio bermain game itu Om Nanda?" tanya Steven penasaran.
__ADS_1
"Iya, Dad! kata Om Nanda biar ada kerjaan dan tidak mengganggu Daddy dan mommy. Sekarang, berikan iPad Rio, Dad!" rengek Rio.
"Sialaan! ternyata penyebabnya ada di dia! Pantas saja, Rio selalu menurut jika di dekatnya," umpat Steven lirih.
"Lalu siapa lagi? Siapa yang mengajari Rio bermain game?" tanya Steven penasaran.
"Sabar Mas, anak kecil seperti Rio adalah korban. Dia hanya ingin mematuhi perintah dari orang terdekatnya saja, Mas," ujar Zena mengusap punggung suaminya.
"Em ... Om Jeff, Om Jack, sudah ... mereka semua yang selalu mengajarkan Rio, sampai Rio selalu menjadi juara di area permainan. Dan satu hal lagi, Rio sekarang sudah mempunyai cita-cita yaitu menjadi pemain game terkenal," ucap Rio polos membuat Zena menelan saliva nya susah, karena melihat raut wajah suaminya yang sudah berubah seperti iblis
"Di mana Jack!" tanya Steven pada istri dan anaknya.
"Jack pergi Mas, dia meminta izin padaku untuk menemui dokter Irma,"
"Mas yang sabar, mereka semua mempunyai alasan tersendiri, dan Mas harus mendengarkan alasannya," ucap Zena.
"Dad, iPad Rio," rengek Rio.
"Mom, ambilkan iPad Rio," titah Rio pada Zena, tangannya sudah menarik lengan baju Zena.
"Tapi Mom, aku sudah ditunggu oleh Om Nanda."
"Itu tidak akan, sayang. Om Nanda masih bekerja dan Om Nanda akan ke sini, sekarang Rio tidurlah. Ini sudah malam," titah Zena, "Mommy berjanji, akan mengembalikan secepatnya iPad Rio," sambung Zena yang berusaha meyakinkan putranya.
"Janji Mom,"
"Janji sayang, sekarang Rio tidur, ini sudah malam. Jangan membiasakan diri untuk begadang, atau mommy tidak mau membujuk Daddy untuk memberikan iPad Rio lagi," ancam Zena secara halus.
"Iya Mom, Rio janji, Rio tidak akan begadang, tapi besok pagi ... iPad Rio sudah ada di kamar Rio, ya Mom," pinta Rio mengecup pipi Zena dan berjalan menuju pintu lift.
"Mom, Dad! goodnight," teriaknya sebelum pintu lift itu tertutup.
Setelah melihat pintu lift tertutup, Zena langsung menenangkan hati suaminya
"Mas, ingat, jangan memarahi mereka semua. Dengarkan penjelasan dari mereka," ucap Zena.
__ADS_1
"Kamu membela mereka? Kamu membela orang yang sudah meracuni otak anakku?" tanya Steven tidak percaya, napasnya terasa sesak.
"Dia bukan anakmu saja, tapi dia juga anakku, Mas."
"Aku sudah menelfon Nanda dan memerintahkannya kemari, enak saja ... dia meracuni otak anakku dengan game tidak jelas," gerutu Steven.
"Mau aku buatkan minum tidak? Seperti teh atau kopi?" tanya Zena.
"Tidak perlu, ada Bi Sari yang bisa membuatkannya. Aku tidak mau kamu kecapean," ujar Steven.
"Tapi Mas--"
"Tidak perlu sayang, aku tidak haus. Aku hanya butuh kamu di sini untuk menemaniku," timpal Steven cepat.
"Ya sudah, aku menurut saja. Kamu sudah menghubungi siapa saja Mas?" tanya Zena meluruskan kakinya yang terasa pegal di atas pangkuan suaminya.
"Jack dan Nanda. Dua orang itu, harus diberi pelajaran, agar tidak berbuat semena-mena. Pantas saja, Rio tidak mau diantar oleh ku dan memilih Jack untuk mengantarnya. Jadi, ini alasannya," ucap Steven.
"Aku harap, anak-anakku kelak, tidak pernah meniru perilaku Rio yang seperti itu," sambung Steven lagi.
"Mas, cukup Mas, jangan banding-bandingkan Rio dengan anak-anak kita. Aku tidak mau Rio kecewa atau bersedih," ucap Irma tidak setuju dengan ucapan suaminya.
"Siapa yang membandingkan sayang, aku hanya tidak percaya dengan Rio. Kau tahu, di sekolah Rio bertengkar karena membela teman wanitanya yang di peras oleh temannya. Aku sampai-sampai mengeluarkan kepala sekolah itu, karena terlanjur kesal dengan sikap kepala sekolah yang lebih membela lawan Rio yang terluka," curhat Steven.
"Apa! mengeluarkannya Mas? Ada hak apa, Mas mengeluarkan kepala sekolah itu? Jangan bilang, Mas mempunyai saham atau--"
"Sekolah itu aku yang mendirikannya. Aku sudah buatkan khusus untuk anak-anakku kelak. Dan aku tidak ingin, reputasi sekolah ku hancur karena kepala sekolah yang tidak adil itu," timpal Steven yang mengejutkan Zena.
"Mas, Mas punya sekolahan juga?" tanya Zena tidak percaya, "Sejak kapan, Mas mempunyai sekolahan?"
"Sejak kapan? Emm ... sejak kapan ya? Aku lupa," jawab Steven mengusap perut istrinya yang buncit.
"Maafkan aku, jika aku tidak menceritakan semuanya tentang hartaku, tapi aku tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Kejadian di mana aku dimanfaatkan oleh Dinda," sambung Steven.
"Oh, jadi ... sedari dulu, Mas tidak percaya padaku, dan menganggap ku seperti Mbak Dinda, yang hanya ingin harta Mas saja? Begitu?" ucap Zena dengan kecewa.
__ADS_1
Bersambungš